
Diana pun masih tertegun sejenak, dia masih merasakan gemetar atas apa yang ia temukan barusan. "Kenapa pil kontrasepsi ini ada di dalam saku celana Bli Fikri? Ada apa ini ya Allah? Apa dia mengkhianati pernikahan kita?" berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya.
Diana menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Dia ingin menangis saat ini. Bolehkah dirinya kecewa? Bolehkah dirinya marah? Bolehkah dirinya sakit hati? Bolehkah dirinya merasakan pilu atas apa yang saat ini ia temukan di balik saku jaket suaminya?
Meski dia belum mencintai Fikri, belum sepenuhnya mempercayai pria berkulit hitam manis memiliki lesung pipi itu, tapi Diana sudah berkomitmen untuk membina rumah tangga bersamanya. Ia bahkan memberikan kepercayaan kepada Fikri bahwa pria itu tidak mungkin melakukan penghianatan di belakangnya. Tapi apa yang ia temukan? Sebuah obat pencegah kehamilan bagi setiap wanita.
Lantas, siapakah wanita itu? Sampai manakah hubungan mereka berdua? Hanya sebatas kekasih yang sering melakukan zina atau suami istri tanpa sepengetahuannya? Diana sungguh di buat sakit hati sebelum jatuh cinta lagi. Lagi-lagi dirinya merasakan sebuah pengkhianatan suaminya. Pengkhianatan yang juga dulu ia terima dari suami pertamanya dan kini ia terima dari suami keduanya.
"Ya Allah, kenapa engkau memberikan cobaan seberat ini? Kenapa engkau memberikan cobaan hidup yang terus bersangkutan dengan penghianatan? Apa kesalahanku di masa lalu sehingga engkau memberikan rintangan seberat ini dalam Rumah tanggaku? Kesalahan besar apa yang aku perbuat sampai engkau selalu melibatkan suamiku dalam permasalahan penghianatan ini? Apa aku tak pantas bahagia? Apa aku tak pantas mendapatkan cinta? Apa aku tak pantas menjalin rumah tangga? Kenapa ini terjadi? Kenapa?" dalam hati terus bertanya seraya terisak kecil. Ia tak sanggup lagi menyembunyikan rasa sesak di dada di saat pengkhianatan kembali terjadi ke dalam rumah tangganya.
Setelah terdiam menangis pelan dalam kesendirian, Diana kembali mencoba berdiri melanjutkan kegiatannya melakukan pekerjaan rumah sebelum Baby A terbangun dari tidurnya. Untuk sementara waktu, Diana membiarkan ini dulu dan menyimpan temuannya. Bahkan, dia tidak fokus dalam mengerjakan tukasnya karena pikirannya sedang dalam kacau berantakan dengan hati tersayat perih.
Diana yang masih dalam masa nifasnya tidak perlu khawatir saat dirinya tidak mengerjakan ibadah salat subuh. Badan terus bekerja sedangkan pikiran ke mana-mana. Dia sampai salah memasukkan air yang seharusnya di tuangkan ke gelas malah ia tuangkan ke tempat pencucian piring.
Di saat airnya sudah habis barulah Diana sadar akan tindakan yang ia lakukan. "Astaghfirullah...! Aku sampai salah masukkan air panas," ujarnya menepuk jidat seraya menyimpan panci bekas memasak air.
Dia menghelakan nafas beras menunduk sedih. Gara-gara kepikiran pil itu, Diana sampai melamun dan salah mengerjakan tugas. "Ya Allah."
__ADS_1
Setelah mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari mencuci baju, mencuci piring, menyiapkan kopi, hingga membuat sarapan, Diana kembali bergegas ke kamar guna membangunkan Fikri dan berusaha menyembunyikan rasa sakit hati atas sebuah bukti yang belum pasti bukti kuat.
Baby A setelah pekerjaan Diana selesai, dan sekarang Baby A tengah di gendong Fikri yang sedang mencoba menenangkan bayi mungil itu yang tengah menangis mencari ibunya.
"Bli Fikri sudah bangun?" tanya Diana masih bersikap seperti biasa. Dia ingin mencari tahu lebih pasti siapa pemilik pil kontrasepsi itu.
"Iya, aku kebangun gara-gara Baby A menangis bangun mencari ibunya. Berisik banget. Tidurku menjadi terganggu oleh suara tangisnya," sahut Fikri dengan nada nampak kesal karena tidurnya merasa terganggu oleh kebisingan yang Baby A ciptakan.
"Maaf, Bli. Namanya juga anak kecil pasti nangis saat bangun," balas Diana mengambil Baby A dari gendongan Fikri. Dan seketika bayi itu langsung diam tidak menangis lagi. Mungkin perasaan anak kecil lebih peka terhadap sesuatu. Anak kecil akan tahu mana orang yang tulus dan tidak. Sekalipun itu adalah bayi berusia satu bulan.
Diana hanya diam saja tidak menjawab karena hatinya masih merasakan sakit atas penemuan yang ia temukan di balik saku. Namun, Diana masih berdiam belum mempertanyakan hal itu sebelum dia mengetahui siapa wanita itu. Dia berusaha bersikap biasa tapi hatinya terluka.
"Sepagi ini kamu kemana saja, Diana? Baby A sampai di tinggalkan sendirian, merepotkan ku saja. Kenapa tidak kau berikan kepada ayahnya saja? Masih saja mengurus bayi itu."
Diana yang sedang menunduk menimang-timang putranya terhenyak. "Kamu kan tahu setiap hari, setiap pagi aku selalu melakukan tugas ku sebagai seorang istri. Mencuci, memasak, mengepel, hingga mengurus Baby A pun aku yang urus."
"Apa...?! Ka-kamu mencuci? Dimana jaket jeans ku?" Fikri langsung turun dari ranjang mencari jaket yang ia kenakan kemarin. Seketika dia panik dan khawatir sesuatu yang ada di dalam saku jaketnya di ketahui oleh Diana. Fikri mencarinya di setiap sudut kamar itu. "Dimana jaket itu, Diana?"
__ADS_1
"Jaketnya sudah aku cuci dan sudah ku jemur juga," jawab Diana dengan sampai seraya memperhatikan tingkah Fikri yang begitu terlihat khawatir.
"Apa?! lalu kamu..." Fikri di buat mematung menyadari jika Diana pasti tahu pil kontrasepsi itu. Jantungnya berdebar tak karuan takut Diana mengetahui rahasianya.
"Kamu apa, Bli? Kamu itu aneh deh, sedari tadi wajahmu terlihat sangat panik dan khawatir mencari keberadaan jaket jeans kamu. Memangnya seberapa berharga jaket tersebut sampai membuatmu panik begini?" sebisanya Diana mencoba berkata tenang tanpa langsung berkata menanyakan tentang obat itu. Dia menunjukkan raut wajah ketidak tahuan dan kebingungan untuk membuat Fikri tidak curiga jika dia sudah tahu apa yang ditakutkan oleh pria itu.
'Pasti kamu mengkhawatirkan pil itu sampai ke tangan ku," gumam Diana dalam hati.
"Ti-tidak, aku hanya bingung saja kenapa kamu sepagi itu mencuci baju ku? Padahal bisa siang saja," balas Fikri berdiri sambil tangan kanan memegang kepala bagian belakang. 'Semoga Diana tidak menemukan obat sialan itu,' batinnya.
"Mumpung Baby A masih tidur jadi aku melakukan pekerjaan rumah. Sekarang kita makan saja, aku sudah menyiapkan makanan untukmu." Dalam keadaan hati terluka saja Diana masih bersikap baik dan mau mengurus keperluan Fikri sebagai suaminya.
"Ah, iya. Tapi kamu tidak menemukan sesuatu di dalam saku jaket 'kan?" Fikri pun pada akhirnya menanyakan obat yang dia benci karena penasaran apakah Diana menemukan itu atau tidak? Dia ingin tahu Diana berkata apa. Matanya menatap lekat mata indah istri yang telah ia nikahi satu bulan yang lalu.
"Iya, aku menemukannya."
Deg...
__ADS_1