
Dan waktu pun berjalan dengan cepat sampai kini tiba satu hari sebelum persidangan pertama dimulai. berkas kasus yang melibatkan Danu kini sudah masuk ke persidangan dan tentunya semua atas bantuan dari pengacara keluarga, siapa lagi kalau bukan Iqbal. Dan berkas perceraian yang Diana ajukan pun sudah mulai masuk ke pengadilan negeri yang ada di sana. Untuk kasus perceraian membutuhkan waktu paling cepat 3 bulan dan paling lama 6 bulan. Jadi sekarang lebih fokus ke kasus yang Danu hadapi.
Orang tua Danu dan Iqbal tengah menjenguk Danu dipenjara.
"Apa kabar dengan Diana?" tanya Danu kepada orang tuanya penasaran karena sudah hampir satu bulan ini dia tidak ada menerima kabar dari Diana.
"Saat ini Diana sedang baik-baik saja dan berada di tempat paling aman. Kami tidak bisa menjenguknya karena kami tidak ingin jika suami laknatnya Fikri membuntuti kami dan membawa Diana pergi," jawab Iqbal yang telah menyembunyikan Diana sampai waktu di tentukan.
"Bahkan papa dan mama juga tidak mengetahui dimana Iqbal menyembunyikan Diana saat ini. Sejak malam dimana Fikri berusaha menyerang, Diana di bawa Fikri ke tempat aman dan menetap dulu di sana sampai sidang terakhir di gelar. Kita harus berhati-hati agar Fikri tidak bisa menemukannya," sahut papa Fakhri berbicara serius dan tentunya berkata apa adanya.
Danu menghelakan nafas panjang, "Padahal aku merindukannya. Tak bisakah sekali saja menghubungi dia?" gumam Danu lesu namun masih bisa di dengar semua orang.
Iqbal memperhatikan sekitar yang dimana ada beberapa aparat polisi tengah memperhatikan. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menulis sesuatu di ponselnya. Iqbal takut jika ada salah satu di antara mereka yang menjadi mata-mata.
'Kita tidak bisa menghubungi Diana karena disini ada polisi yang bekerja sama dengan Fikri. Saya tidak ingin jika kau menghubunginya bisa membahayakan Diana dan bisa-bisa kaulah yang menjadi tersangka utama. Kau ingat, Diana adalah kunci utama di mana kau memukul pria gila itu'
Orang-orang yang tengah memperhatikan ponsel Iqbal mengangguk mengerti.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Karin melirik satu persatu para pria yang ada di sana.
"Untuk sekarang biarkan kubu dari Fikri menang dan biarkan mereka yang berkoar dulu. Kita jangan dulu melakukan pembelaan di saat semua tuduhan dan saksi yang di miliki Fikri di keluarkan," tutur Iqbal.
"Kenapa begitu? Itu sama saja membiarkan tindakan yang di lakukan Fikri terhadapku. Kalau perkataan Fikri dan para saksi palsu nya terus menyerang ku bagaimana?" ujar Danu protes atas ide Iqbal.
"Kau dengar dulu, Danu Alzio Fakhri. Kita berikan dia kemenangan sesaat dan pas di akhir kita serang balik dia dengan semua bukti yang kita dapatkan. Dan terakhir saksi yang akan di hadirkan adalah Diana sebagai korban sekaligus kunci utama di saat perkara itu terjadi.
"Papa setuju atas saran Iqbal. Lebih baik kita ikuti saja permainan Iqbal. Kita serahkan semuanya kepada dia," sahut papa Fakhri menyetujui rencana Iqbal.
__ADS_1
"Seperti film layar lebar, awal cerita pemeran utama sering di kalahkan dan sering menderita. Tapi di akhir cerita, pemeran utama tetap yang memenangkan persaingan meski harus melewati jalan terjal berliku. Kali ini kita akan sedikit bermain dengan pria yang memiliki kepribadian ganda itu. Atau lebih tepatnya pria yang mengalami gangguan jiwa," kata Iqbal serius dalam menjalankan pekerjaannya dan tentunya selalu berhasil membuat lawan tumbang dengan bukti yang ia kumpulkan.
"Gangguan jiwa?! Maksud kau?" tanya Karin, Danu, dan Fakhri secara bersamaan.
Tapi Iqbal hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman penuh misteri. Hanya dia yang tahu maksud dari ucapannya.
******
Di tempat yang berbeda, seorang wanita cantik dengan wajah yang serius terlihat bercahaya tengah khusu melakukan ibadah shalat fardhu. Dia yang di sembunyikan Iqbal di tempat aman sedang mengadu pada Rabb-Nya meminta sebuah kelancaran dan kemudahan dalam menghadapi segala macam persoalan. Seperkian menit dirinya berdoa dan berzikir di atas sajadah penuh khusu.
Tiada tempat mengadu selain kepada Rabb-Nya, tiada hal yang paling menenangkan selain mendekatkan diri kepada sang pemilik kehidupan. Semua rasa gelisah, keluh kesah, air mata, nestapa, dan segala macam cobaan yang ada berasal dari-Nya.
Kita hanya manusia biasa yang hanya bisa meminta, berusaha, dan berdoa agar semuanya baik-baik saja. Percayalah, tidak ada peristiwa yang kebetulan, tidak ada peristiwa yang tidak membawa berkah, tidak ada peristiwa yang tidak memetik hikmah, dan tidak ada peristiwa yang terbuang sia-sia.
Dan itulah yang saat ini Diana lakukan, meminta perlindungan dan meminta petunjuk atas segala kejadian yang terjadi. Meminta untuk keselamatan dan tentunya keberhasilan sidang nanti. Baik untuknya dan untuk Danu.
"Nak Diana," ujar seorang wanita memanggil nama Diana.
Diana menoleh dan tersenyum ramah pada wanita tersebut.
"Eh, Umi Fatimah. Maaf, pasti Baby A bikin repot umi." Diana membuka kain putih yang sering di gunakan ibadah lalu melipatnya.
Orang yang di sapa Umi Fatimah melangkah masuk ke dalam kamar sembari menggendong Baby A. Dia pun duduk di dekat Diana.
"Tidak sama sekali, Nak. Umi justru senang bisa mengasuh putramu yang menggemaskan ini." Uma Fatimah sejenak memperhatikan Diana, "Kamu cantik kalau berhijab. Jangan di lepas, ya!" ucapnya berkata jujur jika Diana terlihat jauh lebih cantik kala memutuskan untuk berhijab setelah berada di salah satu pesantren yang ada di Bali.
"Tapi Diana masih banyak kekurangannya, Umi. Diana banyak dosa dan merasa belum siap memakainya." Diana yang hendak melepaskan kerudung lapisan mukena itu seketika tidak jadi kala wanita baik yang mau membantunya melarang.
__ADS_1
"Nak, berhijab itu kewajiban bagi semua wanita muslimah. Kita, sebagai wanita muslimah wajib menutup aurat. Terlebih dari banyaknya dosa ataupun tidak, itu urusannya dengan Allah bukan dengan sesama manusia. Jadi perlahan saja, ya. Insyaallah kalau hati udah tenang dan nyaman kamu terus pakai hijabnya," saran Umi.
Iqbal membawa Diana ke tempat yang paling aman menurutnya, pesantren. Di sana Diana bisa menenangkan diri, meminta petunjuk, sekaligus lebih mendekatkan diri kepada sang penciptanya dan pastinya tempat yang tidak mungkin Fikri datangi karena tempatnya jauh dari kota dan jauh dari tempat yang di singgahi Fikri maupun Danu.
"Insyaallah Umi, Diana akan mencoba Istiqomah dalam berhijab," gumam Diana tersenyum tulus.
******
"Kau pastikan semua saksi dan jerat hukum memberatkan pria itu. Saya tidak ingin dia berada di sini dan terus mengganggu hubungan saya dan istri saya!" pinta Fikri pada pengacara yang ia sewa mahal untuk menjadi pengacaranya.
"Asal semua bukti dan saksi ada saya pasti membuat dia di jebloskan ke penjara. Sekarang yang ingin saya tanyakan adalah, dimana saksi kuncinya?" tanya pengacara itu pada Fikri.
"Saya tidak tahu karena dia tiba-tiba hilang di telan bumi. Tapi meskipun Diana tidak ada, ini bisa menjadikan alasan kuat jika istri saya di sembunyikan pria itu," ujar Fikri berwajah sendu tidak bisa menemukan Diana.
"Hmmm, saya mengerti."
Di saat tengah membahas masalah sidang besok, tiba-tiba ada orang yang bertamu ke rumah Fikri.
"Permisi ...."
Fikri berdiri, "Tunggu sebentar!" ujar nya seraya melangkah mendekati pintu. Doa mengerutkan keningnya, "Cari siapa?"
"Saudara Fikri?" tanya orang itu dan Fikri mengangguk.
"Ini ada surat dari pengadilan negeri," ujarnya lagi memberikannya pada Fikri.
Deg ....
__ADS_1
"Su-surat!"