
Hay para kesayangan nyai...
Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗
Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘
Hari ini lagi-lagi semesta tak berpihak kepadaku...
Oh... dadaku begitu sesak, tadi aku kira ia hanya ingin meretakkan hubungan ku dengan kekasih ku.
Akan tetapi begitu mendengar jawaban kak Aston yang percaya tanpa penjelasan dua kali dari wanita itu membuat aku begitu yakin bahwa hubungan mereka benar adanya.
Ohhh tuhan ...
Kenapa aku harus terjebak dengan hubungan yang begitu jauh seperti ini??
Jika kalian menanyakan kepadaku apakah aku menyesal hadir dalam cinta Kak Aston jawaban nya adalah tidak.
Sebab di masa depan aku akan merasakan hal seperti ini dengan pasangan ku. Tuhan hanya memberi tahuku lebih awal bahwa aku tak sempurna...
Aku tak bisa membayangkan di masa depan aku menikah bertahun-tahun menunggu malaikat kecil hadir di rahimku. Aku yakin dunia ku lebih hancur dari ini...
Tuhan aku sudah berusaha mengokohkan hatiku dengan cor-coran semen, nyatanya hati ini tetap lunak.
“Tree jangan seperti ini sayang, aku tak mau pisah!” kata kak Aston menegang tangan ku, ia tak membiarkan aku pergi dari sisinya.
“Ayo kita pergi Tree!" ajak Samarta sahabat ku.
Gadis itu meneteskan air mata. Dan aku tau ia begitu kasian dengan aku yang menyedihkan ini.
“Baiklah!" kataku.
Ucapan persetujuan dari ku, sempat mengukir senyum di bibir Kak Aston, “Bisakah kita bicara empat mata Kak? Bukannya selama ini hubungan kita di bangun dengan awal yang baik, maka aku harap hubungan ini di akhiri dengan baik pula!” kata ku memekarkan jiwa ku.
“Jagan seperti itu sayang!” Kak Aston memeluk pinggang ku yang berdiri seperti pohon serta tak menoleh ke arah nya sama sekali.
“Jika kau tak mau maka detik ini kau tak punya kesempatan untuk berbicara dengan ku lagi!" ancam ku tanpa menoleh kebelakang.
Akhirnya kak Aston melonggarkan pelukannya di pinggang ku. “Ku tunggu di taman depan sana!” tanpa menoleh seperti apa ekspresi esia dan kekasih ku, ku ayunkan kaki ini meninggalkan ruangan itu.
Aku tak peduli ada beberapa pasang mata memandang kami.
Samarta hanya diam, ia menelpon seseorang lalu kemabli ke arah ku, “Tree berikan kunci motor mu, biar bodyguard ku membawanya pulang, nantik kita pergi menggunakan mobil.” kata Samarta dan aku langsung memberikan kunci motorku tanpa berbasa-basi.
....
__ADS_1
....
Sebuah taman asri yang nampak sepi karena bodyguard kak Aston tengah menutup akses orang agar keluar dari restoran itu.
Saat ini mataku memandang bunga janda bolong tanpa mengalihkan ke arah pria yang telah duduk di samping ku, membawa sebuket bunga mawar yang di berikan Bodyguard nya.
“Sayang, lihat aku!” kata pria itu seakan tak memiliki kesalahan.
“Maafkan aku telah menodai hubungan kita, jujur aku tak sengaja melakukan hal itu dengan Esia, dia datang ke rumah ku, merayuku dan aku seorang pria normal Tree, dan kejadian itu sebelum kita bersama!” bujuk Aston.
“Kak lebih baik kita akhiri," ucapan ku langsung di bungkam oleh telunjuk kekasih ku ini.
“Aku mohon jangan bicara apapun sayang, karena aku hanya ingin kau mendengar penjelasan ku!” tangan kak Aston menarik tubuh ku agar melihat ke arahnya.
“Kejadian itu pada saat aku mabuk dan aku mengira dia adalah kau sayang! Dan aku hanya melakukan sekali dengannya,” kata kak Aston masih meyakinkan ku.
“Kak, setelah mendengar pengakuan mu aku semakin bertekad!" aku mengambil nafas panjang agar menahan dadaku yang sesak
“Sayang, aku telah memikirkan ini sedari tadi. Biarkan anak itu lahir dan kita akan menjadi ayah dan ibunya, bukannya lebih mudah kedepannya, kita akan merawat pewaris tanpa harus mengadopsi darah orang lain!” bujuk kak Aston dengan suara memelas.
“Kakak ingin, aku bahagia dengan cara merampas kebahagiaan orang lain?” tanyaku memandang netra coklat yang selalu membuat ku terhipnotis.
Akan tetapi. Entah mengapa, hari mata ini aku melihat rasa nyaman serta luluh. Melainkan ada pisau tak kasat mata yang siap menghunus jantungku.
“Bukan seperti itu Tree!” kata kak Aston dengan suara beratnya.
“Dada ini milikmu Sayang,” aku merasakan bertapa hangat tangan pria yang merengkuh tubuh ku, ku dengarkan alunan detak jantung pria yang paling aku cintai ini.
Aku tau memaksa kak Aston melepaskan aku itu susah. Aku harus memikirkan sesuatu agar kami berpisah sebab itu adalah jalan satu-satunya dan jalan terbaik bagi kita.
Aku hanyalah duri kebahagiaan antara Kak Aston dan wanita itu. Seandainya aku tak hadir di hidup nya mungkin drama menyakitkan ini tak akan pernah kami alami.
Suasana sunyi begitu terasa hanya detak jantung kami yang saling bersahutan....
Apakah aku sanggup melepaskannya?
Apakah aku harus pergi jauh dulu agar mereka bersatu?
Aku harus apa tuhan, cinta segitiga ini amatlah menyakitkan, kenapa dunia orang dewasa begitu kejam? Apa salah ku?..
Aku tau bagiamana rasanya tak di besarkan oleh orang tua. Apakah aku sanggup merenggut kebahagiaan anak yang belum lahir ke dunia itu.
“Kak!" panggilku memecahkan kesunyian.
“Ia, sayang!" jawaban kak Aston yang tengah memeluk tubuh ku begitu erat, seakan takut aku berlari jauh dari hidupnya, bolehkah aku pd sesaat netijen??
“Sudah cukup kak!" kataku duduk tegak melepaskan diri dari pelukan kekasih ku itu.
__ADS_1
“Ya sudah, sekarang kau tenang kan?" tanya kak Aston memastikan.
“Sudah waktunya aku bangun dari mimpi untuk hidup berdua dengan mu, maafkan aku yang tak mampu mempertahankan hubungan kita, dan maafkan aku yang tak mampu menunjukkan jalan kembali.” kata ku berdiri membelakanginya.
“Kau sudah janji untuk menarik ku ke jalan kembali sayang!” Kak Aston memegang tangan ku.
Cup... Ku cium kening kak Aston lama sehingga pria itu terdiam dan memejamkan mata.
“Adanya janji untuk di ingkari. Maafkan aku kak, aku pamit!” aku langsung berlari agar pria itu tak bisa mengejar ku.
Greeep.... Seseorang menarik tangan ku.
“Suttt...” bisik Samarta, ya menarik ku ke sebelah dinding.
“Ayo kita pergi, biarkan para bodyguard ku menghalangi mereka, aku akan membawamu ke satu tempat yang tak mungkin ia curgai!” kata Samarta menarik ku ke dalam sebuah mobil yang siap membawa kita pergi.
Kulihat di belakang acara baku hantam antara bodyguard Samarta dan bodyguard Kak Aston saling berkelahi.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Samarta berhenti, “Ku hitung satu sampek tiga kita keluar!” ajak Samarta,
“Satu... Tiga... Sekarang!” Samarta menarik ku ke luar.
Ternyata di sana telah ada sebuah mobil berwarna sama dengan mobil yang tadi.
“Sialan kau, katanya hitung satu smapek tiga, duanya kampret!" umpat ku. Sungguh saat ini aku seperti di kejar mafia.
“Ya sory, aku hanya ingat angka satu sama tiga saja!" kata Samarta menggaruk kepalanya tidak gatal.
Tak lama kemudian suasana mobil begitu senyap.
“Apa yang kau dengar tadi itu benar Ta, aku gadis yang,” ucapan ku langusung terpotong ketika si Samarta menarik bibir ku seperti pencapit kepiting.
“Apapun dirimu dan seperti apa keadaan mu kau tetaplah sahabat ku, susah senang!” kata Samarta.
Aku langsung berhamburan ke pelukannya, ... Hihihihi... Hihi... Suara tongsis ku seperti tangis kuntilanak yang kehilangan anaknya si tuyul.
Aku hanya meraung menangis sepanjang roda mobil ini berputar-putar begitu lama hingga kami ketiduran.
“Ayo kita turun!” ajak Samarta.
“Club?” mulut ku menganga.
“Ia kita akan berpesta berdua, kita kan sudah dewasa tidak apa kan sekali-kali menghilangkan penat!” kata gadis itu.
Ku pandangi club malam megah, entah kenapa dadaku berdetak lebih kencang dua kali lipat. Aku tak tau bahwa tempat ini mempertemukan aku dengan dirinya
^^^To Be Continued^^^
__ADS_1