Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Pingsan Lagi.


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



(Ganteng gak El nya, cepet sembuh ya ell, tega bener si nyai itu bikin dedek emes kita sakit🤧🤣)


.....


....


“Maaf anak-anak saya yang telah mengganggu kenyamanan tuan-tuan," Hepi menundukkan kepalanya memohon maaf.


“Ayo anak anak," ajak Hepi.


Dengan berat hati si kembar meninggalkan kursi pria-pria tampan itu. El menolehkan kepalanya seakan tak iklas dengan perpisahan ini.


Krik... Krik... seketika kursi para pria itu senyap.


“Astaga, sejak kapan Alexis kita yang gagah berani ini di bilang duda,” kata Fren menaikan kaki kirinya ke lutut sebelah kanan.


“Bro, sepertinya aku harus mengganti perawatan wajahmu ini, bahaya bro. Apa sekalian aku cek muka mu untuk mengecek kerutan di bagian-bagian tertentu. Tenang bro, aku akan setrika semua kerutan yang ada di wajah mu agar kencang lagi.”


“Sialan kau Star," umpat Alexis.


“Aku takut besok ada anak kecil lainnya yang menyapa mu dan menawarkan neneknya kepadamu. Kamu masing belum lupa kan, insiden pencarian luka punggung yang berujung nenek nenek yang hadir,” tanpa sadar Star mengingatkan Alexis dengan wanita itu.


“Sit, bisa diam tidak," Alexis mengambil penutup matanya, lalu tidur tanpa menghiraukan ledekan para sahabatnya.


Kenapa aku ingin anak itu lebih lama berada di depan ku? Hey wanita, kau apa kabar, aku rindu. Batin Alexis frustasi.


Pria itu begitu merasakan sedikit rasa nyeri di dadanya ketika melihat punggung kecil dua anak tadi pergi bersama ibunya.


Sepertinya batin ini ingin punya anak, tapi bagiamana cara membuatnya, sedangkan aku tidak punya loyang yang pas untuk ku jadikan wadah adonan si Jon. Batin Alexis frustasi.


Mata gadis kecil itu sepertinya kenal tapi dimana ya? Begitu banyak gerutuan Alexis hingga pria itu tertidur.


....


....


Bandara Chachingan kota I.

__ADS_1


“Tree...," panggil seorang gadis yang sudah mulai dewasa. Gadis itu adalah Samarta. Gadis itu berteriak karena melihat sahabatnya keluar dari ruangan pemerikasaan.


“Taa,” Teriak Tree, dua wanita itu saling berpelukan melepas rindu, mereka sudah 6 bulan tak berjumpa karena Samarta tengah sibuk menjadi seorang dokter muda.


“Halo anak-anak Deddy," sapa Flexi berjongkok merentangkan kedua tangannya.


“Oh, Deddy Unta," girang dua bocah itu.


“Selamat datang di rumah anak-anak Deddy Unta,” kata Flexi memeluk kedua bocah kecil itu.


“Didi uta, apa cetelah puyang dari cini, Didi mengajakku menaiki para unta, milik Didi?" tanya El.


“Tentu dong boy, kalian boleh memilih unta mana yang kalian ingin tunggangi, kebetulan baru tadi pagi Deddy kedatangan 5 ekor unta janda,” kata Flexi.


“Yeye... ye ye.. naek unta janda ... naek unta janda," sorak dua bocah itu sambil melompat-lompat kegirangan.


“Heh goyangan Jumat Kliwon, kau rupanya yang mengajari para bocil ku istilah janda, heh!” Tree berkacak pinggang.


“Lah kenyataan loh aku kedatangan unta janda beb, karena mereka sudah kawin beberapa kali di Saudi Arabia sana sebelum merantau ke rumah ku," kata Flexi mencari pembelaan.


Tadi sebelum berangkat Tree mengabari kedua sahabatnya, bahwa ia akan kembali.


“Aw," rintih El.


“Kenapa cih Mama ini, Eng hanya ingin currrrr," El memegang area di bawah pusarnya, terlihat jelas anak itu tengah kebelet pipis.


“Ayo Mama antar," ajak Tree.


“No... no... Eng cudah besal, Eng di anteng Didi Uta aja," pinta El.


“Baiklah boy, ayo kita ke kamar mandi dulu setelah itu kita pulang,” kata Flexi mengangkat putra sahabatnya itu.


“Baiklah, jangan lama-lama ya," pesan Tree.


.....


....


KAmar mandi.


“Ded,” panggil El.


“Kenapa boy?" tanya Flexi.


“Aku masuk sendili ya, Ded tunggu di depan saja,” pinta El.

__ADS_1


Kloning... Konang... bunyi ponsel Flexi.


“Ada tempon tuh, Eng hanya currrrr, tak usah di bantu pegang kok Deddy Unta,” kata El.


“Baiklah, Deddy ada di depan pintu ya boy, tau kan caranya Currr?” tanya Flexi.


“Aman ... aman Ded,” El mengacungkan jempolnya.


“Baiklah,” sesuai perjanjian Flexi menunggu di luar bilik.


....


....


“Ahhh, nyaman cekayi," lenguh bocah kecil itu membalikkan tubuhnya.


“Om," panggil El ketika melihat Alexis keluar dari bilik kamar mandi sebelah.


“Eh, bocah kau mengikuti ku ya?” tuduh Alexis.


“Isss, ndak lah om, Eng beyet Currr. Sepengtinya kita berjodoh nih om," kata El dengan mata berbinar.


“Bocah kau tak takut ku tembak?” ancam Alexis.


“Mana tembaknya om, El boleh mintak catu," pinta El kecil.


“Is anak ini anaknya siapa sih, muncul macem demit saja," gerutu Alexis.


“Ahhh... aku ingat. Sebentang yang Om," El merogoh sakunya.


“Om, ini nomeng hp mama ku dan kaltu kencang buta dengan Mama, aku kasik tiga kaltu untuk eman-eman om, siapa au Mama butuh piyihan,” El mengusap hidungnya berulang-ulang dengan punggung tangan yang memegang kartu.


“Heh, bocah kau kenapa?" panik Alexis, ketika pria itu melihat darah mimisan keluar dari hidung si bocah.


“Lah, hidung Eng b-o-c-o-l,”


BRUKKK.... Tubuh bocah itu tak sadarkan diri lagi.


“Bocah-bocah kau kenapa? Bangun tidak? Jika tidak bangun ku tembak nih. Hey, jangan menakut-nakuti ku,” Alexis mencoba membangunkan si El yang malang.


^^^To Be Continued ^^^


Rekomendasi karya kawan nih, mampir yuk❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2