Talak Aku!

Talak Aku!
Kaget


__ADS_3

Fakhri begitu tergesa keluar dari area kampus sambil terus melihat pergelangan tangannya. Apalagi yang dia lihat kalau bukan jam yang terus berputar. Entah apa yang menyebabkan Fahri sampai terkesan seperti itu? Namun sepertinya terlihat sangat terburu-buru sekali.


"Pak Dekan mau kemana sampai terburu-buru seperti itu?" tanya salah satu dosen yang ada di sana.


"Mana saya tahu, dia kan pemilik kampus ini jadi tentu bebas bagi dia untuk keluar masuk dengan santai ataupun dengan tergesa."


"Tapi tidak biasanya Pak Fakhri begitu tergesa? Ah, sudahlah. Mending kita lanjut lagi untuk mengajar. Ayo, jangan berleha-lehah kalau tidak ingin dipotong olehnya."


"Ck, ya. Mana mau gaji saya di potong. Ini kan pekerjaan saya." Balasnya sambil berjalan bersamaan menuju ruangan kelas masing-masing.


******


Kediaman Fakhri


Setibanya di rumah, Fakhri langsung saja menemui istrinya.


"Mah, hari ini juga papa dan Rio akan ke Turki. Tolong siapkan beberapa baju buat kita!" pinta Fakhri sambil melonggarkan sedikit dasinya.


"Kenapa dadakan begini? Bukankah perusahaan di sana baik-baik saja? Dan kita kan mau menemani Diana di Bali. Usia kandungannya sudah memasuki 8 bulan 2 minggu kemungkinan Diana akan cepat melahirkan. Kasihan dia kalau tidak ada siapa-siapa di sana." Karin merasa heran suaminya begitu tergesa-gesa. Namun, tak urung juga dia mengikuti perintah suaminya.


Karin pun mengikuti Fahri masuk ke dalam kamar. Fakhri melepaskan kemeja yang bisa dari tadi melingkar di tubuh kekarnya dan menyimpannya ke atas kasur.


"Papa juga baru dapat kabar barusan jika ada meeting dadakan yang harus dihadiri oleh papa. dan ternyata Rio juga menjadi salah satu kelahian kita di Turki. makanya kita bakalan berangkat bareng bersama-sama dari sini."


Karin mengambil beberapa barang penting milik sang suami yang akan dibawa ke sana.


"Tapi Mama besok duluan ke Bali ya? mama sudah kangen dengan Diana, ingin melihat cucu kita juga dan Mama akan stand by di sana sampai nanti Diana melahirkan kalau perlu Mama akan bantu mengurus anaknya." Rasa sayang pada Diana membuat Karin ingin ada di samping Diana saat melahirkan nanti. Ingin menjadi salah satu orang yang ada di saat Diana dalam kesusahan.


"Iya, Papa izinkan Mama pergi duluan sampai batas waktu tak di tentukan yang penting cucu kita ada yang jaga. Karena mungkin juga bapak di Turki cukup lama ntar 1 bulan atau mungkin dua bulan untuk menghandle semua pekerjaan di sana."


"Mama mengerti, Pah. Semoga kerjaan Papa di sana cepat selesai."

__ADS_1


"Aamiin."


******


Kediaman Cici


"Pah, Cici akan tinggal bareng Diana dulu sampai melahirkan. Bolehkan? Lagian Papa juga mau kerja. Cici tidak mau sendirian di sini." Cici meminta izin terlebih dahulu pada papanya sebelum pergi ke Bali.


Gadis seusianya Diana itu baru saja pulang kampus tapi sudah bicara mengenai niatnya untuk ke Bali tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.


"Salam dulu sayang. Kamu kan muslim." Tegur Rio pada putrinya. Cici cengengesan.


"Hehehe maaf. Assalamualaikum Papa." Cici mengulanginya lagi sambil mencium tangan papanya sebagai tanda hormat.


"Waalaikumsalam. Nah, gini kan enak." tangan Rio mengusap kepala putrinya. "Papa tidak masalah jika itu bersama Diana. Papa akan mengizinkan asalkan kalian terus saling menyayangi layaknya saudara. Dan semoga keponakan mu lahir dalam selamat."


"Siap, Pah. Cici pasti akan terus menyayangi Diana. Aamiin Cici juga berharap kalau keponakan ku lahir selamat." Cici pun tersenyum memeluk Papanya. Lalu Cici melepaskan pelukannya dan dia pun berdiri.


******


Bali


Dengan hati yang riang gembira serta senyuman indahnya yang selalu menghiasai wajah cantik Diana, dia mengantarkan barang jualan penuh ke hati-hatian ke setiap peluangnya.


Dengan langkah pelan serta tangan kiri memegangi perut buncitnya, Diana mendekati salah satu rumah pembeli.


"Permisi, saya dari The florist mau mengantarkan pesanan." Namun tak ada orang yang menjawab meski Diana sudah menekan bel rumah.


Tapi dia tak sedikitpun menyerah, Diana kembali menekan bel tersebut dan kembali memanggilnya.


"Permisi. The Florist tiba." suaranya sudah mulai meninggi berharap sang penghuni rumah mendengar.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian pintu tersebut terbuka. "Iya, saya dengar kok."


Diana terbelalak mengetahui siapa orang itu. "Kamu..?!"


"Hai..." orang itu tersenyum manis semanis gula seraya mengerlingkan mata genitnya.


"Kamu lagi, kamu lagi. Enggak dimana-mana, enggak di sana, enggak di sini kamu selalu ada. Bagaikan hantu nongol terus." Diana mendengus kesal sampai tangannya terkepal kuat ke hadapan pria itu.


Bagaimana tidak kesal, ternyata yang memesan bunganya lagi lagi si kutu kupret Fikri Rizaldy si pemilik lesung pipi bikin Diana kesal tujuh keliling. Diana pikir Fikri tidak ada di sini karena yang ia tahu rumahnya bukanlah di sini.


Entah kebetulan atau memang kesengajaan yang tidak sengaja, keduanya di pertemukan kembali di tempat berbeda.


Fikri mengambil tangan Diana yang ada di udara. "Isss kamu gemesin kalau lagi marah-marah begini. Ingin banget aku..." Fikri menggantung ucapannya karena merasa tak ingin berkata yang membuat Diana semakin tidak menyukainya. Namun, mata Fikri tak bisa membohongi arah pandangan jika mata pria hitam manis berlesung pipi itu tertuju pada salah satu bagian wajah Diana yang bikin ia terus menikmatinya.


"Aku apa, hah?" Diana sampai melototkan mata dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Fikri.


Pria itu nampak tersenyum penuh arti dan Diana tidak tahu arti senyuman itu. Namun, dia merasa ada hal yang akan terjadi karena hatinya meminta dia untuk pergi dari sini.


"Lepas! Aku mau pulang saja daripada meladeni pria rada-rada seperti mu."


"Isssh, kau itu bikin aku kesal saja." Fikri menarik tangan Diana ke depan sampai wanita hamil itu terhunyung pada dada pria itu. Dan Diana kembali terbelalak di kala dengan berani Fikri mengecup bibirnya.


"Apa yang kalian lakukan?" pekik salah satu warga di sekitar.


Diana semakin terkejut dengan mata berkaca-kaca karena telah melakukan dosa. Dan Diana juga terkejut ada orang lain memergokinya. Dia takut orang pada berpikiran negatif.


"Ini tidak..." Diana ingin menjelaskan tapi malah langsung di timpal lagi.


"Kalian pasti sedang mesum, ya? Dasar janda penggoda dan mantan duda. Jadi begini kelakuan berdua. Sungguh perbuat yang sangat hina."


"Mbak, ini tidak seperti yang mbak lihat. Ini..."

__ADS_1


"Halah... kalian pembuat zina, pasti anak yang kau kandung itu hasil zina kan?"


__ADS_2