Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Terciduk


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘


....


....


Setelah 30 menit memacu kuda besinya Tree memarkirkan motornya lalu berdiri di depan gerbang sekolah TK Karang Minjem. Dimana tempat putra putri nya mengenyam pendidikan.


“Sepertinya anak-anak belum belum keluar deh," gumam Tree sambil menoleh ke arah ibuk-ibuk yang tengah menunggu anak-anaknya.


“Lah bukannya itu si anu," kata Tree mendekati seorang pria yang sangat ia kenali.


Layaknya orang yang siap menangkap basah maling Tree berjalan mengendap-endap agar tak di ketahui oleh orang Tersebut.


Plak... sebuah tepukan di punggung seorang pria yang tengah berjongkok di belakang mobil. Sepertinya si pria mencari sesuatu yang tiba-tiba hilang.


“Astaga, siapa sih. Jangan ganggu deh, aku lagi bertugas," pekik pria itu, sambil mengelus bahunya yang panas tanpa melihat siapa yang menepuk.


“Ngapain om di sini?” tanya Tree.


Pria itu merogoh sakunya, mengeluarkan uang seribu rupiah, lalu menjulurkan ke arah belakang, “Sana pergi, jangan nyanyi dulu, nantik tugas negara ku berantakan," kata pria itu.


“Aduh, seribu mana cukup om, Tempe aja 3 ribu loh," kata Tree mulai gemas, sungguh wanita itu ingin menendang bokong pria di depannya.


“Dasar pengamen," pria itu mengeluarkan uang lima ribu lalu membalikkan tubuhnya ke arah si pengamen.


Pria itu merasa jengkel dengan si pengganggu di belakang nya ia membalikkan badannya lalu tubuhnya terjungkal ketika melihat orang yang di ikutin malah ada di depan mata.


“Tree," kata orang itu.


“Kenapa bos? Anda kaget melihat saya?" tanya Tree bersender di belakang mobil yang menjadi tempat persembunyian si bos.

__ADS_1


Alexis yang terduduk di atas aspal tidak menyangka bahwa tertangkap basah sekarang juga. Tadi ia menyuruh anak buahnya akan tetapi jiwa keselnya ingin menangkap basah kekurangan Tree yang tak pernah punya kelebihan itu. Sehingga ia terjun sendiri untuk urusan buntut membuntuti.


“Anda tidak mau bangun bos?" tanya Tree memandang wajah si bos dengan intimidasi. Sejujurnya nyai bingung disini itu siapa yang sebenarnya bos.


“Lah kenapa kamu berada di tempat ini?” Alexis.


“Bukannya anda sedari tadi membuntuti saya?" tanya Tree tegas.


“Dasar pembantu baperan, jangan jangan setelah ini kau menuduhku jatuh cinta padamu. Aku ada di manapun terserah aku selama semua tempat bisa ku pijak," kata Alexis mengalihkan perhatian.


“Ia lah tuan, karena seorang Trea Desmond ini memiliki kecantikan yang paripurna tiada tara memelihi Mimi peri, bahkan Sarung Kan jatuh saja jatuh cinta sama saya," PD si Tree.


“Cih aku tuh berhenti disini itu untuk memeriksa ban mobil ku bocor, Jadi wanita macem orang-orangan sawah saja pdnya selangit, sayang banget wanita impian ku itu Karina Kapur barus," kata Alexi.


Perdebatan mereka perlahan mulai menjadi menjadi perhatian orang.


“Mama,” panggilan itu mengalihkan perhatian Tree.


“El, Em,” sapa Tree ketika melihat dua buah hatinya berada di belakang tubuhnya.


“Oh sayang ku," Tree merentangkan tangannya lalu menyambut ke dua buah hatinya kedalam pelukannya.


“Mama kerja sayang, cari uang untuk Para kesayangan Mama ini,” kata Tree.


“El, Lindu mama, El juga lindu para pembaca apakah pembaca lindu El juga? Soangnya belapa epicode kita tak belsua.” kata El.


Alexis bengong melihat dua bocah yang tak asing di matanya. Ia bingung mau masuk adegan nomer berapa di antara tiga orang itu.


“Ih, Mama rindu El juga sayang. El cukup sehat saja mama sudah bahagia,” kata Tree menyeka air matanya.


“Eh, Papa ada di sini?” kata Em.


“Papa?" tanya Tree bingung.


“Ia, papa datang jemput kita juga. Ye ye ahingnya papa pulang dari lobang uaya," kata El melepaskan pelukannya dari sang bunda.

__ADS_1


“Endong pa, endong,” El merentangkan tangannya minta di gendong. Alexis langsung menggendong tubuh gembul El tanpa kecanggungan.


“Mas, Mbak, berantemnya di bungkus bawak pulang dulu, lalu lepaskan saja di atas ranjang. Anak kalian dari tadi menjadi penonton adu mulut orang tuanya. Sungguh tak patut menjadi orang tua," kata pedagang cilok.


“El," panggil Tree.


“Maaf tuan muda, anak-anak saya setiap melihat pria dewasa menganggapnya ayah padahal ayahnya sudah ko'id gantung diri gara-gara terhimpit ekonomi," jelas Tree agar si bos tak mengorek informasi tentang suaminya.


Dua anak itu tak mengerti dengan apa yang di bicarakan sang ibu.


“Pa, ini mama kami. Cantik kan? Ayo berkencan sama mam,” kata Em bergelayut manja di lengan Alexis.


....


....


^^^To Be Continued^^^


Terimakasih atas dukungan kalian di karya receh Nyai Gendeng Permanen 🙏🙏🙏


Jangan lupa


Like👍


komentar🗣️


Hadiah🎁🌹☕


Vote 🔥


Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di rating pojok popularitas karya ini.


Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini


Rekomendasi Novel :

__ADS_1


Sambil nunggu Eneng Tree up kepoin karya kawan nyai nih 😘❤️



__ADS_2