Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Pemakaman


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



Tree saat ini berdiri layaknya patung, kaku sambil memegang bingkai foto milik sang Kakek, Pandangan gadis lurus memandang jasad sang kakek yang perlahan di tutupi tanah.


Tiada kata yang mampu gadis itu ucapkan. Tiada tangis, seakan air matanya telah kering.


Pemakaman sang Kakek di lakukan dengan cepat karena di bantu oleh orang-orang kiriman keluarga Samarta.


Kakeknya yang orang biasa. Siapa sangka ketika tutup usia begitu banyak orang berjas hitam dengan mobil mewah datang ke rumahnya untuk melayat.


Dibawah pohon Kamboja yang begitu rindang adalah peristirahatan terakhir sang Kakek. Bersisian dengan Nenek dan kedua orang tua gadis itu. Hari ini gadis yang bernama Trea Desmond sah menjadi sebatang kara.


Sekelebat ingatan Tree muncul..


“Kek, apa yang harus kita lakukan ketika keluarga kita kembali ke sisi tuhan?” tanya Tree kecil memegang sebuah Lollipop di tangannya.


“Yang harus kita lakukan hanyalah ikhlas sayang!” kata Kakek.


“Kenapa kita harus ikhlas? Bukannya tuhan mengambil apa yang kita miliki. Ia telah memisahkan kita dengan orang yang kita sayang,” kata Tree kecil.


“Tidak sayang, kita adalah miliknya. Kita hidup hanya untuk kembali. Kita hanya meminjam tidak lebih. Kau tau meminjam?” Tree menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


“Benar, apapun yang kita pinjam harus di kembalikan, hanya menunggu waktunya saja. Kau pun harus ikhlas jika tuhan menjemput Kakek kelak, dan kau tak boleh menangis ketika tubuh ini di tutup dengan tanah... Promise...” Kakek memberikan jari kelingkingnya ke hadapan Tree, lalu di sambut kembali dengan jari kelingking kecil milik gadis 11 tahun yang kepalanya tengah di perban.


Tree tidak tau jika perpisahan begitu sangat menyakitkan. Dunia Tree hari ini goyah. Angin sepoi-sepoi di pemakaman terasa begitu menusuk tulang gadis 18 tahun itu, seakan jarum beracun siap melumpuhkan jiwa dan raganya.


Ribuan kenangan antara kakek dan cucu terputar di telinga Tree, Telinga gadis itu berdengung layaknya kaset tak kasat mata.


Kenapa harus ada pertemuan jika berujung dengan perpisahan serta rasa sakit tuhan?.. Batin Tree menjerit.

__ADS_1


“Hai nona, semoga kau selalu tabah dan cepatlah bangkit, raihlah apa yang kau impikan. Hidup tak hanya sampai disini, buatlah Kakek bangga padamu,” kata seorang wanita yang begitu Tree kenali.


Sebab wanita itu adalah artis papan atas dan istri kesayangan putra mahkota keluaga WU. Tree begitu mengidolakan sang artis, akan tetapi suasana berkabung membuat gadis itu tak berteriak histeris dan memeluk sang idola.


“Apakah anda mengenal kakek saya nona Aya MA?” tanya Tree lirih.


“Aku tak kenal beliau, akan tetapi Kakek mu adalah pengasuh pria yang paling aku sayang, liat di seberang sana, pria yang berjongkok menangis itu, suamiku,” tunjuk Aya MA, dimana saat ini Suaminya tengah menangis sesugukan macem anak kecil, padahal cucunya tak selebai suaminya itu.


Tree menganga melihat pria 25 tahun berjongkok di seberangnya berdiri. Gadis itu tidak pernah menginjakkan kaki di istana keluaga WU semenjak Kakeknya berhenti bekerja di rumah tersebut dan Tree telah melupakan kenangannya di masa kecilnya.


Gadis itu melihat ke sekeliling makam, ternyata begitu banyak cogan yang berdiri disana, mengantarkan sang Kakek ke peristirahatannya yang terakhir.


Tree tidak mengenali pria-pria tampan di tempat itu.


Deg... Sepasang mata tanpa sadar saling memandang, ada getaran aneh yang di rasakan dua insan itu, akan tetapi Tree mengalihkan pandangannya, membiarkan si pria memandangnya tanpa berkedip.


“Lex, jaga mata mu, ini kuburan. Apakah keplayboyan mu ini berlaku untuk para demit cantik penunggu kuburan ini?!” geram Mama Yumna.


Semua keluarga WU datang ke tempat itu. Karena sedari pulang dari rumah sakit Tree membisu tak satu patah katapun ia lontarkan kepada setiap orang yang memberikan belasungkawa terhadapnya. Jika Aya tak menyapanya mungkin ia tidak tau yang datang adalah keluaga WU yang tersohot.


....


Jasad sudah terkubur sempurna, sebuah nisan terbuat dari keramik tertuliskan nama sang kakek telah terpasang nyata di depan gadis itu. Saat ini Tree hanya mampu memandang dan meratapi, satu persatu orang pamit dari pemakaman.


Hanya tinggallah Tree dan kedua sahabatnya yang tak beranjak pergi meninggalkan makam tersebut. Raganya berada di masa depan tapi jiwanya berada di masa lalu dimana kenangan manis berputar indah.


Brukkk.... Tubuh Tree duduk di atas tanah... Kepala gadis itu saat ini berada di atas gundukan tanah yang di taburi bunga mawar dan irisan daun pandan.


“Kakek...,” tubuh gadis itu terguncang, akhirnya tangis gadis itu pecah.


“Ta, saat ini aku telah sendiri..."


“ Aku seorang gadis yatim piatu saat ini berada di atasan gundukan tanah sosok terkahir Keluarga ku yang aku punya, hari ini aku sah menjadi sebatang kara.”


“Kau masih memiliki kami Tree!” kata kedua sahabat Tree itu.

__ADS_1


Langit yang Terik seketika mendung, rasa dingin dan hembusan angin semakin kencang menandakan hujan sebentar lagi akan turun.


“Tuhan aku ingin berkeluh kesah untuk yang terakhir kalinya...” Kata gadis itu, dan kedua remaja hanya diam siap mendengar keluh kesah sang sahabat..


“Kata orang mencintai itu begitu sakral. Akan tetapi kenapa sebuah cinta itu membuatku jatuh ke jurang kehilangan yang terdalam.”


“Tuhan... Aku seorang gadis mandul meratapi nasib ku yang paling tidak beruntung di dunia ini. Aku Mohon terima doa gadis bernasib sial ini, berikanlah tempat terindah untuk pria rapuh yang selalu kuat merawat ku seorang diri tanpa berkeluh kesah, ia sosok yang paling ku sayangi telah kembali ke sisi mu....”


“Kenapa dunia itu kejam dan fana? Kata orang setiap manusia berhak bahagia akan tetapi nyatanya ada aku yang selalu menderita. Aku janji setelah ini tak akan mengeluh lagi pada mu...”


“Aku ini hanyalah seorang gadis tak pernah bersyukur menatap di atas gundukan tanah tempat peristirahatan semua keluargaku.”


“Tuhan ....”


“Jika dunia itu menyakitkan kenapa kau tetap membiarkan aku hidup ketika dunia telah berpaling dari ku...,”


“Ayah ... Bunda ... Kakek telah pergi meninggalkan ku sendiri tuhan, mulai saat ini hidupku hanya sendirian hingga akhir hayat.”


“Tree makanlah yang banyak jadilah gadis sehat agar ketika kau besar banyak pria memandang mu kagum dan memberikan cinta mereka kepadamu,” suara Bunda Tree terdengar jelas di telinga gadis itu, seumur hidup ia melupakan semua kenangan manis dengan kedua orang tuanya.


“Tuhan apa itu suara bunda? jika ia katakan kepadanya, Tree rapuh, ingin di peluk...”


“Tree dingin karena tak ada yang mampu memberikan pelukan hangat dari mereka.”


Samarta dan Flexi memeluk tubuh gadis yang terguncang.


“Ada kami Tree, sampai kapan pun akan selalu ada untuk mu, hidup kita masih panjang.” kata Flexi.


“Tuhan... Maafkan aku karena aku duduk di pemakaman ini bukan berdoa aku malah berkeluh-kesah.”


“Jika itu memungkinkan bolehkah aku meminta kepadamu agar aku menyusul semua keluarga ku.”


“Aku lelah untuk berjuang, aku rapuh untuk bertahan, apa sebaiknya aku kubur tubuh ini hidup-hidup?”


“Kau tak sendiri sayang kau masih memiliki ku ibumu!” kata seseorang wanita di belakang tubuh gadis kecil tersebut.

__ADS_1


^^^To Be Continued^^^


__ADS_2