Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Mama Bangkrut...


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



Kriyeekk... Pintu bangsal di buka, wajah yang pertama kali tree lihat adalah si kembar yang tengah tertidur pulas.


“Mbok, siapkanlah dirimu, malam ini kita akan kembali ke Negara I, tolong cepat belikan aku tiket pesawat sekarang juga," pinta Tree.


“Tapi nona,” ucapan si Hepi langsung di potong oleh sebuah kertas, agar kedua buah hati Tree itu tak mendengar segala ucapan orang dewasa.


Dengan diam wanita itu keluar ruangan untuk membaca hasil pemeriksaan Xelano.


“Mama," kata El ketika bangun langusung melihat ibunya.


“Ia sayang?" jawab Tree sambil mengelus surai rambut putranya.


“Lihat Ma, buk doktel tusuk lengan Eng, sakit ini. Tapi kan Eng anak uat pembela kebenangan untuk Mama dan akak, Adinya Eng tak boyeh mengeluh, pasti ini karena eng seying godain si Kutu. Tubuh Eng encok nih Ma, mungkin karena eng juga sering main kelewat jam, bahkan eng uat mama marah. Lihat hasilnya tubuh eng cakit hingga di encus sama Ibuk doktel,” celoteh El menceritakan sakitnya di infus.


“Oh sayang ku, kau tidak apa-apa, putra mama ini kuat macem Ultraman. Apapun kedepannya mama akan menyembuhkan mu sayang ku, Mama janji," kata Tree memeluk tubuh kecil El, wanita itu tak mampu membendung air matanya.


“Mama nangis,” kata Em yang bangun tiba-tiba.

__ADS_1


El berusaha melepaskan pelukan sang mama, “Mama ngis, napa?" tanya El mengelap kelompok mata kanan sang ibu yang telah basah, begitu pula Em, gadis itu mengelus pipi sebelah ibunya.


“Mama nangis gara-gara om Syahrul Khan punya istri baru,” kata Tree mencari alasan.


“Nah kan, cudah Eng kata om Sayung khan itu Lepeboi," kata El memandang sang kakak.


“Lah, bukanya kamu yang ngebet pengen bapak Sahrul Khan, dan ralat El, Playboy bukan Lepeboi, Lepeboi itu produk sampo," kata Em, tak mau di salahkan.


“Yang mau cari bapak eh ralat Papa berotot itu siapa coba, padahal Papa idaman ku itu ya seperti Opak Rendra pedagang kain di pasar Senen itu,” gerutu Em.


Sedangkan El nampak acuh dengan gerutuan saudara kembarnya, “Encup.. Encup Ma, nantik kita calikan calon papa lebih ganteng dari Sayung Khan, ya kan kak?” kata El.


“Benar Ma, jika perlu nanti kita cari om duda di pinggir jalan, untuk kita undang biar mama coba satu-satu buat kencan buta," kata Em mulai semangat.


“Astaga siapa yang ngajarin dunia perdudaan dan kencan buta terhadap dua anak Mama yang lucu ini?" kata Tree menjawil pipi dua anak itu.


“Beneng tuh, kata bibik iyuh duyeng itu lebih menggoda loh, Ma," timpal El.


“Sudah jangan mikir kencang buat atau duda-dudaan dulu, hari ini kita akan pulang ke kota I," kata Tree lemah lembut.


“Lah kenapa, Ma?” tanya Em.


“Yah, aku tak main lagi dengan si Minclet sama si Kutu," kata El dengan nada sedih.


“Sayang dengarkan Mama?” Tree duduk di atas tempat tidur El. Wanita itu menarik kedua anaknya agar mendekat.

__ADS_1


“Kalian tau bukan, jika rumah sesungguhnya kita ada di kota I?” tanya Tree pada ke dua buah hatinya.


Dua bocah itu menganggukkan kepalanya...


“Kita akan pulang kampung sayang, karena uang kita sudah habis disini, sudah cukup jalan-jalan panjang kita,” kata wanita itu.


“Lah, Mama bankelut?” tanya El. Tree menganggukkan kepalanya.


“Apa karena bunga-bunga mati di taman sehingga Mama tak punya uang lagi?" tanya Em.


“Ia sayang, Kakak sama Adek mau makan apa jika Mama tak punya uang sayang,” kata Tree mengusap Surai rambut kedua buah hatinya.


Kedua anak itu diam sesaat, entah apa yang ia pikirkan yang jelas hanya dua bocil itu saja yang tau.


“Kasian Mama bangklut, apakah setelah ini kita di angkut pak sempol PP lalu di awak ke kantong poici?” tanya El.


Tree ngin tertawa ketika mendengar celoteh si bungsu.


Mendengar akan di angkut satpol PP wajah Em langsung pucat, ia sering nonton film azab yang mana ketika pemeran utamanya bangkrut hingga ia menjadi gelandangan hingga di bawa satpol PP keesokan harinya, karena ia jadi gelandangan.


“Ayo kita beres-beres ke rumah Ma, kita pulang kampung saja, aku tak mau Mama jadi gembel karena menuruti kemauan kita yang ingin di sini," kata Em bijak.


“Jika kita uyang ampung, beayti ketemu Papa dong!” kata El.


“Horee, ketemu Papa,” dua anak itu kegirangan.

__ADS_1


Jantung Tree berdegup kencang, Apakah aku bisa menemukan mu wahai Papa si kembar. Batin Tree menangis.


^^^To Be Continued ^^^


__ADS_2