
Quinsy kembali ke ruang pemotretan dengan kaki yang sedikit terpancang, Jessy yang melihat sahabatnya menjadi seperti itu akibat ulah salah satu model lain menjadi makin geram.
"Bagaimana kakimu Quinsy?"
"Agak sakit, tapi biarlah. Lebih baik kita cepat selesaikan pemotretannya agar kita juga lebih bisa cepat pulang." Jawab Quinsy memaksakan senyumannya.
Jessy tersenyum dan mengangguk pada sahabatnya itu. Mereka melangkah menuju tempat pemotretan. Beberapa kali harus berganti posisi dan gaya membuat Quinsy agak sedikit kesulitan dalam bergerak.
Dan saat sesi pemotretan terakhir Jessy mendorong tubuh model yang mencelakai sahabatnya tadi hingga membentur meja. Membuat kening wanita itu mengeluarkan cairan merah kental.
"Kau! Dasar jal*ng! Aku akan melaporkan kejadian hari ini ke kantor Polisi, tunggu saja surat panggilan untukmu!"
Jessy yang mendengar ancaman dari model itu tidak takut sama sekali. Dia bahkan tersenyum miring dan menghampiri model itu.
"Laporkanlah! Aku juga akan melakukan hal yang sama padamu! *****!"
Jessy lalu menarik Quinsy menjauh dan meninggalkan model itu. Namun, model yang tidak terima di permalukan oleh Jessy bangkit dan menarik rambut panjang milik Jessy hingga wajah gadis itu mendongak ke atas.
Untung saja Morgan tiba di sana dan melerai keduanya. 'Dia..?' Ucap Jessy dalam hati saat kembali melihat Morgan.
"Kau adalah wanita yang mengerikan. Jangan kira aku tidak tau apa yang kau lakukan pada Adikku. Kali ini kau bisa bebas, tapi ingat! Tidak akan ada kata lain kali, karena sebelum kau kembali menyentuh Adikku, aku akan mematahkan tanganmu lebih dulu!" Ucap Morgan sambil menunjuk wajah model itu.
Dengan susah payah model itu menelan ludahnya. Ia tidak menyangka akan berurusan dengan Adik dari pemilik tempatnya melakukan pemotretan.
Ketiga orang tadi meninggalkan sang model yang masih mematung di tempatnya. Seorang model pria dengan paras tampan menghampirinya kemudian berbisik halus.
"Lain kali, ukurlah dulu seberapa dalamnya lautan sebelum kau menyelaminya. Bila tidak, kau akan mati sia-sia karena kobodohanmu sendiri."
Morgan membawa Quinsy menuju ruangannya bersama dengan seorang gadis lain. Wajah gadis itu sudah memerah seperti sebuah tomat matang. Quinsy yang melihat itu jadi khawatir dengan sahabatnya itu. Dia memgangi wajah Jessy untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu, kalau-kalau Jessy mengalami demam tinggi saat ini.
"Kau baik-baik saja? Mengapa wajahmu begitu merah? Perlukah kita ke rumah sakit?"
Mendengar pertanyaan Quinsy pada sahabatnya, Morgan memandang wajah gadis itu dan melihat pipi dan telinga sang gadis yang sudah memerah.
'Ternyata dia cukup manis' pikir Morgan, dia tahu mengapa gadis itu menjadi seperti sekarang. Pasti itu di karenakan kejadian saat di ruang pertemuan siang tadi.
"Aku baik-baik saja, mungkin hanya sedikit kelelahan. Kalau begitu aku pulang dulu. By, Quinsy."
Dengan cepat Jessy berlari meninggalkan kedua orang yang menatap kepergiannya. Quinsy merasa khawatir pada sahabatnya itu dan ingin menyusul kepergiannya tapi di cegah oleh Morgan.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana? Duduk!"
Quinsy memanyunkan bibirnya dan duduk di sofa panjang ruangan sang Kakak. Morgan menjewer telinga Quinsy hingga membuat gadis cantik itu mengaduh kesakitan.
"A...aa.. Kakak! Lepas, sakit tau!"
"Udah berapa kali Kakak bilang, itu bibir gak usah di maju-majuin. Udah jelek makin tambah jelekkan jadinya?"
"Ih Kakak ini, sama aja kaya Kak Miguel. Masa Adek yang secantik ini di bilang jelek? Yang bener aja?" Ucap Quinsy merajuk melipat kedua tangannya ke depan dada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain Jessy yang sudah kembali lebih dulu kini berada di sebuah cafe. Ia ingin mengisi perut dan menikmati sore hari di cafe itu yang kebetulan menyusahkan pemandangan kota New York di sore hari.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan paras tampannya.
Jessy menatap wajah pria itu dan tersenyum padanya.
"Hai Billy! Duduklah, sejak kapan kau ada di sini?"
"Aku baru saja tiba dan melihatmu duduk di sini sendiri."
"Aku suka cafe ini karena memiliki spots pemandangan yang cantik di sore hari." Ucap Jessy sambil memandang ke luar jendela.
"Ya, pemandangan sore ini memang sangat cantik dari biasanya." Puji Billy sambil memandang ke arah wajah Jessy. Tatapan matanya begitu memuja keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya saat ini.
"Oh ya, apakah kau mengenal model yang mencelakai Quinsy tadi?"
"Ya, dia adalah model senior, namanya Violetta."
"Oh, pantas saja dia memiliki sikap yang begitu menyebalkan."
"Tentu saja, itu karena dia merasa iri pada kalian. Selain kalian masih sangat muda, kalian berdua pun memiliki kecantikan yang patut diacungi jempol."
Jessy tertawa mendengar ucapan Billy, kebersamaan mereka harus berakhir saat sebuah panggilan masuk ke ponsel milik Jessy. Jessy bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Billy.
...----------------...
Tibalah gadis itu di rumah kedua orang tuanya, disana Jessy melihat kondisi rumah yang sudah seperti kapal pecah. Jessy menaiki anak tangan dan mencari keberadaan sang Adik.
__ADS_1
"Mona! Mona, kau di mana?" Teriaknya memanggil nama si Adik Bungsu yang masih duduk di bangku kelas satu SMA.
"Jessy!" Ucap gadis itu dan berlari memeluk sang Kakak.
"Apakah kau baik-baik saja? Di mana Hans?"
"Aku tidak tau, dia sudah tidak pernah pulang selama beberapa hari ini." Jawab Mona dengan berlinang air mata.
"Ok, tenanglah. Dan di mana kedua orang itu?"
Yang dimaksud Jessy dengan kedua orang itu di sini bukanlah penjahat atau pun orang asing, melainkan kedua orang tua kandungnya sendiri.
Jessy enggan mengakui mereka sebagai orang tuanya sebab, semenjak ia kecil kedua orang tua itu hanya akan menemuinya sesekali dan bertengkar kemudian.
Jessy sebenarnya heran, mengapa rumah tangga keduanya bisa bertahan sampai saat ini, padahal keduanya tidak pernah akur sama sekali bila sudah bertemu.
Itulah mengapa dia lebih memilih untuk tinggal di filla kedua orang tuanya ketimbang bersama dengan mereka di rumah utama.
"Setelah bertengkar mereka kemudian pergi, entah kapan akan kembali lagi kemari. Kau Tembilahan aku di sini, ya?" Pinta sang Adik bungsu pada Jessy dengan nada memelas.
Jessy tersenyum dan mengusap kepala sang adik dan kemudian mengangguk.
"Bailah, aku akan menemanimu di sini sampai mereka kembali."
"Kenapa kau tidak tinggal bersama kami lagi di sini?
"Jangan menanyakan hal yang kau sendiri sudah tahu jawabannya."
Lalu keduanya memasuki kamar milik Mona dan berbincang hangat. Bagi Mona, Jessy adalah sosok Kakak yang luar biasa. Bukan hanya parasnya saja yang cantik, tapi juga karena gadis itu memiliki sikap yang hangat pada kedua saudaranya.
BERSAMBUNG...
♡Hello gais...🙋
Ini novel aku yang kedua, sory ya, kalau kurang memuaskan ceritanya...😔
aku harap kalian mau memberikan saran agar aku makin termotifasi😊
jangan lupa kunjungi novel-novel aku yang lain ya?😉
__ADS_1
ada yang berjudul Cold hearted a girl,what's wrong with my bos? dan istri masadepanku yang pastinya ga kalah seru.🙆♡