Talak Aku!

Talak Aku!
Kedatangan Mantan


__ADS_3

"Vanessa...!" gumam Danu mengetahui siapa yang datang ke ruangan kerja papanya. Tak pernah terbayangkan jika ia kan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya saat sedang kuliah di sini. Mantan yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak tanpa adanya kepastian jelas alasannya apa. Namun, tak dipungkiri olehnya jika ia berdebar saat menatapnya. Tetapi, bukan cinta yang membuat jantungnya berdebar tapi alasan yang ketahui mengapa wanita itu mengakhiri hubungan ini.


Merasa tidak penting, Danu kembali memfokuskan kegiatannya melanjutkan pekerjaan yang tengah ia lakukan agar dirinya cepat kembali ke Indonesia bisa mencari lagi Diana.


"Zio, apa kabar?" tanya gadis berpakaian rapi serta tertutup sambil berjalan mendekati Danu dan duduk di hadapannya.


"Baik." jawab Danu singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer dan dokumen. Jari-jarinya terus mengetik sesuatu, matanya pun tak kalah fokus ke layar dan buku.


"Apa aku mengganggu waktumu?" tanya dia lagi merasa Danu tidak memperhatikanya dan merasa tidak di anggap.


"Ini jam kerja jadi saya sibuk dengan urusan kantor. Tidak ada waktu berbasa-basi selain kerjaan yang harus ku kerjakan selama papa tidak ada." ya, dia memang sedang sibuk mengerjakan tugas yang harus dia kerjakan secepatnya.


Gadis itu pun terus memperhatikan dan dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasanya dia ingin memeluk pria yang sudah ia putuskan hanya karena mengikuti perintah orang tuanya.


"Zio, aku merindukanmu." yang memakai kerudung itu mengungkapkan sebuah Kerinduan terhadap pria di hadapannya.


Barulah tangan Danu terhenti saat mendengar ucapan itu. Dan dia sempat melirik wanita yang ada di hadapannya. "Rindu dalam hal apa? Kalau merindukan layaknya seorang kekasih kau tidak berhak. Lantas, Apa tujuanmu datang ke sini?" ucap Danu melanjutkan kembali kegiatannya.


"Jika boleh jujur, aku masih mencintaimu. Maukah kamu kembali kepadaku dan melanjutkan niatmu yang bilang akan menikahiku?" tanpa rasa malu sedikitpun, wanita bernama Vanessa itu mengungkapkan cinta dan keinginannya kepada pria tampan yang ada di hadapannya.


Danu menggelengkan kepala tersenyum simpul merasa heran pada wanita di hadapannya. "Untuk apa? Semua sudah berlalu dan tidak akan pernah kembali seperti dulu. Kita sudah berbeda meski kau terus bilang cinta. Kita tidak mungkin bersatu karena hatiku sudah menjadi milik orang lain. Maaf, mending kamu pergi dari sini karena saya mau bekerja. Silahkan!" secara halus, pria ini mengusir Vanessa tanpa kekerasan. Baginya tidak ada lagi cinta yang ia miliki untuk Vanessa meskipun wanita itu berusaha keras mendekatinya lagi.


"Kenapa? Kaku kamu dingin padaku? Dan siapa wanita itu! Apakah dia lebih cantik dariku? Apakah dia lebih pintar dariku? Apakah dia lebih sopan dariku? Apakah dia berhijab sepertiku? Pasti aku jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan dia, kan?" perkataan dan penampilannya tidak sesuai ekspektasi.

__ADS_1


Danu mengerutkan keningnya. "Jika kamu membandingkan kami dengan istriku, justru dia jauh lebih baik dari semua wanita yang aku kenal." Vanessa memang berhijab tapi jika dibandingkan Diana Diana jauh lebih baik dalam segi hal apapun.


"Tapi karena ulahku Diana pergi meninggalkan ku," batin Danu merasa sesak atas kejadian itu. Dia masih belum bisa menerima kenyataan ini jika dialah yang sudah menyakiti dan sudah membuatnya pergi.


Di saat itu pula, seorang pria masuk marah-marah. "Zio...!" sentaknya seraya mendorong pasar pintu ruangan kerjanya.


Sekolah yang ada di belakang bersalah karena tidak bisa menahannya. "Maaf, pak. saya tidak bisa mencegah dia karena dia memaksa masuk ke sini."


"Tidak mengapa, Kau boleh kembali bekerja lagi!" kepada pegawainya Danu berkata sopan serta lembut. Tetapi kepada Vanessa tadi ucapannya terkesan sinis dan terasa seperti dingin.


Lalu Danu beralih menatap pria yang juga menatapnya namun dengan tatapan terlihat seperti marah. "Ada apa kalian berdua datang ke sini?"


"Saya sudah teringat nanti kamu sedari dulu jangan kau coba-coba mendekati Vanessa! Dia itu sekarang istriku dan kau tidak berhak lagi mendekatinya!" seorang pria berperawakan tinggi mengaku sebagai suami Vanessa.


"Mending kau urus istrimu ini untuk tidak menggangguku lagi. Karena saya sudah memiliki istri dan tidak mungkin mau kepada istri orang lain jika istri sendiri jauh lebih baik dibandingkan wanita yang lebih segalanya." Danu menyindir pedas perkataan yang Vanessa tadi katakan.


"Kau sudah menikah?" pria itu tidak percaya.


Danu mengambil ponselnya dan menunjukan foto pernikahan dia dan Diana yang ternyata masih tersimpan di galeri ponselnya. "Ini buktinya. Jadi kalian pergilah! Saya sibuk." dan dan kembali berfokus kepada dokumen-dokumennya.


"Kau lihat Vanessa, Zio sudah menikah dan kau masih mengharapkan dia di saat kau sendiri yang memutuskannya? Ck, keterlaluan. Ayo pulang!" pria itu menarik paksa tangan Vanessa tidak ingin membuat keributan lagi di kantor orang.


"Zio..." panggil Vanessa berharap pria itu menengok. Jika Danu menengok itu artinya pria itu mencintainya. Tetapi Danu tidak sedikitpun menoleh atau pun mendengarkan panggilannya meski terdengar di telinga.

__ADS_1


Hingga keduanya hilang di balik pintu, baru lah Danu menoleh menghelakan nafas. Dia tertunduk lesu mengambil ponselnya kemudian membuka galeri berisi foto dia dan Diana. "Aku merindukanmu, Dee."


*******


Bali


"Bli, hari ini aku titip baby Arka, ya?" ucap Diana pada Fikri yang sedang duduk menunggu kasir.


"Kamu mau kemana? Tumben?" Setahunya Diana belum sembuh benar.


"Aku mau ke supermarket depan buat beli bahan-bahan keperluan rumah. Baby Arka kan masih bayi banget jadi jangan boleh dulu di bawa jauh. Aku hanya sebentar, kok." Bukan Diana tidak ingin meminta Fikri, tapi jika dia sendiri pasti tahu apa saja yang akan di beli dan apa saja yang di perlukan.


Karena masih merasa tidak baik-baik saja atas kejadian tadi pagi, Fikri mengiakan saja. Dia enggan kemana-mana selain berdiam diri di toko.


"Ya sudah." hanya itu jawabannya yang di berikan Fikri. Dia enggan berkata banyak, perasaannya masih kacau balau oleh Salma yang sudah berhasil membuatnya gelisah.


Diana sakin di buat tidak mengerti oleh sikap Fikri yang terkesan berbeda dari sebelumnya. Hari ini Fikri terlihat lebih murung dan terlihat sekali jika pria itu tidak bersemangat.


"Kalau baby Arka menangis susunya ada di kulkas. Bli bisa hangatkan dulu." Meski dekat, Diana menyetok asi buat anaknya takut jika nanti baby A menangis.


"Iya kamu..."


"Mbak Diana maaf Salma datang terlambat."

__ADS_1


__ADS_2