Talak Aku!

Talak Aku!
Melamun 1


__ADS_3

Zio menatap Fakhri dan Karin. "Papa saja yang makan! Aku sudah kenyang."


"Apa...!" Papa Fakhri memekik kaget atas permintaan sang putra. Bagaimana tidak shock, makanan yang diinginkan Zio merupakan makanan yang tidak pernah Ia sukai. Seumur-umur dirinya belum pernah mencicipi yang namanya karedok lenca, tahu gejrot, tumis pare. Untuk pertama kalinya Fakhri melihat secara langsung beraneka ragam 3 makanan tersebut.


"Kau jangan ngadi-ngadi, Zio."


"Ngada-ngada," sahut Karin dan Zio berbarengan membenarkan perkataan Papanya.


"Iya, itu. Kau jangan ngada-ngada, papa tidak menyukai semua makanan ini. Kan kamu yang menginginkannya kenapa malah papa yang disuruh makan?"


"Zio sudah kenyang, Pah. Menghirup aromanya saja sudah bikin perut kenyang dan rasa lapar, rasa pusing, serta rasa mual sudah hilang. Berhubung makanannya belum disentuh sedikitpun, berhubung makanannya masih banyak, sayang jika tidak dicicipi. Maka dari itu Zio meminta Papa untuk memakan makanan tiga ini." Tanpa rasa bersalah ataupun tanpa rasa kasihan, Zio ingin papanya lah yang menghabiskan makanan tersebut.


"Mana bisa begitu..."


"Pah, turutin saja keinginan anak ini. Ini demi kebaikannya dia juga kok. Tak apa kan sesekali makan semua ini. Buruan!" Karin menyela ucapan Fakhri yang akan protes. Dia tahu jika orang ngidam itu apa-apa harus diikuti dan apa yang tadinya tidak diinginkan pasti mendadak diinginkan dan pasti meminta sesuatu aneh-aneh.


"Tapi, Mah..."


"Stttt... ini demi si dia." Karin memberikan kode keras atas keinginan Zio. Fakhri menghelakan nafas menunduk lesu. Yang dimaksud dia dimengerti oleh Fakhri namun tidak dimengerti oleh Zio.


"Baiklah, demi dia papa akan mencoba memakannya."


Zio tersenyum senang, binar bahagia terlihat jelas dari wajahnya. "Habiskan ya, Pah. Semuanya, please." Zio memohon mengerjapkan mata berharap papanya mengabulkan keinginan dia.


"Apa...! Papa kira cuman icip-icip." Fakhri semakin lesu saja.


*****


"Cici, kapan kau kesini lagi? Rasanya sepi jika tidak ada kamu di sini. Meski banyak orang tapi aku merasa sendirian. Tidak ada yang menemani, tiada teman mengobrol, tiada orang di ajak bercanda. Aku kangen kalian di sana."

__ADS_1


"Sabar ya, bumil. Hari ini setelah ujian aku kesana dan akan berlibur di sana untuk menemanimu lahiran. Akhir-akhir ini aku disibukkan kegiatan perkuliahan yang membuat otakku bikin pusing tujuh keliling. Seandainya kamu ada di sini mungkin aku bisa menyontek padamu." Cici terkekeh mengingat kebersamaan itu. Dia sering menyontek pada Diana dan anehnya Diana selalu memberikan hasil contekannya meski terkadang suka ngomel karena Cici terlalu sering menyontek.


"Hahaha kau ini ingatnya cuman nyontek saja." Namun, seketika wajah Diana menjadi murung. Dia yang ingin mewujudkan cita-cita ibunya yang terakhir kali tidak bisa menggapainya. Semua yang telah diimpikan, semua yang direncanakan seketika sirna begitu saja hanya karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.


Cici menyadari perubahan wajah Diana. "Oi, kenapa wajahmu murung begitu? Ayolah Diana, ceria, move on, jangan biarkan masa lalu terus menghantui dirimu. Fokuslah ke depan menggapai impian indah bersama calon anak kelak."


Diana pun tersenyum meski hatinya bersedih. "Aku sedang berusaha untuk tetap tegar dan menjadi wanita kuat buat anakku kelak. Doakan aku ya semoga kuat menjalani hidup ini."


"Pastinya dong, apa sih yang enggak buat sahabatku ini. Tentu aku akan selalu mendoakan tyang terbaik buat kamu. Semangat besti." Cici memberikan semangat dan tangannya mengepal ke udara menunjukkan kalau Diana harus semangat menjalani hari-harinya.


"Semangat besti. Ci, aku tutup dulu, mau beres-beres buka toko. Hari Jum'at hari berkah dan semoga rezeki banyak di hari ini."


"Aamiin yarobbal'alamiin." ucap keduanya bersamaan.


"Ok, aku juga mau berangkat kuliah dulu biar cepat mau ke sana. Bye bumil assalamualaikum."


"Waalaikumsalam aunty," balas Diana melambaikan tangannya. Lalu mereka memutuskan sambungannya.


Diana duduk melamun ke kejadian beberapa tahun lalu. Tahun dimana dia harus kehilangan seluruh anggota keluarganya secara bersamaan. Dua bulan baru saja kehilangan ayahnya, dan Diana harus kembali menerima pil pahit kenyataan dimana kembaran dan ibunya pergi secara bersamaan.


FLASHBACK


"Diana, besok aku mau pindah sekolah ke sekolah elit. Kamu kapan nyusul aku kesana?" Diandra gadis cantik kembaran Diana begitu semangat mempersiapkan segala keperluan sekolahnya.


"Benarkah kamu di pindahkan ke sekolah terkenal itu?" Diana sangat syok mengetahui kembarannya pindah sekolah. Tapi hatinya sangat bahagia. Diandra mengangguk menangis terharu di pindahkan karena dapat beasiswa.


"Diandra, aku senang sekali. Semoga di sana kamu dapat teman yang baik-baik ya. Dan juga semoga betah di sekolahnya." Diana memeluk Diandra terharu atas keberhasilannya meraih beasiswa.


"Tapi aku tidak mau berpisah denganmu. Hanya kamu yang menjadi teman sekaligus saudaraku satu-satunya." Diandra bersedih mengingat perpisahan keduanya tidak akan lagi satu sekolah.

__ADS_1


"Kita akan tetap bersama di luar sekolah. Diandra."


Semenjak hari di terimanya Diandra ke sekolah elit dengan jalur beasiswa, Diana jadi sering terpisah dengan kembarannya sampai sore hari. Namun, baru saja dua hari masuk sekolah baru, Diana dan keluarganya mendapatkan sebuah kabar jika Diandra mengalami kecelakaan.


"Bu, kok Diandra belum pulang ya? Ini udah mau magrib. Tapi dia belum pulang juga." Diana terus mondar-mandir bagaikan setrika di gunakan pemiliknya.


Marni juga khawatir mengenai keadaan putrinya. "Ibu juga tidak tahu, Dee. Coba kita cari ke sekolahnya. Siapa tahu Diandra sedang ada tugas dadakan." sang ibu masih memiliki pikiran positif mengenai anaknya.


"Mana mungkin sekolah masih buka jam segini. Dimana-mana juga udah bubar dan kosong, Bu."


"Kita coba dulu, Diana. Ayo?" Marni pun menggandeng Diana mencari Diandra.


Mereka berdua menaiki angkutan umum menuju sekolah Diandra. Setelah hampir 20 menit, keduanya sampai di depan sekolah Mega menjulang tinggi tiga tingkat.


"Wow... sekolah nya keren sekali. Ini mah elite banget, Bu." Diana terkagum melihatnya.


Sedangkan Marni celingukan mencari seseorang berharap ada orang di sana untuk memberikan mereka informasi. "Sekolahnya sudah sepi. Tapi kenapa Diandra belum pulang juga?" Marni sangat khawatir. Wajahnya sudah panik.


Diana juga mencari orang hingga ia menemukan satpam di sana lalu mendekatinya. "Permisi, Pak. Kami mau tanya, apakah semua murid di sini sudah pulang?"


Satpam tersebut menatap Diana terkejut. "Kamu...! Bukannya Adek yang tadi di temukan tergeletak di jalan?"


"Maksud bapak?" tiba-tiba hati Diana gelisah.


"Dimana anak saya, pak?" Marni menyahuti mendengar perkataan satpam itu.


Seketika satpamnya mengerti kalau dua orang ini sedang mencari seseorang. "Tadi salah satu warga menemukan anak sekolah tergeletak di jalan dan wajahnya sangat mirip dengan adik ini karena saya juga ikut menyaksikannya."


"Apa...!?"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2