
"Aarkkkhhh......"
"Danisa.... " ucap Santi
Staf wanita itu hanya geleng-geleng kepala melihat Danisa terjatuh tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Makanya kalau kerja itu yang benar, dasar pegawai rendahan " ucapnya sambil pergi meninggalkan Danisa yang kesakitan, untung saja di sana ada Santi yang menolongnya. "Danisa kamu ga apa-apa kan?"tanya Santi
"Kaki aku sakit banget San, aku istirahat dulu sebentar ya "ucap Danisa
"Iya kamu istirahat aja, biar aku yang kerjain "jawab Santi karena merasa kasihan pada Danisa yang kesakitan.
"Lohh, kacamata aku mana? "tanya Danisa sambil mencari-cari.
Santi melihat kacamata milik Danisa hancur tertimpa tangga. Santi menggeser tangga dan mengambil kacamata yang sudah rusak itu.
"Kacamata kamu hancur Nis.... "ucap Santi sambil memberikan kacamatanya pada Danisa. Danisa. langsung mengambilnya dengan sedih.
"Yah, kok hancur gimana nih. Aku belum ada uang buat belinya juga "ucap Danisa dengan sedih.
"Danis, tapi kamu kok cantik tanpa kacamata ya " ucap Santi yang baru pertama kali melihat Danisa tanpa kacamata. Tapi Danisa malah berdecak mendengarnya. Dia merasa seperti sedang di ejek oleh Santi. "Aku tahu aku emang jelek tapi ga usah nyindir segitunya kali" ucap Danisa.
"Asli tapi kamu cantik ga pake kacamata lohh... " puji Santi.
"Iya, tapi aku bisa liat dengan jelas maemunah, liat muka kamu aja aku runyam sekarang " ucap Danisa sedih.
"Ga jelas banget ya liatnya.... ?" tanya Santi
"Ngga sih, cuman ada saat-saat aku ga bisa liat dengan jelas gitu aja" jawab Danisa
*
*
Santi pun membersihkan kaca atas itu sendiri karena kaki Danisa yang sakit dan terluka. Danisa merasa tidak enak dan ingin membantunya namun Santi melarangnya karena merasa kasihan pada Danisa. Setelah selesai membersihkan ruangan itu, Santi dan Danisa pergi dari sana dengan jalan Danisa yang sedikit pincang.
"Sebel deh sama staf yang tadi, namanya siapa sihh kok dia kaya ada masalah sama kamu perasaan cari masalah terus dia " ucap Santi dengan kesal
__ADS_1
"Aku ga tahu, lagian masalah apa sama aku" jawab Danisa yang merasa bingung.
"Ga mungkin kan dia iri sama kamu? "tanya Santi lagi.
Danisa malah tertawa mendengar Santi bicara seperti itu. "Gak mungkin dong dia iri sama petugas kebersihan kaya aku, dari body sama wajah aja jauh beda. Dia mah wajah sama body jua juga semlehoy, lahh aku cantik engga body juga rata "jawab Danisa.
"Bener juga sih body kamu kan kaya papan cucian, udah yuk ahh aku mau istirahat dulu" ajak Santi kepada Danisa yang merasa kakinya semakin sakit.
"Enak aja kaya papan cucian, kaya triplek ini mah" jawab Danisa sambil tertawa
*
*
*
Danisa dan Santi kini sedang berada di ruang khusus petugas kebersihan, Danisa sepertinya akan minta ijin pulang duluan, karena kakinya terluka dan dia tidak bisa meneruskan pekerjaannya. Santi setuju karena melihat kaki Danisa yang memar dan mulai bengkak pasti itu sakit sekali.
Saat sedang berjalan menuju pulang sebuah mobil berhenti di depannya dan keluarlah pria tampan yang tadi pagi ia temui saat ia membersihkan ruangan staf di kantor.
Danisa merasa heran dan melihatnya, ya walaupun kurang jelas tapi dia masih bisa melihat. "Maaf nona sepertinya kamu sedang terluka ?"tanya nya
"Kalau begitu ayo aku akan mengantarmu ke dokter untuk berobat" ajaknya
"T-tidak terima kasih" tolak Danisa lagi pula ia tidak mengenal orang itu, Danisa takut jika ia orang jahat.
"Jika kau menolak maka aku akan memecatmu" jawabnya tegas
"Memangnya anda siapa mau main pecat aku segala, emangnya perusahaan itu milik bapak kamu apa" kesal Danisa.
"Perusahaan itu memang bukan milik papaku tapi milikku "ucap pria itu
"A-apa....!!! "Danisa terkejut, namun pria tampan itu malah tersenyum.
"Perkenalkan nama saya Dirga Arkana pemilik Arkana Group tempatmu bekerja.
"Astagfirulloh....."Danisa memegang dadanya terkejut. Baru saja dia bertindak tidak sopan padanya, bisa-bisa dia pecat sekarang juga.
__ADS_1
"Baiklah nona ikutlah denganku, aku akan membawamu berobat. Sebagai seorang atasan sudah menjadi kewajibanku untuk menolong karyawanku, apalagi kau terluka saat bekerja di tempatku. Danisa mendadak bingung dan mengangguk saja karena merasa tidak enak sudah marah pada bosnya.
Dirga tersenyum senang melihat Danisa masuk ke dalam mobilnya. Setelah Danisa masuk ke dalam mobil, Dirga pun ikut masuk.
"Oh ya, siapa namamu nona? " tanya Dirga
"Namaku Danisa pak... "jawab Danisa
"Jangan panggil pak, aku jadi merasa sudah tua" jawab Dirga tertawa. Dirga adalah pria yang sangat tampan dan juga ramah. Dirga juga bicara dengan sopan, walau Danisa hanya petugas kebersihan namun Dirga memperlakukannya dengan sangat baik.
"Oh ya, kenapa sepupumu memanggilmu dengan sebutan Nobi ?" tanya Dirga yang tadi sempat mendengar jika David memanggilnya Nobi.
"Oh itu, ahh dasar memang si suneo itu selalu memangilku seperti itu,katanya karena aku memakai kacamata jadi wajahku mirip Nobita" jawab Danisa tersenyum.
"Kau sangat cantik sama sekali tidak mirip Nobiya, lalu dimana kacamatamu, aku tidak melihatmu memakakainya bukankah tadi pagi kau memakainya?"tanya Dirga yang sempat melihat mata indah itu tanpa kacamata. Dan sekarang Dirga melihat Danisa tanpa kacamata cantik sekali pikir Dirga.
"Kacamataku hancur saat aku terjatuh "jawab Danisa.
"Apa penglihatanmu tidak masalah? "tanya Dirga
"Sedikit tapi tidak apa-apa..... "jawab Danisa, Dirga pun mengangguk kemudian ia membawa Danisa ke rumah sakit untuk berobat. Sangat berlebihan menurut Danisa tapi bagaimana lagi Dirga mengancam akan memecatnya jika Danisa menolak.
*
*
*
Di kantor David terkejut saat mendengar Danisa terluka dan kini ia tengah pulang. Tapi sebelum pulang Danisa sempat menitipkan kotak makan siang untuk David. David merasa tidak tenang mendengar kaki Danisa yang terluka dan memikirkan bagaimana dia pulang dengan jalan kaki.
"Kenapa si Nobita terluka dan pulang dia tidak bicara kepadaku" ucap David dengan kesal
"Itu karena kamu sedang bekerja di lantai atas, jadi dia langsung pulang. Masa iya dia mesti ke atas dulu kan kasian, jam kerja kan ga boleh pegang hp" jawab Santi sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Karena sekarang jam istirahatnya para petugas kebersihan jadi mereka sedang berkumpul di sana.
"Tetap saja aku khawatir, jika Nobita pulang bersamaku aku kan bisa menggendongnya " ucap David.
"Astaga, kenapa aku jadi khawatir pada gadis titisan asistent pelit itu" gumam David dalam hati, David ingin waktu segera berlalu dan bisa segera pulang untuk menemui si Nobita.
__ADS_1
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Kasih like sama poin dong buat imun mimin nulis 💜💜💜