
"Tapi, Nek. Bukankah selama ini kau baik-baik saja? Bagaimana mungkin kau bisa sakit separah ini?"
"Benar. Bahkan sakit yang Nenek alami ini, tidak dapat menjadi alasan Nenek berkata demikian. Nenek adalah orang yang kuat. Nenek pasti bisa sembuh, kami akan selalu mendukung Nenek." Sambung Sonya. Gadis muda itu ikut merasakan perasaan tidak rela ketika Nyonya Parhses mengucapkan keputusasaan dari bibirnya. Keakraban yang mereka jalin beberapa waktu ini, tentu membuat perasaan Sonya menghangat kala dekat dengan wanita tua di hadapannya itu.
"Sayang, Nenek tau kau begitu menyayangiku. Dan itulah mengapa aku tidak pernah memberitahukan tentang penyakitmu padamu. Tetapi kali ini aku merasa kau harus tau, agar kau mau mewujudkan keinginan terakhirku." Nyonya Parhses tersenyum sembari memegangi pipi sang cucu.
"Kau tau, aku sudah sejak lama ingin melihatmu menemukan seseorang yang akan dapat kau jadikan sandaran dalam hidupmu menggantikan diriku. Dan selama aku bersama Sonya, aku merasa dia adalah gadis yang baik juga manis. Meskipun Sonya dan dirimu sebaya, tapi aku bisa melihat, dia dapat kau andalan kelak. Billy, Nenek tidak mungkin selamanya bersama denganmu. Akan ada masa di mana aku akan meninggalkan dunia ini."
Mata Sonya berkaca-kaca mendengar penuturan Nyonya Parhses. Tak dapat ia bayangkan, bagaimana hancur perasaan Billy saat ini. Keluarga satu-satunya yang ia miliki harus kembali meninggalkannya.
"Nenek, kau tidak seharusnya menunjukkan
memikirkan hal ini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menemukan dokter hebat yang bisa menyembuhkan penyakitmu."
__ADS_1
"Ya, Billy benar Nenek. Negara yang kita tempati ini adalah Negara maju. Ada begitu banyak dokter hebat dia sini. Bukankah teknologi pun sudah maju? Kita pasti bisa menyembuhkan penyakitmu."
"Kajian memanglah cucu-cucu ku yang paling baik. Tetapi semua ini tak semudah itu. Aku sudah menemui banyak Dokter, dan mereka semua mengatakan sangat mustahil bila dapat sembuh dengan usiaku yang sekarang ini. Jadi, aku hanya dapat berharap, kalian bisa mewujudkan harapanku ini."
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kabar kembalinya Quinsy ke pusat kota telah terdengar oleh Tuan dan Nyonya Hemsworth. Tetapi mereka tak memberitahukan hal itu pada Glen, mereka hanya bisa mengunjungi cucu mereka secara sembunyi-sembunyi. Tuan dan Nyonya Hemsworth tau, ini belum waktu yang tepat untuk mempertemukan putra dan menantunya. Biarlah Glen terus berusaha untuk bertemu dengan Quinsy. Agar dia pun bisa membuktikan seberapa pantaskah dirinya bersanding dengan Quinsy juga kedua bayi kembar mereka.
Perlahan, mata cantik Quinsy mulai tertutup, dirinya terlena dalam lautan mimpi. Suara tangisan dari kedua batiniah yang memaksa Quinsy untuk meninggalkan alam bawah sadarnya. Ia mendudukkan diri sebelum menuju kamar bayi-bayinya yang tepat di samping kamar miliknya.
"Hei, anak-anak Mamah. Kalian kangen Mamah ya? Maaf ya, Mamah ketiduran tadi." Ucap Quinsy dan menggendong kedua bayinya di tangan kanan dan kiri.
Menjadi ibu tunggal dari kedua bayi kembar yang sedang membutuhkan perhatian lebih memang tidaklah mudah. Meskipun Zella dan Zello sangat jarang rewel, tetapi akan ada kalanya mereka mencari perhatian sang ibu dengan menangis seperti saat ini.
__ADS_1
Usia kedua bayi kembarnya yang sudah memasuki tahap merangkak, juga tidak ingin Quinsy lewatkan. Ia ingin melihat tumbuh kembang kedua bayinya secara langsung. Meski ia sendiri sangat sibuk dengan urusan kuliah dan butik, tetapi Quinsy akan menyempatkan diri bermain bersama anak-anaknya.
"Hey, Zella kau sudah tumbuh gigi baru lagi? Bagaimana mungkin gigimu lebih dulu tumbuh dibandingkan dengan Kakakmu?"
"Itu adalah hal yang normal, Nyonya. Mungkin saja pertumbuhan Nona kecil lebih cepat sedikit dari Tuan muda. Sebab tubuh perempuan akan jauh lebih mudah menyerap nutrisi." Jelas baby sitter pada Quinsy. Baby sitter yang merawat Azella dan Azello adalah orang yang sudah berpengalaman. Kedua orang tuanya tidak ingin merekrut seorang amatir untuk menjaga cucu-cucunya.
"Sayang, ada orang yang bernama Arnold mau ketemu kamu di bawah. Kayanya kamu mau ngejar pelajaran kamu yang ketinggalan sana dia?" Nyonya Karren muncul di balik pintu dan melangkah masuk mendekati kedua cucu-cucu tersayangnya.
"Oh ia, Mah. Aku udah janji sama dia tadi mau ambil pelajaran tambahan di rumah. Biar bisa sekalian jagain Zella dan Zello." Ucap Quinsy lalu bergegas turun ke lantai bawah.!
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama Mr. Arnold." Arnold yang mendengar suara dari belakangnya menoleh. Ia melihat penampilan Quinsy yang terlihat sedikit berantakan tetapi tetap cantik. Jantung Arnold berdegup kencang seakan ingin melompat dari tempatnya. Ia bahkan merasa takut bila Quinsy akan mendengar suara detak jantungnya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1