
Hay para kesayangan nyai...
Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗
Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘
“Ta, tidak apa-apa kita masuk ke tempat ini? Kita masih remaja loh,” ungkap Tree apa adanya.
Mereka masih di dalam mobil, enggan untuk turun.
“Ayo kita keluar, aku mau mengajakmu ke suatu tempat yang ada di dalam club ini, kita harus mengganti kostum dan mengisi perut kita, ini masih sore Tree, entar malam baru waktu nya bersenang-senang...,” Samarta mengeluarkan kartu sakti Mandra guna ke arah gadis itu.
“Dari mana kau memiliki karya member VIP ini Ta?” tanya Tree kaget.
“Hahahaha aku hanya meminjam kepada Kakak sepupuku!" kaya Samarta.
Flashback ON.
“Kak Star!" panggil Samarta memasuki kamar kakak sepupunya itu.
Crik... Crik... Crik... Gemercik air terdengar jelas di Indra pendengaran gadis 18 tahun itu.
Dorrr... Dorrr... Samarta menggedor pintu kamar mandi kakak sepupunya itu.
Sitt... umpat Star mematikan kran, padahal rambut pria itu masih penuh akan busa.
Krieek... Kepala Star menyembul dari pintu, “Kenapa, dek?” tanya Star kepada sang adik sepupu.
“Kak, aku kan sudah legal nih menikmati keindahan orang dewasa, boleh tidak aku pinjam kartu sakti Kakak?" pinta Samarta.
“Ambil aja di dalam dompet, pilih kau mau yang mana!” kata Star yang mengira si adik ingin shoping sepuasnya.
Brak.... Pria itu menutup pintu kembali lalu melanjutkan acara mandinya yang tertunda.
Sedangkan Samarta dengan girang mencari kartu tersakiti milik kakaknya, “Waaahhh kartu club malam ini yang ku cari!” girang Samarta mengangkat tinggi-tinggi kartu tersebut.
Flashback off.
“Ayo kita keluar!” ajak Samarta kepada Tree, saat ini gadis itu mengikuti kemana sang sahabat menariknya.
“Bisa anda tunjukkan member anda!” pinta seorang penjaga.
Tree memberikan kartu indentitasnya yang ia dapat dua Minggu lalu serta kartu VIP milik kakaknya Star.
“Maaf kami tidak mengenali anda nona, silahkan anda pilih kamar mana yang anda ingin tempati!" penjaga langusung memberikan kartu VIP Kusus kepada gadis itu.
“Ta, kenapa harus ada kamar? Apakah misi kita malam ini mengintip para gigolo?" tanya Tree penasaran.
“Entah aku juga tidak tau, bahkan ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku ke tempat ini, ayo pura-pura berpengalaman biar tidak di curgai bahwa kita amatiran, yang aku tau club ini memiliki kamar bak hotel. Entar malam kita intip roti sobek pada gigolo di ruang dansa, jam segini belum muncul mereka Trea ku sayang, club akan menyenangkan jika malam hari!" kata Samarta yang saat ini berada di lift kusus, kedatangan nya tak di catat karena ia Keluarga pemilik club tersebut.
“Ooohhh... Begitu, ok ok!” kata Tree membulatkan matanya. Gadis itu tidak tau bahwa tempat ini milik keluarga Samarta.
Ceting... lift berbunyi, pertanda mereka telah sampai di tujuan, ke dua gadis nakal itu berjalan beriringan di koridor kamar hotel yang sepi se sepi pasar malam.
“Nomer 088,” keduanya mencocokkan nomer togel eh salah nomer kamar mereka.
Ceklek... Ketika pintu di buka keduanya langsung terpesona dengan kamar yang jauh dari ekspektasi, sebab kamar itu begitu mewah.
Ahhh... Dua gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Ayo makan dulu!" ajak Samarta duduk.
“Kita makan apa, disini hanya ada banyak dan kasur saja!" kata Tree.
“Eh Nyai, tadi kau tak melihat paper bag yang aku bawa!" omel Samarta, mungkin karena galau gadis itu tidak memperhatikan bahwa Samarta membawa dua paper bag besar.
__ADS_1
“Ya, Sory!" kata Tree dengan nada bersalah.
“Sini kita makan dulu, setelah itu kita harus bersiap untuk menebar pesona kita!" kata Samarta membuka paper bag.
Samarta mengeluarkan satu kotak Ayam crispy bermerek KFCEHHH itu, ada nasi, kentang, chicken roll, burger, pizza serta berapa minuman soda dan air mineral.
“Wah, kau membawa makanan sebanyak ini, seperti tak makan seminggu!" puji Tree.
“Tapi kau suka kan?” Samarta mencomot kentang goreng.
Seketika mood Tree yang buruk lenyap di bawa kucing garong, karena gadis itu telah menyantap semua hidangan di depan matanya seperti tak bernafas.
Tak lama kemudian...
Greeep... Dua gadis itu bersendawa. makanan tadi sudah lenyap berpindah ke perut mereka tandas tak tersisa.
“Sekarang kita mandi dan bersiap." ajak Samarta.
....
....
Jep... ajep... Ajeb... Bunyi musik mengalun indah... klub itu ramai.
“Tree dunia malam asik kan?" tanya gadis memakai mini dress berwarna merah.
“Ia, asik, cuma aku sedikit risih sebab kau memberikan ku baju balita kepada ku!” omel Tree sambil menurunkan panjang mini dress berwarna biru tua, agar sedikit kebawah.
“Santai besty, di dalam kita menggunakan hot pant jadi tenang, jika kita menggunakan daster ke tempat ini kita aja menjadi perhatian, dan tak bisa dong kita mengintip roti sobek abang gigolo," kata Samarta.
Seorang bartender menyajikan dua gelas Voda pada kedua gadis itu, “Coba kau minum ini,” Samarta memberikan segelas kecil miras itu ke arah Tree.
Tanpa sungkan gadis itu meminumnya, “Aaahhhh... Pahit... Kau pesanlah yang manis biar aku yang meminum jamu temu lawak ini,” Tree merampas gelas di tangan Samarta.
“Sialan, kau Tree... Bang buatkan lagi tiga gelas!” perintah Samarta.
Samarta mengambil satu gelas lalu menegaknya perlahan, “Ahhh, pahit!”
“Aku, haus!" kata Tree meminum segelas lagi meminum dengan cara menegak seperti minum air.
Uhuhuk.... Uhuk... Brusss.... Gadis itu terbatuk karena tersedak minuman.
“Hati-hati Tree!" Samarta memukul punggung sahabatnya pelan.
“Sialan, aku baru minum 4 teguk,” Protes Samarta.
“Aku kan lagi galau Ta, bisakah aku meminum mereka sepuasnya?" pinta Tree.
“Ok, apapun untuk mu, sebentar!” Samarta mengangkat tangannya nya ke arah Bartender.
“Ia nona?” tanya Bartender itu.
“Bawakan kami 5 botol minuman enak ke sini!” Samarta mengangkat kartu sakti milik Kakak sepupunya itu.
Tanpa bicara banyak si bartender langsung langsung membawakan apa yang Samarta minta.
“Ayo, tos Samarta!" Tree mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
Ceting... Gelas itu bertabrakan, dua gadis amatiran itu saling menegak minuman.
“Ini, untuk sahabat ku yang selamanya tak akan pernah sendirian, karena ada aku di sisinya!” kata Samarta ke arah Tree.
“Terimakasih telah mau menerima sahabat mandul seperti ku ini, Ta,” ujar Tree yang mulai teler.
“Kita kan freand Beaty, kau minum aja sepuasnya, kita bisa habiskan minuman disini, aku kasik geratis, nantik biar Kakak sepupuku yang bayar cicilannya!" kata Samarta mulai ngelintur.
“Ta, seperti nya aku tambah sakti deh!” kata Tree sudah mulai oleng.
__ADS_1
“Kenapa tree?" tanya Samarta bingung dunia Samarta itu juga udah berputar.
“Aku punya jurus peringan tubuh Ta, lihat ini aku bisa terbang!” kata Tree yang merentangkan kedua tangannya, posisi gadis itu tetap duduk.
“Minum lagi Tree, biar kau tambah sakti!" kali ini Samarta memberikan satu botol kepada sahabat nya, dan Tree meminum langsung minuman itu seperti meminum Betadine.
“Hay para gadis cantik, paman boleh ikut bergabung?" seorang pria berbadan bongsor tak lupa perutnya yang buncit seperti si pria ini habis menelan sebuah helm.
“Huaaa ... Aston... Kau itu membuat ku terbang ke langit tapi kau hempaskan aku ke neraka terdalam mu!” Tiba-tiba Tree menarik pria itu lalu mencekik lehernya sekuat tenaga.
Samarta yang mulai mabuk kesadarannya bangun 5%, “Tree, nyebut Tree, nyebut!” kata Samarta berusaha melepaskan tangan Tree yang menggencet leher orang.
“Kau tau tidak, seandainya kau tidak memaksa ku dalam hubungan ini, aku tak mungkin merasakan sakit ini begitu dalam! Kau harus bersumpah akan menjadi laki-laki setia terhadap pasang mu!”
Tuhan aku bersumpah akan setia kepada pasangan ku asal lepaskan aku dari singa cungkring bertenaga badak ini. Sungguh aku ingin mencium kaki istriku sekarang. Batin pria itu yang sudah mulai kehabisan nafas, bahkan kakinya mengangkat ke udara sedangan kepalanya ada di sofa samping Tree yang mengamuk. Tak terasa celaannya basah.
Samarta, mengangkat tangannya lalu para bodyguard nya datang melerai.
“Tree ayo kita keatas saja, aku akan membawamu terbang!" ajak Samarta menyeruput minumannya lagi, gadis itu haus memisahkan sang sahabat.
Mendengar kata terbang gadis itu bangun dari duduknya, melepaskan cekikan tangannya, “Aku ingin menaiki pesawat go'ib Ta," kata Tree yang menurut ketika di tarik oleh sahabatnya.
Mereka telah jalan sempoyongan, Susana di bar itu ramai dan mereka tak peduli dengan keadaan orang lain, bahkan ada yang main obok-obok ladang lele milik orang yang tak di kenal.
Beruntung ke dua sahabat itu duduk di pojokan sehingga tak terlalu menarik perhatian.
“Ta, seperti nya aku harus menandai si Esia itu!" racau Tree.
“Hem, tandai untuk apa?" Samarta mulai lagi, merasakan terbang sehingga jalan keduanya terseok-seok.
“Aku mau mau mengirim santet pada pelakor itu!”
“Jangan lupa aku mau order juga untuk Nyai otor yang pemalu 5%!" ujar Samarta mengambil kartu sakti untuk memasuki lift pribadi mereka.
“Tree, tempelkan kartu ini ke sana, kau yang bisa menjangkau!" kata Samarta, padahal tempat penempelan kartu itu ada di depan mata.
Tree mengambil kartu itu lalu menggosok gosokan ke sembarang dinding macem menggosok undian yang berhadiah.
“Bukan seperti itu, tapi seperti ini!” Samarta mengelus pintu lift seperti mengelus lampu jin.
Ceting... Bunyi lift terbuka..
“Nah Jin nya sudah keluar,” girang Samarta.
“Seorang pria tampan muncul dari dalam lift. Rupanya Pria itu begitu syok ketika melihat gadis pujaan hatinya tengah mabuk di depan lift tersebut, ia tak memperhatikan bahwa ada gadis lain yang menempelkan kartu itu ke dinding di samping lift.
“Samarta!” kata Fren dengan nada dingin.
“Dasar gadis nakal!” pria itu menarik sang pujaan hatinya.
“Eh, ada gigolo nih Tree, katanya kita mau ngintip gigolo!" kata si Samarta mulai gawur, sedangkan si Tree masuk ke dalam lift melupakan temannya.
“Akhirnya kartu ini beroperasi juga,” tangan gadis itu memencet lantai dua. Tanpa sadar ia menggosok katun di tangannya
Gerjeng... Gerjeng... Tree melompat-lompat di dalam lift dengan riang gembira.
Ceting... hanya butuh satu menit gadis itu lelah sampai di lantai dua. Entah kenapa gadis itu berjalan linglung.
Hahahaha ... Tree tertawa, menangis sambil berjalan sempoyongan memasuki ruangan sepi.
“Kakek memindahkan kamar ku begitu jauh!” kata Tree mendorong sebuah pintu kamar lalu duduk di atas kasur dengan penerangan yang temaram.
Gadis itu langsung melucuti bajunya tanpa melihat ke arah manapun.
Greeep... Seorang pria memeluk tubuh mungil gadis itu.
“Kak Aston, kau kah itu?"
__ADS_1
^^^To Be Continued^^^