
"Ada keperluan apa?"
Jessy yang sudah belajar sedikit bahasa Indonesia dari Morgan pun menjawab "Kami teman Quinsy dari New York dan ingin bertemu dengannya."
"Baiklah tunggu sebentar!" Pria itu kembali masuk dan berlari menuju rumah besar tersebut. Dengan nafas terengah, pria paruh bayar bertubuh tegap itu menemui Tuan dan Nyonya Karren. Ia menyampaikan bila di depan pintu gerbang ada tiga orang gadis buletin yang mengaku menjadi teman Quinsy dari luar negri.
Kedua orang tua Quinsy saling menatap untuk sejenak, kemudian Nyonya Karren memutuskan untuk bertanya pada putrinya langsung. Kebetulan saja Quinsy sudah turun dan menghampiri kedua orang tuanya.
"Ada apa Mah?" Tanya Quinsy dengan ekspresi bingung yang melihat penjaga rumah mereka berada bersama kedua orang tuanya.
"Di luar ada tiga orang yang ngaku jadi teman kamu selama di LN dulu."
Wajah Quinsy berseri seketika, ia bergegas keluar dan melihat ketiga sahabatnya sudah berdiri di depan pagar. Buru-buru Quinsy menghampiri mereka dan memeluk ketiga gadis itu dengan erat. Begitu juga dengan Emy, Sonya dan Jessy. Mereka memeluk Quinsy tak kalah erat, ke empat sahabat itu seakan saling berbagi rasa sakit yang di derita Quinsy selama ini.
"Maaf kami terlambat," Ucap Emy sambil menghapus air mata di wajah cantik Quinsy.
"Tidak, terimakasih kalian sudah mau datang. Aku benar-benar merindukan kalian." Ucap Quinsy dan kembali memeluk ketiga sahabatnya itu.
Quinsy mengajak ketiga sahabatnya itu memasuki kediaman mereka. Ini kali pertama Emy, Sonya dan juga Jessy berkunjung ke Indonesia. Jadi mereka telah menyusun banyak rencana kala mereka berada di negara ini.
Kedatangan tiga gadis muda itu di sambut hangat oleh Tuan dan Nyonya Karren, bahkan di sana juga sudah ada anggota keluarga Hemsworth. Bola mata ketiga gadis cantik itu melebar saat melihat Glen yang sudah berada di ruang tamu keluarga Karren. Dengan sigap mereka melindungi Quinsy dari pria br3ngs3k seperti Glen itu.
"Hai, kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Biar Tante antar kalian untuk beristirahat." Ujar Nyonya Karren, pada ketiga sahabat putrinya itu.
"Tapi, dia-" Ucapan Sonya tergantung saat melihat Nyonya Karren tersenyum sembari menggeleng padanya.
"Tak apa, baik nanti Quinsy yang menjelaskannya padamu."
Ketiga gadis itu langsung menoleh kebelakang di mana Quinsy berada. Dengan senyum kecut Quinsy menganggukkan kepala. Membuat Emy, Sonya dan Jessy mengikuti langkah Nyonya Karren ke lantai dua dan meninggalkan ruang tamu. Nyonya Karren membawa mereka menuju tiga buah kamar kosong.
"Beristirahatlah dulu, Kalian pasti sangat lelah. Tante akan membuatkan makanan khas Indonesia, yang pasti akan membuat kalian ketagihan."
"Terimakasih, Nyonya Karren."
Nyonya Karren pun meninggalkan ketiga gadis itu di kamar mereka masing-masing. Tak lama Quinsy tiba di kamar Jessy dan di ikuti oleh Sonya dan juga Emy kemudian.
"Kau berhutang banyak penjelasan pada kami."
Quinsy tersenyum dan menarik nafasnya dalam sebelum mulai bercerita. Kata demi kata pun keluar dari mulut mungil Quinsy. Kejadian-kejadian yang dialaminya satu per satu ia ceritakan pada ketiga sahabatnya. Jessy, Emy, dan juga Sonya tak ada yang kuasa untuk menahan air mata. Mereka larut akan cerita Quinsy dan seakan ikut merasakan kepedihan sahabat mereka kala itu.
"Jadi kau mempertahankan anak ini dan memberi kesempatan pada pria itu?" Tanya Emy, dengan suara parau.
__ADS_1
"Ya, hatiku terasa tergerak saat melihat dua kehidupan yang bergantung pada diriku saat ini."
"Jadi kau mengandung anak kembar?" Tanya Sonya tak percaya dan dijawab anggukan oleh Quinsy.
"Ya, walaupun tidak bisa di pungkiri bila keturunan Hemsworth itu memang pria br3ngs3k. Tapi dia tetaplah Ayah dari bayi-bayimu. Dan kelihatannya, dia juga sangat mencintaimu."
"Dari mana kau tau itu?" Tanya Quinsy.
"Tentu saja dari caranya memperjuangkan cintanya padamu sayang. Apakah kalian tidak melihat saat kita memberinya pelajaran di lapangan golf waktu itu? Dia tidak melawan sama sekali kan?" Tanya Jessy pada kedua sahabatnya yang juga ikut serta saat menghajar Glen hingga hampir menjadi kornet tempo dulu.
Sonya dan Emy tertawa sembari mengangguk-anggukan kepala. Ya, dapat mereka sadari, andaikan waktu itu Glen ingin melawan, tentulah mereka tetap akan kalah. Tapi nyatanya pria itu hanya pasrah mendapati pukulan demi pukalan dari mereka bertiga.
BERSAMBUNG....
Nah.... Udah sampai bab 50 nih...!!!😄
Artinya author harus bayar janji, dan ini adalah bayangan para pemeran TBC, versi halu Author:
Karren La Quinsy:
Glen Jhonsson Hemsworth:
Emy:
Sonya:
Karren La Miguel:
Karren La Morgan:
__ADS_1
Tuan Karren:
Tuan Hemsworth:
Nyonya Karren:
Nyonya Hemsworth:
Billy:
Mr. Arnold:
Marfin Jaffier:
...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN AUTHOR....
^^^Makasih atas kesetiaan kalian dalam menantikan kelanjutan ceritaku ini...^^^
^^^Aspirasi yang kalian semua berikan adalah motivasi bagi author pemula sepertiku, entah harus bagaimana caraku mengucapkan rasa terimakasih pada kalian para reader's tersayang😙^^^
^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^
^^^votenya ya...^^^
__ADS_1
^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^
I♡U READER'S...😙😙.