
"Salma, terima kasih sudah mau membantuku menjadi saksi di persidangan Danu. Tanpa bantuan mu mungkin hukuman untuk Fikri tidak akan selama itu," ucap Iqbal kepada Salma yang sedang berjalan beriringan keluar gedung pengadilan secara berbarengan.
Salma memang ada di sana dan belum pergi meski semua orang sudah pada bubar meninggalkan tempat itu.
"Sama-sama, seharusnya saya yang berterima kasih kepada kamu karena sudah mau menolong membebaskan Diana dari jerat pria gila itu. Kalau bukan tanpa bantuanmu mungkin saat ini Diana masih menjadi istri dari Fikri. Dan ini juga sebagai salah satu cara saya menjauhkan Diana darinya meski saya harus menjadi istri kedua Fikri."
Pada hari itu, hari dimana Fikri sedang berdiskusi dengan pengacaranya mengenai rencana yang akan di lakukan dia untuk memenjarakan Danu, Salma kebetulan datang kesana sehingga ia bisa mendengarkan semua rencananya.
Dan ketika Fikri mendapatkan surat dari pengadilan negri pun Salma melihat serta memperhatikannya dari tempat persembunyian yang ia singgahi tak jauh dari rumah Fikri. Salma juga mendengar jika Fikri merencanakan penculikan terhadap orangtuanya Danu.
Setelah tahu apa yang di rencanakan Fikri, Salma kabur dari sana mencari Diana untuk memberitahukan niat Fikri yang sesungguhnya. Salma memang wanita materialistis dan wanita tidak baik, tapi melihat Diana yang terjerat Fikri si pria gila dengan kepribadian ganda itu membuatnya kasihan dan berniat menolongnya.
Meski rencana Salma di bilang jahat dan ekstrim karena sudah melakukan tindakan kotor, tapi itu adalah cara terbaik yang ia miliki demi bisa membuat Fikri menjauhi Diana. Namun, apa yang ia pikirkan tidak seperti kejadian yang di hadapinya. Semuanya berbeda sampai Fikri berbuat kasar pada Diana.
Di kala berlari menjauhi rumah Fikri, Salma tak sengaja tertabrak oleh kendaraan milik Iqbal. Dari sanalah mereka bertemu dan Salma tanpa sungkan meminta bantuan Iqbal mencari Diana. Namun, tak di duga ternyata Iqbal merupakan pengacara Danu dan Diana. Dari sanalah Salma menceritakan apa yang terjadi pada Diana dan juga akan membantu Diana maupun Danu untuk menjebloskan Fikri ke penjara.
Bukan hanya sekedar membantu saja, melainkan ada dendam pribadi yang Salma miliki kepada Fikri. Yaitu kembali memasukkan pria itu ke penjara atas kasus yang dilakukan Fikri yang telah membunuh saudaranya yang tidak lain dan tidak bukan abangnya sendiri.
Abangnya Salma memang selingkuh dengan istrinya Fikri dikarenakan pria itu sering memperlakukan kasar istrinya. Namun, Salma juga tidak tahu jika hal itu memicu kemarahan yang sampai menyebabkan kematian.
Untuk rencana penculikan yang direncakan Fikri buat menyekap orangtuanya Danu, Salma juga yang mencegah dua orang itu dengan pura-pura mabuk saat kedua anak buah Fikri mulai beraksi. Salma sengaja menabrakkan diri ke mobil yang di kendarai nya sampai dia rela menjadi pemuas nafsu kedua pria itu.
Tapi meskipun begitu, Salma menikmatinya dan karena memang wanita itu memiliki nafsu yang begitu luar biasa pada sesuatu yang berbau hasrat.
"Lalu kemana lagi kau akan pergi?" tanya Iqbal sudah ada di dekat mobilnya.
"Ketempat penuh ketenangan dan kedamaian dimana hanya ada saya dan orang-orang yang mampu membimbing saya, penjara suci. Saya ingin bertaubat sebelum saya tiada oleh penyakit yang saya derita," tutur Salma tersenyum tulus seakan hidupnya tidak memiliki beban.
"Penyakit?" Iqbal mengerutkan keningnya Karen atidak tahu jika wanita itu memiliki penyakit serius.
"HIV, itulah penyakit yang sara derita saat ini."
"Innalilahi wainnailaihi rijiun ...."
__ADS_1
Iqbal terperanjat kaget saat mendengar penyakit yang di sebutkan Salma. Penyakit HIV itu penyakit yang menular ketika saling berhubungan. Dan penyakit yang Salma derita karena dia dulunya sering bergonta-ganti pasangan dan sering melakukan hubungan badan. Saat berhubungan dengan Fikri pun Salma sudah terkena penyakit itu.
"Tapi, sebelum saya tiada, saya ingin meminta maaf dulu kepada Diana. Boleh kah kau mengantarkan ku rumah sakit bertemu dengannya?" tanya Salma berharap bisa menemui Diana untu terakhir kalinya sebelum ajal tiba.
"Ya, boleh. Mari ikut saya." dan Salma pun mengangguk mengiakan.
*****
"Keluarkan saya dari sini brengsek! Saya tidak mau ada di sini, saya ingin bertemu Diana, saya ingin melihat keadaannya, hei." Fikri terus berteriak sambil tangannya melambai di sela bagian besi yang menjadi penghalang agar dirinya tidak bisa keluar.
"Berisik! Bisa tidak untuk diam sejenak saja, hah? Kau dari tadi terus saja berteriak mengganggu pendengaran kita. Dasar kau pria gila!" sentak salah satu penjaga tahanan yang ada di sana.
"Kau yang gila, kau yang gila sialan. Saya ini masih waras dan saya masih memiliki istri. Kau tidak punya istri, hahaha ... kau tidak punya istri, kau gila." Fikri berteriak mengumpat kasar dan kadang menendang besi yang menghalanginya keluar.
"Hahaha saya jahat, saya telah membuat istriku terluka. Saya ini jahat hiks hiks hiks," ucap Fikri memegangi kepalanya terisak seraya membenturkan kepala bagian belakang ke tembok. Tubuh pria itu perlahan melorot ke bawah terduduk lesu dengan kaki menekuk.
"Diana maafkan aku. Aku tidak sengaja, Diana. Sungguh aku tidak sengaja. Aakh ... saya benci diri ini, saya benci dua orang yang ada di dalam diri saya terutama kau Fikri. Kau lah penyebab Diana ku terluka, kau memang Fikri si pria jahat ...."
Fikri sudah semakin tidak terkendali. Kadang tertawa, menangis, sedih, tapi juga kadang puas karena bisa membuat Diana celaka. Itu artinya jiga wanita itu tidak akan di miliki siapapun lagi.
*****
"Mungkin sebentar lagi, Zio. Kita tunggu saja," balas Karin mengerti atas ke khawatiran putranya.
"Tapi ini sangat lama, Mah." Danu berkeluh kesah dengan hati masih gelisah belum tenang sebelum melihat Diana tersadar.
"Daripada gelisah begini, mending kita beribadah dulu seraya mendoakan Diana," sahut papa Fakhri sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Biar Mama dan Cici yang menemani Diana di sini. Percayalah jika Dipanaskan baik-baik saja."
Danu memperhatikan Diana dari dekat. Dia mengusap lembut pipi putihnya dan perlahan menunduk mengecup kening Diana.
"Bangunlah, Dee. Aku merindukanmu dan akan menunggumu kembali. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama hingga ajal memisahkan kita," bisik Danu ke telinga Diana.
__ADS_1
Kemudian para pria meninggalkan ruangan rawat menuju musholla terdekat.
Di saat Danu dan Fakhri keluar, mata Diana mulai bergerak secara perlahan sampai matanya terbuka sempurna. Dia melihat sekeliling tempat sampai matanya tertuju pada Mama Karin dan Cici yang sedang duduk mengajak bermain baby A.
Ooaaa ... oooaaa ....
"Eh, jangan nangis sayang."
"Mah," ucap Diana memanggil wanita yang sudah ia anggap mamanya.
Karin dan Cici menoleh, "Diana, kamu sudah sadar."
"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan merasa senang Diana sudah kembali sadar.
"Sayang, coba lihat, itu Bunda kamu udah sadar, Nak. Mau sama Bunda, ya." Cici berceloteh pada baby A yang tadi tiba-tiba nangis tapi sekarang berhenti.
Karin sedikit menaikkan ranjangnya sampai Diana setengah duduk.
"Mama senang kamu sudah sadar." Diana hanya tersenyum mendengar kata Mama Karin. Matanya tertuju pada sang putra.
Cici yang mengerti itu mendekatkan diri dan beralih mempersilahkan Diana memangku putranya.
"Dia kangen bundanya."
Saat hendak mengambil baby A, pintu masuk ada yang membuka. Diana, Karin dan Cici melihatnya.
"Apa kami boleh masuk?" tanya seorang pria siapa lagi kalau bukan Iqbal.
"Ayo silahkan," balas Karin mempersilahkan.
"Tapi ada yang ingin bertemu dengan Diana," ucap Iqbal membuka lebar pintu masuknya.
"Salma ..." ujar Diana penuh keterkejutan.
__ADS_1
*****
Jangan Lupa TINGGALKAN JEJAK VOTE, LIKE, dan KOMENTARNYA, ya.