
Hay para kesayangan nyai...
Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗
Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘
Karena sindiran pedagang cilok dua orang yang terlanjur malu hingga si Tree melupakan motor yang ia pinjam di tinggal di tempat tadi, padahal si pak Kun pemilik motor mau pulang menunggu motor tersebut. Entah bagaimana caranya saat ini mereka berada di Mal ketiga orang itu hanya mengikuti sopir dadakannya.
“Papa-papa, lihat itu dong dong, Eng mau naek," pinta El ketika melihat sebuah tempat permianan.
“El, panggil dia tuan Alexis,” Kata Tree memperingati putranya, wanita itu risih anaknya memanggil orang asing dengan sebutan papa.
"Biarkan saja. El dan Em mau main?" tanya Alexis lembut, pria itu sampai berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan si gadis Em yang berjalan menggandeng lengannya.
“Mau, mau," kata El girang.
“Em, boleh kan ikut mandi bola, Ma?" tanya gadis kecil tersebut dengan wajah penuh permohonan ke pada sang ibu di belakang mereka.
“Boleh dong sayang, sana main sama El," kata Tree mengusap rambut panjang Em tak tega untuk melarang.
“Ye, ye... Yok kak main,” ajak El turun dari gendongan Alexis lalu menarik lengan kakaknya.
Tree memijat kepalanya yang tiba-tiba pening. Pertemuan anak-anak dengan si bos membuat keberadaan Tree tergeser. Bahkan saat ini ia seperti Minah sungguhan, sebab penampilan babunya menjadi perhatian semua orang yang berpapasan dengan mereka membuat mood wanita itu jelek.
Siap-siap aku download santet untuk menyantet mu tuan. Berani-beraninya kau mengambil perhatian anakku. Batin Tree menjerit. Untuk pertama kalinya wanita itu jengkel dengan penampilan.
Bayangkan Tree datang ke Mall menggunakan daster serta sandal jepit yang kalian tau lah mereknya apa.
Parahnya ia menjadi bodyguard di belakang sedangkan anak-anak tiba-tiba di ambil sama bos sialannya itu hingga menjadikannya pemeran pembantu.
Tree tadi mengira Bosnya akan mendorong anak-anak karena kegalakannya yang hakiki. Nyatanya pria itu bersikap begitu lembut tak seperti perangainya yang sangat jelek hingga Tree saja sangat tidak menyukai sifat bosnya itu. Entah mantra apa yang Alexis gunakan hingga mencuri perhatian anak-anak.
Jika kalian mengira Tree akan baper dengan kelembutan tuannya, jawabannya salah sebab wanita itu semakin waspada. Takut bosnya itu menjadikan kedua buah hatinya sebagai sandra untuk menindas dirinya di hari esok.
Aku tak bisa membiarkan ini. Batin Tree.
__ADS_1
“Bentar deh, mereka kenapa akrab dengan garangan buaya itu?" gumam Tree mulai curiga sebab anak-anak sama sekali tidak asing dengan keberadaan Alexis.
“Kenapa mereka kembali?” tanya Alexis ketika dua bocah itu kembali ke tempat dimana kedua orang tuanya berdiri canggung dengan pikirannya masi masing-masing.
“Kenapa Em?” tanya Tree kepada gadis kecilnya.
“Em, mau cium Papa Mama,” kata gadis itu sok malu-malu.
“Anak gadis Mama makin manis sih," Tree berjongkok memberikan satu ciuman dan tapa kata-kata Alexis mencium kening si cantik kloning Tree versi kecil.
Cup...
“Eng, ugak au ium papa mama, tapi pipi kili di ium mama, pipi nanan di ium papa belbalengan,” pinta El berdiri di tengah-tengah orang tuanya.
“El sayang, dengarkan Mama, dia itu bukan papa El, papa El belum pulang dari lubang buaya. El masing ingat iklan pengasuh buaya yang dua Minggu hilang tanpa kabar?" tanya Tree mengusap rambut hitam putranya.
Dua anak itu langsung mengangguk ketika mengingat iklan lowongan kerja di aplikasi FancetBuuk yang berlogo putih biru dengan inisial F itu. Kaum Melisial baru ngerti aplikasi tersebut.
Seketika wajah El maupun Em menjadi mendung, bahkan butiran air mata tergenang di pelupuk mata pria kecil yang mudah sekali baper.
“Hey, boy. Anak pria tidak boleh nangis, Sini cium Papa," kata Alexis mengusap Surai rambut El.
Kenapa dadaku bergetar ya ketika dua bocah ini sedih? Sepertinya sebutan papa membuat hatiku, bahagia. Batin Alexis.
“Boleh?” tanya El dengan mata El berbinar.
“Boleh dong,” kata Alexis.
“Eng hitung catu campek iga, Papa Mama ium Eng,”
“Catu ... iga,” Ale memeluk leher kedua orang tuanya.
Pria kecil itu mundur di hitungannya yang tidak benar...
Cup ...
“Yeye.. yeye, Papa mama ciuman," Teriak Em kegirangan, seperti habis meniup lilin ulang tahun. El menarik lengan Kakaknya.
__ADS_1
Mata dua orang dewasa itu terbelalak ketika hidung keduanya bertabrakan, bibir saling menempel, dunia mereka seakan membeku.
Ceklek... Momen itu di tangkap oleh kamer orang-orang yang ada di sekitar mereka.
“Sepertinya kisah Babysiter menjerat cinta bosnya seperti di dunia nopel-nopel ada di dunia nyata,” kata para deterjen yang ada di sana.
“Kau mencium ku bos!” geram Tree mencubit lengan Bosnya, si El dan Em yang menjadi biang kericuhan lari masuk ke arena permainan.
“Cuihhh, kau yang mencium ku babu,” umpat Alexis menarik tangan Tree agar melepaskan cubitannya.
“Alah, buaya seperti anda ini pasti suka mencuri ciuman para wanita baik-baik seperti saya,” kata Tree mengambil ujung dasternya untuk mengusap wajahnya yang kinclong layaknya ada kotoran di wajahnya.
Dada Alexis kembang kempis tak beraturan, marah dan ingin memisahkan kepala dan leher pembantu sialannya itu.
“Akhirnya aku menemukan mu, Sayang!” kata seorang pria yang sangat Tree kenali.
^^^To Be Continued^^^
Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh Nyai Gendeng Permanen 🙏🙏🙏
Jangan lupa
Like👍
komentar🗣️
Hadiah🎁🌹☕
Vote 🔥
Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.
Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini
Rekomendasi Novel :
Sambil nunggu Eneng Tree up kepoin karya kawan nyai nih 😘❤️
__ADS_1