Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



“Ketemu papa?” tanya Tree bingung, dada wanita itu bergemuruh, dag Dig dug der. Siapa tau secara sembunyi-sembunyi ke dua anaknya bertemu dengan Abang Gigolo itu.


“Ia Ma, disana kan banyak kandidat papa baru," sarkas Em.


“Ia, beneng kata ak Em, ciapa au selama ini mama tak beng celela sama owok Bali, macem teriteria mama owok okang” celetuk El.


“Lokal Em, kamu itu gak bisa nyebut L, R, S dek. Harus cepat di kerok nih lidahnya pas hari Jumat,” kata Em mulai sakit telinga mendengar suara cedal si dedek.


Suer deh jika kagak sakit ini anak pengen tak jitak aja aja dahinya, Mamanya ini bukan tak berselera cuma malas pacaran. Entah masih laku di pasaran dan nyarik pria yang siap beli satu geratis dua anak macem kalian. Batin Tree menjerit.


Wanita itu mendesah melihat kedua anaknya yang ceria.


Nak apakah segitunya kau mendambakan sosok ayah?


Mama hanya takut jika mama menikah, orang asing itu tidak menyayangi kalian tulis dari hati. Sebab semua singel parent di dunia ini hanya menginginkan pendamping yang mau mencintai anaknya.

__ADS_1


Begitupun isi hati ibu yang memiliki dua anak ajaib itu.


Ceklek.... suara pintu di buka, Hepi masuk ke dalam kamar rawat El, ada sisa air mata bertengger pelupuk mata wanita itu. Akan tetapi wajah Hepi yang teduh membuat siapapun akan nyaman dengan kehadiran wanita itu.


“Ayo tuan dan nona muda kecil kita harus bersiap-siap, satu jam lagi pesawat akan membawa kita pulang kampung," kata Hepi lembut.


Tree sebenarnya kurang nyaman di panggil Nona oleh semua orang, akan tetapi identitas nya yang sebagai nona ke dua keluarga WU serta tegasnya seorang Hepi jika sudah menyangkut identitas Nona nya. Maka dari semua pekerja memanggilnya Nona.


Tree memandang pembantu plus bodyguard nya itu sedikit ngeri, sebab di depan ke dua buah hati Tree, wanita itu menjadi sosok manis dan penuh keibuan. Sedangkan di luar sana si Hepi terkenal angker dan muka triplek. Entah seperti apa sifat Hepi sesungguhnya.


Hanya namanya saja Hepi akan tetapi, wajahnya datar tak berekspresi dan jarang bicara kepada orang lain selain Tree dan anak-anaknya. Si Bli Sat sama si Iluh takut dengan wanita itu, seakan aura nyai Kodam menyertai langkah kaki seorang Hepi.


Ini lah The Power Of Name, Meski orangnya macem kanebo kering, macem bunglon menyeramkan namanya tetap Hepi. Sampai kapan pun ini anak Tetap Hepi meski di lilit hutang yang tak mampu bayar. Batin Tree.


“Nona, ayo kita berangkat, Iluh dan Satyo sudah ada di bawah membawa barang-barang kita,” lapor Hepi.


....


....


....


#Bandara Ngurah Rai.

__ADS_1


“Selamat jalan Nona, jaga kesehatan disana, jika ada waktu main-main ke rumah, saya akan menjaga rumah anda dengan baik, meski tidak di gajih tidak apa-apa non, nantik saya buka stand makanan di depan rumah sama si Bli,” kata Iluh polos.


Tree memeluk tubuh Iluh, “Hus, kalian tetap di gajih kok sama aku, jaga rumah baik-baik, semoga tujuan ku pulang cepat tercapai biar bisa kembali, sebab aku betah hidup di pulau Dewata ini, dimana ribuan seni yang legendaris serta aura seni yang kental," kata Tree jujur, wanita itu pencinta seni.


Satyo merentangkan tangannya ingin memeluk tubuh Tree, belum melangkah mendekat ia harus diam membeku ketika melihat tatapan Hepi menusuk ke arahnya.


Mimih... Sire kayun merabian Nona?! nyingakin pawange sampun jejeh kene bli luhh, kangoang ngaleh lokal... Batin Satyo.


Artinya*(Astaga, siapa yang mau nikah sama nona. Lihat pasangannya sudah takut Kaka dek! terima nasib cari yang lokal aja).


“Iluh, Sat, saya pamit," kata Hepi.


“Hati-hati Mbok,” jawab Iluh dengan nada takut-takut serem.


“Hem,” jawab Hepi.


Rombongan itu memasuki kabin kelas 1, Tree duduk bertiga dengan putra putrinya sedangkan Hepi duduk di bangku barisan nomer 3 dari tempat Tree duduk.


Pesawat telah terbang siap ke negara I negara penuh luka bagi seorang Tree. Wanita itu memandang anak-anak yang tengah tertidur ia pun menggunakan penutup mata untuk meredam air mata di pelupuk matanya.


El bangun dari tidurnya, melihat ke kiri dan ke kanan, hingga mata bulan nan bening itu melihat sosok pria gagah tampan duduk di sebrang ia duduk.


Dengan susah payah El membelanjakan kakinya dikambin pesawat.

__ADS_1


El berjalan perlahan mendekati pria itu, “Halo Papa, mata ku ini beneng-beneng cehat, hingga mengenali mu,” kata El kepada pria tampan yang duduk di seberang kursi El.


^^^To Be Continued^^^


__ADS_2