
"Siapa Juned ?" tanya orang itu bingung, Anggi sangat terkejut kalau pria yang dia panggil Juned itu adalah mertuanya tuan Wira, mau di simpan dimana wajahnya kini. Bahkan Anggi merasa sangat malu kepada mertuanya itu.
"I-itu bukan siapa-siapa tuan, a-aku cuman kaget aja" ucap Anggi tergagap.Tuan Wira hanya tersenyum melihat kelakuan menantunya. Tuan Wira sangat berbeda dengan nyonya Sarah, dia terlihat sangat baik pada Anggi dan tidak pernah mempermasalahkan pernikahannya dengan Rama.
"Panggil saya papa nak, aku ini mertuamu bukan majikanmu " ucap tuan Wira sambil tersenyum. Anggi pun mengangguk mengerti.
"Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam ?" tanya tuan Wira
"A-aku lapar, makanya aku mencari makanan tu eh pah, ga apa-apa kan aku minta makanannya ?" ucap Anggi merasa sungkan. Mendengar jawaban Anggi tuan Wira hanya tertawa.
"Tentu saja boleh nak, kamu bebas makan apa saja yang ada di rumah ini, kamu bebas melakukannya " Anggi tersenyum lega mendengarnya. Sebenarnya tuan Wira tidak sengaja melihat Anggi yang sedang mengendap-endap melihat kesana kemari sambil sebentar-sebentar mengelus dadanya dan tersenyum, karena penasaran dia mengikuti Anggi.
Dan setelah di ikuti ternyata menantu anehnya itu sedang menuju kulkas, akhirnya dia mengerti kenapa anak kam-bing ini mengendap-endap.Mungkin dia takut bertemu dengan istrinya dan juga gadis yang bersama istrinya Seruni anak dari sahabatnya.
"Boleh kita bicara sebentar ? ada yang ingin papa bicarakan denganmu" ucap pak Wira membuat Anggi merasa heran, apa ini saatnya dia berubah status dari seorang istri menjadi seorang janda. Oh tidak bisa demi neptunus Anggi belum siap menjadi mantan istri si anak unta. Dia baru saja kehilangan keperawanannya, lengkap sudah jika tuan Wira memintanya untuk bercerai maka dia akan menyandang statis janda bolong. Anggi langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melihat Anggi menggeleng-gelengkan kepalanya tuan Wira hanya tersenyum. "Apa yang anak kam-bing ini pikirkan " gumam tuan Wira dalam hati. Dia sering mendengar Rama memanggilnya anak kam-bing dan menantunya ini selalu memanggil anaknya anak unta. Tuan Wira hanya tersenyum saja mendengar anaknya di panggil anak unta, berarti dirinya adalah papa unta, ada-ada saja anak dan menantunya ini pikirnya.
"Hanya sebentar saja nak " ucap tuan Wira, tersadar dari lamunannya Anggi merasa malu.
__ADS_1
"Ma-maaf pah, tadi aku ngelamun, boleh kok papa mau bicara apa ?" tanya Anggi merasa tidak enak pada mertuanya.
"Kita bicara di ruangan kerjaku boleh ?" tanya tuan Wira
"Iya pah boleh..."jawab Anggi sambil menaruh kembali semua makanannya. Tuan Wira melihat Anggi menyimpan lagi makanannya meminta Anggi untuk membawa makanannya saja, kasihan anak kam-bing ini pikirnya.
"Bawa saja nak makananmu " ucap tuan Wijaya sambil berlalu pergi dan Anggi pun mengikutinya dari belakang. Kini Anggi sudah berada di ruang kerja tuan Wira. Tuan Wira pun mempersilahkan Anggi untuk duduk.
"Aku akan langsung ke pokok pembicaraan saja ya nak Timmy " ucap tuan Wira, gaya bicaranya sangat elegan berbeda sekali dengan orang tuanya di rumah jika sedang memberikan siraman rohani, terasa seperti mendengar suar toa di dekat telinga, saking kencangnya si Timmy tidak pernah menyimak dengan baik ceramah dari orang tuanya, makanya tingkah gadis ini menjadi sangat aneh.
"Iya pah..." jawab Anggi
"Yang pertama aku ingin meminta maaf atas perlakuan istriku yang mungkin tidak menyenangkan bagimu, apalagi hari ini dia malah membawa seorang gadis anak dari sahabat kami untuk di kenalkan dengan Rama. Menurutku itu hal yang sangay tidak sopan , jadi..sekali lagi aku minta maaf " ucap tuan Wira sungguh-sungguh.
Hanya saja dia belum siap untuk menjadi janda saat ini. Terlalu dini untuk pernikahannya yang baru seumur jagung. "Aku tidak apa-apa pah, papa jangan khawatir aku tidak marah nyonya Sarah bersikap seperti itu padaku "ucap Anggi.
Tuan Wira pun mengangguk, " papa juga ingin meminta sesuatu padamu nak, apa boleh kamu berjanji sesuatu padaku ?" pinta tuan Wira
"Iya pah, apa itu selama aku bisa, aku bakal lakuin permintaan papa "
__ADS_1
"Cintai lah Rama nak, sayangi dia sepenuh hatimu, papa lihat Rama sangat mencintaimu, dia bahkan banyak berubah sekarang. Dulu dia selalu terlihat murung saat gadis yang ia cintai menikah dengan pria lain. Lama sekali Rama tidak bisa menerima kenyataan itu, hingga membuat hidupnya terpuruk, papa sebagai ayahnya merasa sakit melihat putraku sendiri menderita seperti itu, betapa hidupnya tidak berarti saat itu. Pasti hatinya sangat sakit . Namun setelah kehadiranmu, Rama terlihat berubah aku perhatikan dia selalu tersenyum dan matanya penuh cinta saat menatapmu jadi tolong, sayangi dan cintai dia sepenuh hatimu nak. Jangan pernah mengecewakannya, aku tidak sanggup melihat anakku terluka untuk yang kedua kalinya " ucap tuan Wira panjang lebar. Anggi hanya mengangguk menanggapi permintaan tua Wira, dia juga tidak mengerti. Rama mencintainya katanya, tidak mungkin pikir Anggi.
Untuk Rama yang selalu menyentuhnya, Anggi pikir itu karena Rama adalah pria normal seperti pria yang lainnya. Hal yang wajar jika dia meminta hak nya, karena Anggi juga pernah mendengar jika seorang pria mampu berhubungan intim dengan seorang wanita tanpa cinta. Terbukti dengan banyaknya wanita penjaja cinta dan banyak pria yang melakukannya.
Setelah mengobrol dengan tuan Wira, Anggi pun kembali ke kamarnya, namun saat akan masuk ke kamar dia berpapasan dengan Seruni. Anggi langsung terdiam dan menganggukan sedikit kepalanya dan perempuan bernama Seruni itu pun tersenyum.
"Hai, kamu pasti istrinya Rama ?" sapanya
"Iya, aku istrinya kak Rama " Melihat Anggi membawa berbagai macam makanan Seruni pun tersenyum.
"Kamu akan membawa makananmu ke kamar ? bukan kah Rama tidak suka jika ada sisa makanan di kamar apalagi sampai kamarnya berantakan, aku tahu itu karena aku mengenalnya dari dulu bahkan kami tumbuh berasama " ucap Seruni dia seperti ingin menunjukan kalau dirinya lebih tahu tentang Rama dan sangat mengenalnya. Dan apa anak kam-bing ini perduli ? jawabannya tentu saja tidak....
"Oh gitu, berarti kamu emang deket banget ya sama ka Rama kalo udah kenal dari kecil " ucap Anggi dan di jawab iya dengan rasa bangga oleh Seruni.
"Udah kaya kakak adik ya... "cengir Anggi, mendengar seperti kakak adik tentu saja Seruni tidak terima karena dia sangat mencintai Rama, dan sampai kapan pun Seruni tidak akan mau di anggap saudara oleh Rama karena Seruni ingin Rama menjadi suaminya.
"Tidak seperti itu " ketus Seruni terlihat tidak suka pada Anggi
"Terus apa dong, ga mungkin kan kak Rama nganggap kamu pacar orang dia nikahnya juga sama aku, kalo temen sih masih mungkin tapi kak Rama ga pernah cerita" jawab Anggi datar tanpa peduli kepulan asap sudah mengepul keluar dari kepala Seruni.
__ADS_1
"Kami sangat dekat kamu tahu...."
"Engga, udah dulu ya ngobrolnya soalnya kak Rama udah nungguin aku dari tadi katanya mau bercocok tanam sama praktek berkembang biak sama aku, biar Rama junior cepet jadi " ucapnya sambil berbisik menyebalkan sambil pergi meninggalkan Seruni yang masih mematung dengan kesal di sana.