Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Tumor Di Perut Tree


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



~Tiga bulan kemudian


Lokasi : Bali...


Disebuah Vila daerah Canggu, tepatnya di sebelah Vila pesisir pantai. seorang gadis tengah tertidur nyenyak. Padahal mata hari yang terik telah menembus jendela kaca rumah gadis itu.


Karena letak kamar gadis tersebut tepat di sebelah timur menghadap jelas ke arah pantai BATU BOLONG yang begitu indah, membuat sang Surya langsung menembus dinding kaca yang di lapisi korden tersebut.


Cringgg... Cring.... Cringg... Bunyi ponsel gadis itu berdering. Tangan Tree meraba di ke bawah bantal, dengan mata yang berat gadis itu memencet tombol terima telpon yang berwarna hijau.


“Hemmm," jawab gadis itu menempelkan ponsel di telinganya, mata gadis itu kembali terpejam.


“Tree. Kau belum bangun sayang?" tanya seorang wanita dengan nada lembut.


“Mom, ubah menjadi Video Call, aku ingin melihat putri kita," suara Deddy Taksa terdengar lucu di sebrang sana.


Mau tak mau gadis itu membuka mata lebar-lebar, dengan muka batal Tree mengalihkan panggilan telpon ke Video Call.


“Halo putri Deddy,” sapa Deddy Taksa.


“Halo Deddy,” jawab Tree, sebenarnya gadis itu masih sedikit canggung memanggil kedua orang tua angkatnya.


“Ini sudah jam 8 pagi waktu di situ sayang, kau belum bangun, pergilah sarapan dulu. Apa asisten rumah tanggamu belum menyiapkan sarapan mu?” tanya Mommy Qiana begitu perhatian.


“Tidak Mom, Mbok putu Hepi sudah menyiapkan sarapan ku,” kata Tree menceritakan tentang ketangkasan asisten rumah tangganya.


“Apa yang akan kau lakukan hari ini sayang?" tanya Deddy Taksa.


“Hari ini aku hanya pergi ke kampus. Sebenarnya aku ingin mencari kesibukan, ded, mom,” kata Tree.


“Apa itu sayang?” tanya kedua orang tua Tree itu.

__ADS_1


“Aku ingin membuka usaha toko bunga,” kata Tree ragu-ragu.


“Selama di bantu oleh si Hepi, kau boleh melakukan apapun sayang, dan pikirkan untuk sekolah bisnis agar setelah kau lulus dapat memimpin perusahaan cabang kita,” tawar Mommy Qiana.


“Mom, otak ku itu tidak nyampe jika urusan pekerja kantoran," kata Tree, gadis itu tak mau memanfaatkan keadaan yang di angkat anak oleh pasangan Taksa dan Qiana itu.


Ia malah betah tinggal di pulau Dewata yang penuh kebebasan. Dimana tidak ada tetangga yang mengurusi urusan tetangga lainnya. Bahkan orang bunting tak memiliki suami di tempat ini tak pernah di hakimi warga.


“Baiklah nak, jaga kesehatan mu, Mommy kira kau akan stay mengambil kuliah di Inggris. Ternyata kau malah memutar haluan ingin tinggal di pulau Bali.” kata Mommy Qiana.


Sedikit bercerita, pada saat Tree pergi ke Inggris bersama Deddy dan Mommy, gadis itu susah beradaptasi dengan tepat itu. Di tempat itu Deddy Taksa dan Mommy Qiana menanam perasaan kasih sayang keluarga dengan Tree.


Karena sedari kecil Tree sang pencinta seni memiliki impian ingin tinggal di pulau Dewata yang memiliki keindahan seni yang sangat kental, gadis itu meminta izin tinggal di Bali dan langsung di setujui oleh kedua orang tuanya.


“Tree sayang," panggil Deddy Taksa.


“Ia Deddy?" jawab Tree.


“Jika kau ingin membuka toko bunga, Deddy memiliki seroang teman yang memiliki supplier jenis bunga dari berbagai negara dan di kawasan bedugul sana ada sebuah desa yang membudidayakan berbagai jenis bunga. Kau akan mendapatkan bunga-bunga dari sana,” kata Deddy Taksa.


“Terimakasih Deddy, atas bantuannya. Nanti Tree akan hitung bajet sama sewa rukonya karena Tree ingin membangun usaha dari tabungan ku sedari kecil, seperti belajar meraih sesuatu dengan tangan sendiri, Ded," kata Tree hati-hati.


“Mereka?” kata Tree langsung turun dari tempat tidur.


“Astaga kenapa lemak dalam perut ku ini semakin memupuk ya? Mana seperti bola lagi,” kata Tree pada dirinya. Gadis itu menarik kaosnya ke atas agar perutnya Terekspos.


Gadis itu memandang dirinya di depan cermin almari di samping pintu kamar mandi, sungguh saat ini perut gadis itu besar seperti gunung Tangkuban wajan.


Gelujuk.... Gelujuk... Tree merasakan perutnya bergerak.


“Apa ini?” tanya Tree ketika merasakan getaran dalam perutnya.


Gelujuk.... Gelujuk... lagi-lagi gerakan ke dua semakin terasa semakin jelas.


Tree mengelus perutnya, kakinya semakin mendekati cermin hingga jarak antara dirinya dan cermin hanya tiga sentimeter.


Selama ini Tree menggunakan baju kedodoran sehingga bentuk kurus gadis itu tak terlihat di tutupi oleh baju.


Semenjak Kakeknya meninggal gadis itu menjadi gadis introver.

__ADS_1


Gelujuk.... Gelujuk... lagi-lagi perut itu bergerak, Tree menyentuh perutnya yang keras seperti balon.


Ceklek... Pintu kamar gadis itu tiba-tiba di buka oleh seseorang,


“Surprise...!” teriak dua orang yang paling Tree sayangi setelah keluarnya, siapa lagi jika bukan si Samarta dan Flexi.


Tree langsung menurunkan kaosnya lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari sahabatnya.


Samarta memeluk tubuh Tree, Begitu pun Flexi memeluk tubuh Tree dari belakang, saat ini gadis itu tengah di apit oleh pelukan erat ke dua sahabatnya.


“Tree, apa perasaan ku saja ya? bahwa kau semakin gemuk," kata Samarta meraba tubuh depan sahabatnya.


Gelujuk.... Gelujuk... lagi-lagi perut Tree gerak pada saat tangan gadis itu memegang perut buncit sahabatnya.


Mata Tree dan Samarta saling memandang, tanpa sungkan gadis itu menaikkan sedikit kaos besar Tree.


“Tree, apakah kau sakit? tanya Samarta hati-hati.


“Entah Ta, sudah dua bulan ini aku merasakan getaran dalam perutku, dan baru berapa menit yang lalu perut ini bergerak seperti ada naga di dalamnya," kata Tree.


“Tree kapan kau datang bulan?” tanya Flexi membalikan tubuh Tree.


“Semenjak aku di vonis mandul, aku tak lagi merasakan menstruasi, Fle, aku sudah mulai frustrasi,” curhat Tree.


“Siapa tau kamu, ha,” ucapannya langsung di potong oleh Tree, “Tak mungkin aku hamil, sebab aku telah mencek kesuburan ku di rumah sakit lain karena belum menerima kenyataan kalau aku mandul, Fle dan hasilnya sama. Apa jangan-jangan perutku di tumbuhi tumor ganas?” ujar Tree dengan nada khawatir, hingga membuat gadis itu syok ketika merasakan getaran semakin jelas di perutnyaa Pandangannya langsung gelap.


Gedebukkk..


“Tree...!!” jerit ke dua sahabatnya itu.


“Cepat telpon Mommy Qiana, kita bawa Tree ke rumah sakit,” kata Flexi.


Ayooo... Eneng Tree kenape ye🙈


^^^~To be continued.^^^


Rekomendasi karya author keren nih, jangan lupa kepoin ya❤️


__ADS_1


__ADS_2