Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Keanehan Alexis 1


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



Alexis meraup wajahnya gusar, lagi-lagi ia gagal menemukan wanita itu, ini sudah satu bulan setelah kejadian wajahnya di colek nenek-nenek yang memiliki bekas luka punggung gara-gara lupa meletakkan sertrikaan di kasurnya dengan posisi terlentang, si nenek yang lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas sertrikaan panas tersebut.


Orientasi nya memang sudah normal bahkan ia bisa berolahraga lima jari hingga merasakan kepuasan ketika si jon memuntahkan susu kenal asjon (asin milik Jon), akan tetapi hingga saat ini si Jon masih ngambek tidak mau hidup jika sang tuan duduk dengan wanita.


Bahkan segala macam telah Alexis lakukan, seperti menghipnotis si Jon agar melupakan rasa lama agar bisa memakan rasa baru. Tapi hasilnya malah lebih parah lagi, sebab efek sampingnya si Jon bertapa lagi hingga dua Minggu lamanya.


Maka dari itu, ketika si Jon bangun dengan keadaan ngambek, Alexis tak pernah memaksa sahabatnya lagi untuk anu, ia hanya melakukan terapi pencintaan, yaitu melihat orang nuna nunu di depannya, jika si Jon tetap tidak berminat lima menit kemudian ia meninggalkan arena tempur orang tersebut.


Tidak ada acara gerape-gerape seper yang Alexis lakukan kepada setiap wanita yang ia temui, karena pria itu begitu takut sahabat nya ngambek hingga mati selamanya.


“Hey wanita? Dimanakah kau sekarang? Apakah benar kata Mama, saat ini kau terpuruk di sebuah kegelapan malam seperti diriku yang merindu tapi entah siapa yang di rindukan,” kata Alexis memandang cahaya bulan dari kaca kantornya.


Malam ini pria itu memungkinkan kesunyian, yaitu di berdiam diri di kantornya seorang diri.


“Apakah aku tak pantas mendapatkan mu? Apa karena sedari kecil aku begitu suka mempermainkan hati wanita, sehingga kau tak mau, aku?” begitu banyak yang Alexis tanyakan, tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya malam itu, sebab ia hanya seorang diri.


“Kau seperti bulan, datang di gelapnya malam, lalu hilang di siang hari, padahal kau selalu ada di pelupuk mataku karena bulan tak pernah neninggalkan buminya hanya keberadaannya tersembunyi hingga tak mampu kita lihat di siang hari karena tertutup sinar mata hari yang besar. Sama halnya dengan mu, yang selalu datang di malah hari meski hanya lewat mimpiku, sedangkan di siang hari aku tak menemukan mu hanya bayangan mu lah yang selalu ku ini, apakah kau sebuah kefatamorganaan dalam hidupku?" kata Alexis dengan wajahnya yang sendu.


“Apakah tidak ada kesempatan untuk ku bersatu dengan mu?”


“Takdir begitu kejam kepadaku. Aku hanya ingin menjadi pria normal agar kedua orang tuaku tidak sedih ketika mendengar putra satu-satunya yang mereka miliki cacat,”


“Aku tahu tangis ayah ku, yang sebenarnya ingin memiliki anak kembali akan tetapi ia tak sanggup menyakiti mama, ia begitu kesepian ketika aku telah beranjak dewasa,”


“Aku tau mama ku mengidamkan seorang cucu ketika melihat buah hati Ken dan putri Sean begitu menggemaskan di rumah kami.”


“Apakah aku tidak boleh mengajukan tawar menawar dengan mu Tuhan? pliss hanya ini saja, tidak untuk yang lain. Katakan padaku, apa yang harus ku bayar untuk sebuah keajaiban, kau bisa memilih mau Jet pribadi atau setengah kekayaan ku. Akan ku berikan tuhan!”


“Tuhan... Aku hanya ingin normal, karena kekayaan ku tak mampu membuatku bahagia. Sebab kekayaan itu bukan tolak ukur kebahagiaan, aku gila menawarkan barter dengan mu. Ini benar-benar titik terendah bagi, ku,” air mata Alexis tumpah seketika.


“Mungkinkah diriku ini dapat menjadi manusia yang ku impikan?”


“Ohhh... Tuhan, aku tak berani bermimpi, karena bermimpi itu sakit. Aku seperti ini selama ini hanya ingin menjadi seorang pria yang pantas mendekati dia gadis yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.”

__ADS_1


“Ohhhh, dia adalah kemustahilan yang tak mungkin aku dapatkan dan mulai detik itu, aku mengubur angan untuk memilikinya atau berharap sedikit pun terhadapnya. Izinkan aku meminta maaf kepada wanita yang ku nodai itu, jika ia tak mau hidup dengan ku, aku akan melepaskannya.”


“Biarlah tubuh ini dingin hingga akhir ku, kelak, aku ikhlas,"


“Salah aku juga berharap menggapainya sedangkan aku tak bercermin pada diriku sendiri. Aku cacat dan ia di ciptakan sempurna. Biarlah dunia tau seberapa bejatnya aku menjadi manusia.”


”Cukup aku Dan kau saja yang mengetahui kebenaran tentang ku. Tuhan,”


Malam itu Alexis tak memejamkan matanya sedikitpun, ia berkeluh kesah hingga pagi menjelang, entah kapan ia tertidur yang jelas saat ini posisi pria itu tertidur dengan kepala berada di atas meja kerjanya, seperti anak sekolah yang tertidur.


Klotak... Kelatuk... Bunyi sepatu pantofel yang mendekat tak mengganggu tidur sang tuan muda.


Bahkan sinar mata hari yang mulai menembus kaca karena tirainya tidak di tutup, akan tetapi sinar sang mentari tak mampu mengusik tidur Alexis.


“Bro, bangun!” Fren mengguncang lengan Sahanaya. Ya, pria itulah yang datang ke ruangan sang bos untuk mengingatkan si bos agar bersiap-siap meeting sekitar 1 jam lagi.


“Hem,” jawab Alexis.


“Bangun, kita ada Meeting dengan PT Maju Mundur,” Kata Fren.


Pria itu membuka matanya, merenggangkan otot yang kaku, karena tidur di posisi yang salah.


“Kau lembur sampai jam berapa semalam?” tanya Fren.


Pria itu mendorong sahabatnya ke samping. ia berlari ke kamar mandi lalu...


Uwek... Uwek... Uwek... Alexis muntah muntah dengan hebat.


“Lex, kau kenapa?” tanya Fren.


“Menjauh dari ku, kau bau bangkai,” kata Alexis melanjutkan acara muntahnya.


Fren langsung menelpon Star karena rasa khawatir yang berlebihan. Tak lama kemudian Star pun sudah ada di ruangan sahabat nya itu.


Ceklek... Pintu di buka, wajah Alexis yang pucat serta tubuh yang lemas pula muncul dari bilik kamar mandi.


“Lex,” panggil Star.


“Akhirnya kau datang, sepertinya aku masuk angin, Alexis mendekati star, ketika pria itu berdekatan dengan Star Alexis lagi-lagi muntah hingga berceceran di lantai.


Uwek... Uwek... Uwek...

__ADS_1


“Menjauh kalian dari ku, apa kalian habis membunuh musuh tadi sehingga bau bangkai melekat di tubuh kalian itu," umpat Alexis.


Dua pria itu mengaga melihat perubahan sahabatnya yang mulai Gendeng di pagi hari. Sebab mereka telah siap berkerja, bahkan tubuh mereka sudah wangi dan rapi, malah di tuduh habis membunuh orang.


“Fren cepat kau carikan wewangian serta obat Antikmo. tubuh ini sudah tak sanggup,”


Gedebukkk.... Alexis pingsan tanpa aba-aba.


“Astaga Alexis," dua pria itu menggotong Alexis ke kamar pribadi pria itu.


Star dengan serius memeriksa sahabatnya itu, Fren sudah membawakan sarapannya juga.


“Aduh kepalaku sakit," rintih Alexis.


“Akhirnya kau sadar,” kata Fren.


“Menjauh dari ku!" perintah Alexis pria itu muntah-muntah hebat, seperti tadi beruntung mereka menyediakan ember di bawah ranjang.


Uwek... Uwek... Uwek...


Kedua pria itu berdiri di pojokan, barulah muntah Alexis berhenti.


pria itu mengambil masker lalu mengupas jeruk membuang isinya ke tong sampah lalu memakan kulitnya.


“Astaga Alexis! Katakan padaku, santet mana yang mencelakai mu. Bilang pada dedek gemes ini, akan ku kirim balik sekarang juga, mumpung tadi ada yang menawariku santet online di aplikasi shop!" kata Star khawatir.


Mudah mudahan si Alexis habis ini tidak minta makan paku dan kemenyan. Batin Fren.


“Fren!” panggil Alexis.


“Ia?" jawab Fren.


“Kau belikan aku jeruk seperti ini 5 kg, serta bermacam-macam buah, rasa mualku hilang ketika memakan mereka seperti ini," kata Alexis mengunyah kulit jeruk yang kelima.


“Ba... Baik,


“Eh, aku juga mau titip nasi kucing dengan ekstra sambal setan,” kata Alexis, entah mengapa ia mengungkapkan makanan yang kapan hari ia lihat di pinggir jala.


Fixs... Alexis kenak santet ini! Batin Star.


^^^To Be Continued^^^

__ADS_1


Rekomendasi karya author keren nih Besty ❤️ Kepoin Yuk 😘



__ADS_2