Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten

Tamu Ranjang Tuan Muda Impoten
Kedatangan Nyonya Mentari


__ADS_3

Hay para kesayangan nyai...


Dimana pun kalian berada semoga sehat selalu 🤗


Selamat datang di RUMAH KARTU PERDANA 😘😘😘



Setelah di Campakkan oleh Aston. Esia sangat marah, gadis itu mengurung dirinya di kamar seharian. Nyonya Ceriapun bingung dengan dengan apa yang terjadi kepada putrinya.


Tililit... Tililit... Tililit... Telpon rumah berbunyi.


“Halo?” jawab Nyonya Ceria.


“Selamat pagi Nyonya Ceria,” kata wanita lain di sebrang sana.


“Selamat pagi Nyonya Mentari. Bagaimana keadaan anda Nyonya?” tanya Nyonya Ceria.


“Jauh lebih baik buk Dokter, saya hanya ingin menanyakan soalnya Esia, apakah jam dua siang nanti bisa menemani sayang?” tanya Nyonya Mentari.


“Itu nyonya, sayang ingin menyampaikan bahwa saat ini Esia tengah mengurung dirinya di kamar!” adu Nyonya Ceria.


“Bisa bicara dengan putri cantik anda?” pinta Nyonya Mentari.


“Baik, Nyonya Mentari, jaga sekalu kesehatan anda!” kata Nyonya Ceria.


“Sama-sama, Nyonya Ceria,” Nyonya Ceria mengetuk pintu kamar Esia.


“Sayang, Tante Mentari menelpon ingin bicara denganmu nak!” kata wanita itu, tak lama kemudian Esia membuka pintunya.


“Mana Ma!” Esia mengambil telpon dari sang ibu.


“Ia, Tan?" jawab Esia.


“Bersiaplah sayang, Tante akan menjemput mu dua jam lagi, mari kita kerumah hama itu agar ia mau meningkatkan Aston!” kata Nyonya Mentari.


“Haruskah seperti ini Tante?” tanya wanita itu.


“Harus, bersiaplah!” ujar Nyonya Mentari meyakinkan calon menantu pilihan.


“Baiklah Tan!” jawab Esia, wanita itu ingin melompat girang ketika nyonya Mentari mau membela nya mati-matian.


....


....


Setelah panggilan terputus, ibu Aston itu meremas ponselnya, mencari nomer telpon seseorang lalu,“Aku mau satu jam lagi Aston pergi ke Amerika. Buatlah kekacauan, maka akan ku berikan saham satu pabrik UNTUNG MERUGI di kawasan kota CD.” Setelah itu cepat-cepat ibu Aston itu mematikan panggilannya.


“Aston!” panggil wanita itu, ketika melihat sang putra bergegas pergi dari rumah dengan tergesa-gesa.


“Aston pergi dulu Bun,” kata Aston.

__ADS_1


“Kemana?” tanya wanita paruh baya memencet remote kursi rodanya.


“Mencari, Tree.” terang Aston.


“As, Esia lebih membutuhkan mu, ia itu tengah hamil. Sedangkan Tree hanyalah gadis kecil yang tak sepadan dengan mu!" teriak Nyonya Mentari tak suka.


“Biarkan si Esia hamil, asal bunda tau Aston hanya mau Tree, meski bunda memberikan ribuan wanita sekalipun!” kata Aston sama kerasnya dengan sang ibu.


Sifat keras kepada Aston begitu jelas di turunkan dari ibunya itu.


“Kau demi gadis asing berani membentak ibumu As, kenapa tidak mati saja aku!” Tangis wanita itu pecah.


Rasa bersalah menyeruak di dada Aston, pria itu duduk di lantai tak peduli para pembantu memandangnya.


“Bunda, Aston itu tak bisa mencintai Esia atau wanita lain. Hati ku telanjur ku berikan kepada Tree, Aston akan mati rasanya jika tak ada Tree di hidupnya Aston. Mama boleh memelihara Esia tapi sampai anak itu lahir karena setelah anak itu lahir Aston yang akan membesarkan anak itu dengan Tree sebagai ibunya!" terang Aston dengan wajahnya yang sendu.


“Bangunlah Aston!" perintah Nyonya Mentari dalam tangisnya.


“Tidak akan Bunda, sebelum bunda menerima Tree menjadi istri Aston!” kata Aston kokoh.


Hanya demi gadis ingusan dan tak bermartabat itu kau sampai segitunya. Tingkah mu yang seperti ini membuat bunda semakin membenci gadis hama itu, Aston. Batin Nyonya Mentari di selimuti amarah.


Sudah 30 menit ibu dan anak itu saling diam. Ego menguasai mereka masing-masing, begitu kokoh.


Tilung ... Ponsel Nyonya Mentari berbunyi sebuah pesan telah masuk di ponselnya. Wanita paruh baya itu membaca pesan yang masuk lalu menghapusnya langsung.


“Baiklah jika kamu mau dia, Bunda mau apa lagi sekarang, cari lah kekasih mu itu, bawa ke rumah." kata Nyonya Mentari dengan nada lembut.


“Benar, sekarang carilah calon mantu Bunda itu!” kata Nyonya Mentari.


Grepp ... Aston memeluk tubuh ibunya lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di kening wanita yang melahirkannya ke dunia.


“Terimakasih Bun! Terimakasih,” Aston beranjak dari tempat ia duduk.


Pria itu menyunggingkan senyumnya hingga 10 wat khas miliknya yang menawan, lalu merapikan baju, “Bun, apakah Aston sudah ganteng?” tanya pria itu.


“As. Buda selalu ganteng, sana cepat pergi!" suruh Nyonya Menteri.


Senyum Nyonya Mentari seluas Mentari memandang punggung anaknya yang kian menjauh.


Tililit.. Tililit... Ponsel Aston berbunyi..


Kau belum pergi jauh dari Bunda sudah sudah ada hal yang menahan mu pergi dari rumah Aston. Jika kekerasan tak mampu meruntuhkan tembok hatimu maka jangan salahkan bunda mengunakan cara halus. Seorang ibu akan melakukan hal sama dengan ku jika menyangkut masa depan anaknya. Batin Nyonya Mentari.


Sittt... umpat Aston ketika mendengar dari anak buahnya bahwa pabriknya di Amerika telah hangus. Banyak korban jiwa dan ia mau tak mau harus pergi ke Amerika sekarang juga.


“Maaf sayang ku, setelah masalah ini aku akan menjemputmu menjadikan mu istri seorang Aston...," kata Aston memandang foto Tree yang ia jadikan wallpaper.


Pergilah Aston. Lama lebih baik. Batin Nyonya Mentari bersorak.


“Jukiii...,” teriak wanita itu.

__ADS_1


“Uhukk... Uhukk... Ia Nyonya!” si Juki supir Nyonya Mentari yang tengah meminum kopi pun tersedak.


“Antar kan aku ke rumah Esia!" kata Nyonya Mentari.


“Ba... Baik nyonya!” si Juki langsung mendorong kursi roda milik sang majikan.


Sudah mau Ko'id masih saja galak dan cerewet nya minta ampun. Mana tak punya peri kepembantuan lagi. Dikit-dikit marah padahal sudah punya penyakit kangker, kagak takut kenak Azab apa ya? Ihh serem... Batin si Juki menggigil mengingat bosnya yang sadis kepada semua orang, bahkan pembantunya takut akan kemarahan sang majikan.


....


....


“Sayang, apa benar ini rumah si gadis kuman itu?” tanya Nyonya Mentari kepada calon menantunya.


“Benar Tante ini adalah rumah Tree...” kata Esia.


“Ihh, menjijikkan, hanya rakyat jelata seperti ini si Aston mati-matian mau nikahin gadis kuman itu. Ayo kita masuk , Tante tak bisa bernafas lama-lama di tempat ini!” kata Mentari sombong.


Teeettt... Teeetttt... Bunyi bel di rumah Tree.


Seorang wanita paruh baya yang membuka pintunya.


“Apa ini rumah Tree...,” tanya Esia dengan keanggunan yang hakiki.


“Ia, nona silahkan masuk dulu, nona Tree tengah berlibur dengan temannya, saya panggilkan Tuan Desmond dulu!” kata pembantu itu.


“Siapa Bon?" tanya kakek Desmond menggunakan tongkat.


“Oh anda kakek gadis kuman itu, saya datang ke sini mau memperingati anda sebagai Kakek harus mengajarkan cucu anda agar tidak menjadi seorang pelakor!” kata Nyonya Mentari.


“Ap... Apa maksud anda?” tanya Kakek dengan wajah pucat pasi.


Pagi ini kakek Desmond merasakan sakit di dadanya, maka dari itu ia tak bangun dari pagi.


“Putraku Aston sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah. Karena saat ini wanita yang bersama ku datang ke tempat ini tengah mengandung anak Aston!” kata wanita itu secara gamblang.


“Tunggu dulu Nyonya, putra anda yang mendekati cucu saya, dan kapan hari itu dia juga melamar gadis kami, akan tetapi Tree kami telah menolak putra anda!” kata Kakek Desmond.


“Bagus dong, berarti cucumu yang tak layak itu masih tau diri!" kata Nyonya Mentari judes.


“Jangan pernah menghina cucu saya, silahkan pergi dari sini, mulai saat ini Tree kami yang berharga tak akan pernah masuk di hidup anak anda!” Teriak Kakek Desmond.


“Eh pak tua, hanya seonggok cucu sampah tak berguna saja kau berani membentak ku yang terhormat. Padahal cucumu itu lebih murah dari barang rongsokan karena kemandu..,"


“Hentikan!” teriak seseorang yang mampu membungkam mulut rusak Nyonya Mentari.


Siapa yang ingin nyantet nyonya Mentari..


Sama nyai pun mulai jengkel sama demit satu ini....


^^^To Be Continued^^^

__ADS_1


__ADS_2