
"Ini berbahaya bagi wanita itu. Kau akan tiba-tiba marah di saat sesuatu yang kau inginkan tidak tercapai." Dokter itu orang yang sering menangani Fikri. Jadi dokter itu tahu betul apa yang harus di lakukan oleh orang yang ada di sekitarnya agar Fikri tidak kembali berbuat ulah. Orang yang tidak tahu jika Fikri memiliki dua kepribadian pasti mereka merasa heran. Satu sisi, Fikri akan menjadi sangat baik dan perhatian serta lembut. Namun di sisi salonnya, Fikri akan berubah menjadi pria menyeramkan bahkan bisa mencelakai orang jika dirinya tengah di usik sesuatu.
Penyakit yang di alami Fikri ialah suatu gangguan yang ditandai dengan adanya dua atau lebih status kepribadian yang berbeda.
Gangguan identitas disosiatif, sebelumnya disebut gangguan kepribadian ganda, biasanya merupakan suatu reaksi terhadap trauma sebagai cara untuk membantu seseorang menghindari kenangan buruk.
Fikri menunduk lesu menekuk wajahnya. Dia sungguh di buat menyesal oleh sikap yang ia miliki. Inilah sisi lemahnya, inilah kekurangannya, inilah sisi lain dari seorang Fikri Rizaldy. Pria berlesung pipi itu begitu sulit mengontrol dirinya di saat amarah datang di saat penolakan dari orang-orang di sekitarnya.
"Kalau dia bangun langsung berikan obat pereda nyerinya! Dan saya harap kau mampu menjaga emosimu untuk tidak menyakitinya lagi. Kau harus berusaha meredam amarahmu dan seharusnya kau itu lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan agar kau bisa mengontrol diri dan hatimu terasa tenang."
Fikri mendongak, "Saya sedang berusaha menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Tapi kadang saya kesulitan dalam menahan emosi. Sekarang Diana yang menjadi korban amarah saya. Saya bingung harus berbuat apa. Ini sungguh membuat saya benci pada diri saya ini."
Fikri begitu terpukul atas tindakan yang ia lakukan dapat membahayakan nyawa Diana. namun Fikri juga enggan untuk melepaskan Diana karena dia mencintainya. Tetapi cinta yang Fikri miliki merupakan cinta penuh keegoisan karena memaksakan keadaan tanpa mau mengerti perasaan wanita yang dia cintai.
"Jika kau tidak mampu menahan emosi, berarti lebih baik kau lepaskan dia!" saran dokter itu membuat Fikri terperangah. Mana mungkin dirinya melepaskan Diana begitu saja di saat ia sudah berhasil mendapatkannya. Oh itu tidak akan mungkin terjadi. Sampai kapanpun Fikri akan menjerat Diana dalam pernikahannya karena ia yakin suatu hari nanti jika Diana pasti akan mencintainya.
"Kau gila! Mana mungkin saya melepaskan Diana begitu saja. Saya bukan orang bodoh yang akan melepaskan wanita secantik, sebaik, sepintar dirinya." Fikri langsung berdiri mendelik tajam memusuhi dokternya sendiri.
"Sudahlah, daripada kau bicara yang bukan-bukan dan menyuruh saya menceraikan Diana, mending kau pulang saja dari sini. Saya sudah tidak membutuhkanmu lagi, pergi!" emosi Fikri kembali datang lagi kala orang memintanya melepaskan Diana. Sungguh hal itu sangat paling tidak di inginkan dan enggan di dengarkan.
__ADS_1
Fikri mendorong kasar tubuh dokternya membawa pria jas putih itu keluar dari rumah. Hal itu membuat Diana mulai tersadar dari pingsannya. Dia mendengarkan suara bising terjadi di dekatnya sampai membuat dia terbangun.
Perlahan matanya terbuka, tangannya pun terulur memegangi lehernya yang masih terasa sakit. Namun, Diana langsung terperanjat mendudukkan dirinya kala teringat pada sang putra.
"Baby A...!" mata ibu satu anak itu celingukan mencari putranya. Dia mengedarkan pandangannya menyadari sesuatu jika kamar yang ia singgahi bukan kamar yang sering di gunakan tidur namun kamar Fikri.
"Anakku," lirihnya lalu turun dari ranjang. Meski terasa lelah, badan terasa sakit, tapi pikiran tidak bisa tenang ingin segera menghindari Fikri.
Langkahnya begitu tergesa keluar kamar tamu. Diana ketakutan akan di datangi Fikri lagi, dan ia tidak ingin putranya menjadi korban kejahatan Fikri. Namun, baru saja beberapa langkah lagi menuju kamar lagi, suara Fikri menggema di sana.
"Diana, mau kemana kamu?" Fikri bersuara lalu menghampiri Diana yang tengah mematung hendak membuka pintu.
Diana memejamkan mata mencoba berdoa agar Tuhannya selalu melindungi dirinya beserta anaknya dan selalu memberikan kekuatan untuk melawan orang-orang seperti Fikri.
"Saya ingin masuk menemui anak saya. Kenapa? Ada masalah?" suara Diana tidak selembut kemarin-kemarin. Nadanya tidak bersahabat dan lebih terkesan kasar.
Fikri mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak lagi. "Tidak, dia anak mu jadi kamu bebas menemuinya.Tapi saya tidak ingin kau terlalu memperhatikan anak Ari mantan suamimu itu. Saya juga harus kau perhatikan. Dan sekarang yang jadi prioritas mu adalah saya!" seenaknya Fikri membuat keputusan yang membuat Diana di buat keheranan.
"Kau itu aneh sekali, bayi itu anakku jadi aku harus memprioritaskan anak kandungku sendiri. Kamu memang suamiku, tapi aku tidak mau memiliki suami seperti dirimu. Lebih baik kau talak aku!" Diana mengeluarkan suara yang seakan tidak terima Fikri membahas putranya terus. Bagaimana pun Baby A anaknya dan akan menjadi prioritas utama Diana. Apalagi setelah mengetahui sikap Fikri yang begitu kasar semakin membuat Diana enggan menjalin hubungan dengan pria itu.
__ADS_1
"Sudah berapa kali ku bilang jangan minta talak dariku, Diana! Dan sampai kapanpun saya tidak menceraikan mu. Selamanya kau akan menjadi istriku."
"Tapi aku tidak mau menjadi istri dari pria kasar seperti dirimu!" suara Diana kembali menggema menolak menjadi istri Fikri lagi. Dia tidak ingin mati konyol dalam genggaman Fikri.
Seorang lelaki jika dia sudah mulai bermain tangan kepada istrinya maka pria tersebut sampai kapanpun akan sulit berubah 100%. Karena sikap tempramen yang dimiliki pria biasanya sudah mendarah daging dan sulit untuk disembuhkan.
Pria yang suka bermain tangan kepada istrinya, merupakan pria yang memiliki sifat kasar dan temperamental. Hal itulah yang Diana takutkan jika suatu waktu Fikri kembali berbuat kasar kepadanya atau bisa saja berbuat kasar kepada putranya. Diana bukan wanita bodoh yang mau bertahan dengan pria kasar dan penghianat. Dia tidak sebaik Lesti yang mau memaafkan suaminya meski wanita itu di sakiti lahir dan batinnya. Dia hanya wanita biasa yang memiliki hati yang mudah rapuh dan enggan kembali pada pria kasar.
"Tapi saya akan tetap menjadikanmu istriku!" Fikri tak kalah tegas dengan sentakan yang begitu menggema.
"Untuk apa? Untuk kau sakiti lahir dan batin? Untuk kau selingkuhi, di madu, lalu kau bunuh aku? Begitu? Hahaha aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan hari ini juga kamu angkat kaki dari rumah ku!" Diana tidak lagi memikirkan rasa sopan santunnya terhadap suami. Dia menunjuk pintu keluar menyuruh pria kasar ini keluar.
"Apa kau bilang? Kau mengusirku, hah? Tidak akan mudah bagimu membuatku keluar dari sini. Sekarang kau masuk ke dalam!" Fikri menarik lengan Diana sangat kencang lalu menghempaskannya ke dalam kamar dan tangan meraba kunci pintu kamar.
Diana terduduk di lantai seraya memegangi tangannya yang terkena cengkraman kuat. Dia berdiri lagi menatap tajam Fikri.
"Jadi ini sikapmu yang sebenarnya. Ck, sangat keterlaluan. Aku mau kamu talak aku!" sentaknya membuat Fikri kembali marah.
"Diaaam...!"
__ADS_1
Plak...
"Jangan pernah coba-coba kabur dariku atau anakmu ku habisi! Tetap disini dan saya tidak akan pergi darimu. Camkan itu!"