Tambatan Hati Timmy

Tambatan Hati Timmy
Bab 90


__ADS_3

"Om....!!!"


Stevan terkejut mendengar pekikan Sera, dia merasa sudah kelewatan seharusnya dia tidak boleh begitu. Bahkan burung pusakanya tengah terbangun dari tidur tampannya selama ini. Biasanya burung pusakanya akan bangun dari tidurnya saat pagi-pagi saja. Setelah itu ia akan tenang dan kembali tidur si sangkarnya.


"Astaga.... " Stevan langsung terbangun begitu pun dengan Sera. Wajah mereka berdua tengah memerah, mereka jadi merasa canggung degup jantung keduanya pun belum normal. Nafas mereka juga tidak beraturan.


"Om.... "


"Sera... " ucap mereka bersamaan


"Maafkan aku.... " ucap Stevan merasa tidak enak


"I-iya, maafin aku juga " Sera juga merasa bersalah karena sudah memancing Stevan.


Stevan melihat ke arah Sera dan tidak sengaja melihat ke arah lehernya, terlihat ada bekas gigitan Stevan di sana. Stevan jadi merasa tidak enak karena perbuatan mulut lucknutnya meninggalkan bekas di sana. Bagaimana jika ada orang yang melihatnya dan beranggapan buruk tentang Sera.


"Sera lehermu ?" ucap Stevan, Sera pun langsung memegang lehernya.


"Leher aku aku kenapa? "tanyanya


"Itu.... ayo ikut aku " ajak Stevan sambil menuntun Sera ke kamarnya dan memperlihatkan leher Sera yang ada bekas perlakukan bibirnya yang tidak sopan tadi. Sera membulatkan matanya terkejut .


"Ya ampun leher aku.... " ucapnya Sera sambil menggosok-gosok lehernya .


"Hey jangan seperti itu, nanti lehermu bisa terluka " ucap Stevan memegang tangan Sera.


"Tapi ini leher aku gimana, nanti orang lain bakal liat" ucapnya sedih membuat stevan merasa bersalah. Stevan juga bingung bagaimana cara menghilangkannya, mereka adalah orang yang amatir dalam hal itu.


"Nanti aku belikan baju yang bisa menutupinya" ucap Stevan sambil melihat ke arah leher Sera membuat Stevan ingin menggigitnya lagi. Saat pikirannya sedang berkelana menjelajahi tubuh Sera. Ponselnya berbunyi, Stevan pun langsung pergi mengambilnya dan melihat panggilan dari Rama.


Tumben sekali pikir Stevan karena biasanya Rama tidak akan pernah menelepon saat Stevan sedang berada di apartementnya, tanpa berpikir lagi Stevan langsung saja mengangkatnya.


"Hallo pak...."

__ADS_1


"Stevan makan malam di majukan hari ini, bersiaplah" ucap Rama


"Iya pak...." jawab Stevan


"Oh ya... bawa pacarmu sekalian kami ingin melihatnya " ucap Rama langsung menutup teleponnya tanpa menunggu persetujuan Stevan.


Untung saja Stevan adalah asistent yang cekatan hingga acara mendadak seperti ini tidak akan menyusahkannya untuk membuat persiapan. Maksudnya persiapan untuk Sera. Stevan langsung menghubungi butik langganannya, untuk mengganti pakaian Sera dan mendandaninya secantik mungkin.


Pada dasarnya Sera memang sudah cantik, Stevan akui itu .Tinggal hanya sedikit polesan maka akan membuatnya terlihat semakin cantik.


*


*


*


Selama Sera di rias di apartementnya, Stevan juga mempersiapkan dirinya agar terlihat tampan dan mempesona. Apalagi nanti di sana pasti akan ada asisten pelit bermulut lucknut yang suka mengkritik orang. Maka dari itu Stevan harus terlihat sempurna .


"Tahu begitu tadi aku gigit saja seluruh lehernya tadi, membuat aku gemas saja kenapa dia bisa secantik ini" gumam Stevan dalam hati.


"Mas pacar aku cantik ga.... ?" tanyanya.


"Kau terlihat cantik "jawab Stevan dengan jujur membuat Sera tersenyum malu.


Setelah selesai orang suruhan Stevan pun pergi meninggalkan apartemet Stevan dan memberikan set peralatan make up dan juga beberapa potong pakaian dan juga sepatu serta tas untuk Sera.


"Oh ya semua barang itu untukmu... " tunjuk Stevan ke barang-barang yang tertumpuk rapi. Mata Sera berbinar bahagia karena di belikan barang-barang mahal oleh Stevan. Sera tidak munafik sebagai perempuan tentu ia senang mendapatkan hadiah.


"Ini semuanya buat aku? " tanya Sera


"Iya, memangnya untuk siapa lagi... " jawab Stevan tidak ada manis-manisnya seperti air pegunungan asli.


"Wuoaahhh.... ini mah kebanyakan. Kenapa ga sebagian buat seserahan aja nanti " ucapnya polos

__ADS_1


"Seserahan....? " tanya Stevan tidak mengerti


"Iya seserahan, barang-barang yang suka di bawa pas nikahan itu loh... " ucap Sera.


"Hahh menikah.... ?" Stevan sepertinya masih bingung dengan ucapan Sera.


"Jangan bilang mas pacar ga mau nikahin aku ya, mas pacar tadi udah ngambil ciuman aku juga tadi udah gigit-gigit leher aku. Aku ga mau tahu pokoknya mas pacar mesti tanggung jawab" Ucap Sera menggebu-gebu.


"Oh...tentu saja aku akan bertanggung jawab untuk masalah itu, tapi dengan satu syarat " pinta Stevan serius.


"Apa....? " tanya Sera penasaran.


"Kemarilah... " Stevan menggerakan telunjuknya ke Sera agar dia mendekatinya. Sera pun langsung menghampiri Stevan dan berdiri di hadapan pria tinggi menjulang itu..


Stevan langsung menarik pinggang kecil Sera dan membenturkan ke dada bidangnya. Lalu meraih tengkuk Sera dan berbisik di telinga Sera hingga ia merasa merinding dengan deruan nafas Stevan di sana.


"Aku akan bertanggung jawab asal aku bisa menciumu lagi " ucap Stevan.


"Cuman cium aku aja ? ga sekalian bikin dede bayi biar ga tanggung " ucap Sera dengan pikiran yang sudah berkeliaran kemana-mana.


"Jangan menguji imanku gadis kecil " ucap Stevan sambil mencium kembali bibir kecil yang terasa manis itu, Stevan sepertinya sudah kecanduan dengan bibir Sera. Sera mencengkeram lengan Stevan dan Stevan menahan pinggang kecil itu agar terus merapat ke tubuhnya. Ciuman itu berlangsung lama dan sepertinya mereka sudah terhanyut dengan ciuman penuh damba dari keduanya.


*


*


*


Aduuhh babang Stevan mulai nackal ya sekarang 😙😙


Kayanya mimin beresin dulu novelnya satu-satunya biar bisa fokus nulisnya, jadi mimin mau tamatin dulu cerita ini udah itu baru lanjutin Tayo sama Sasako ❤


Saweran likenya mana nihh mimin udah double up 😘💕

__ADS_1


__ADS_2