
Berhubung hari ini Glen keluar dari rumah sakit, Quinsy dan kedua orang tuanya beserta Tuan serta Nyonya Hemsworth datang menjemputnya ke rumah sakit. Di Indonesia sendiri keluarga Hemsworth tidak terlalu di kenali, mungkin hanya ada segelintir orang saja yang tau siapa itu keluarga Hemsworth. Berbeda dengan keluarga Karren yang memang sudah membuming di kalangan banyak orang Indonesia. Jadi kehadiran mereka di rumah sakit itu membuat para awak media menjadikan mereka target berita terkini di chanelnya masing-masing.
Untung saja Tuan Karren telah mengantisipasi hal tersebut dan menempatkan beberapa penjaga dan juga pihak berwajib di luar rumah sakit untuk menghalau para pemburu berita itu. Pengawalan ketat yang berlangsung pagi itu sempat membuat rumah sakit tempat Glen di rawat menjadi sedikit terganggu. Namun, pihak rumah sakit tidak berani angkat bicara, sebab mereka tau siapa itu keluarga Karren di dunia bisnis.
Hingga akhirnya mobil yang membawa kedua keluarga besar itu meninggalkan rumah sakit, barulah para pasien bisa memasuki rumah sakit.
Kedua mobil mewah itu berhenti di kediaman keluarga Karren. Tuan dan Nyonya Karren sengaja membawa Glen beserta kedua orang tuanya ke kediaman mereka untuk membicarakan perihal pernikahan antara Glen dan Quinsy. Kehadiran keluarga Hemsworth kali ini di sambut hangat oleh kedua orang tua Quinsy.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya Hemsworth! Bagaimana bila kita langsung saja membahas mengenai pernikahan ini. Toh kau sudah setuju kan Quinsy?" Tanya Tuan Karren pada putri satu-satunya itu.
Walau masih ragu, tapi Quinsy tetap mengangguk setuju dan membuat kedua orang tua Glen menjadi lega. Mereka pun mulai membahas mengenai tempat dan waktu pesta pernikahan itu akan di gelar. Hingga kesepakatan pun akhirnya di capai, pesta akan di laksanakan di Indonesia dua minggu lagi. Tuan Karren sendirilah yang akan mencarikan gedung tempat pelaksanaan acara tersebut nanti. Sedangkan keluarga Hemsworth akan mencari WO terbaik dunia untuk menjadi pengurus acara pernikahan nanti.
"Mah, Quinsy capek. Quinsy naik duluan ya?"
"Kamu ga papa?" Tanya Nyonya Karren cemas. Ia melihat wajah putrinya yang sedikit pucat.
"Enggak papa, cuman agak kecapean aja." Jawab Quinsy mencoba menenangkan sang Ibu.
"Ya udah, tapi kami yakin ga papa? Gimana kalo panggil Dokter Hanah aja buat datang je sini?"
Hanah adalah Dokter kandungan yang di sewa oleh keluarga Karren secara pribadi, untuk memeriksa kandungan Quinsy jika terjadi hal sm ayam ini.
"Engga usah Ma," Quinsy tetap berusaha menolak. Ia tidak merasakan ada masalah pada janinnya, hanya memang butuh istirahat saja.
"Ok, biar Glen yang nemenin kamu dulu. Mamah masih harus bicara sama calon mertua kamu. Tuan Glen, bisakah menemani Quinsy ke atas. Ia perlu istirahat."
__ADS_1
"Tentu,"
Quinsy hanya mengangguk dan membiarkan Glen menemaninya menuju lantai atas, tempat kamarnya berada. Sedangkan para orang tua kini lebih leluasa membicarakan mengenai persiapan pernikahan selanjutnya.
"Kau tidak perlu berbicara seformal itu pada Glen. Anggap saja dia seperti putra-putramu yang lain. Kau cukup memanggil namanya saja, dan tidak oerlu nenyertakan embel-embel tuan lagi."
"Maaf, aku masih belum terbiasa."
...----------------...
Sedangkan di kamarnya, Quinsy berbaring di atas ranjang dan mulai memejamkan mata. Ia benar-benar lelah dan butuh istirahat. Sementara Glen, ia hanya memandangi beberapa foto yang terpasang di dinding kamar gadis itu. Hingga mata hijau Glen tertuju pada sebuah bingkai yang terdapat gambar Quinsy bersama seorang pria prasangka nampak seumuran. Keduanya nampak sangat akrab dan begitu bahagia dalam foto itu.
Cemburu? Tentu, pria mana yang tidak merasakan rasa cemburu saat melihat gadis yang ia cintai terlihat begitu bahagia walau hanya sekedar foto belaka. Glen tetap mencoba menerima masa lalu Quinsy bersama pria yang lebih dulu mengisi relung hatinya.
Jam anaknya siang pun tiba, Nyonya Karren berniat untuk mendatangi kamar Quinsy dan mengajak kedua insan di sana untuk makan siang bersama. Hingga ia tiba di depan pintu kamar sang putri dan mengemukakan beberapa kali tapi tidak kunjung mendapat jawaban dari dalam. Jadi Nyonya Karren memutuskan membuka pintu kamar itu sendiri.
Mata tua wanita itu membulat melihat pemandangan yang ia dapati. Quinsy, putri bungsunya saat ini tengah tertidur dalam dekapan seorang pria. Ya, walaupun pria itu akan menjadi suaminya, tapi Nyonya Karren tetap merasa tak percaya akan penglihatannya itu.
Setelah sekian lama memperhatikan keduanya yang nampak sangat pulas, Nyonya Karren kembali menutup pintu dan membiarkan mereka seperti itu.
'Biar deh, makan siangnya nanti aja. Kasian, kayaknya mereka bener-bener butuh istirahat.' Pikir Nyonya Karren dan kembali ke riang makan menemui sang suami dan juga kedua besannya.
......................
Pesawat yang membawa Emy, Jessy dan juga Sonya akhirnya telah mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ketiga gadis muda itu lalu bergegas mencari taksi yang dapat mengantarkan mereka menuju kediaman keluarga Karren.
__ADS_1
Untung saja sewaktu di kapal pesiar malam itu, Jessy sempat menanyakan alamat rumah Quinsy pada Morgan. Jadi ia tau harus menuju ke mana setibanya di Indonesia.
Taksi yang membawa tamu asing itu tiba di kediaman keluarga Karren La Vega. Tidak mudah untuk memasuki kawasan elit tersebut. Mereka harus memiliki jijik temu terlebih dahulu dengan salah satu pemilik hinaan di sana barulah bisa masuk. Dan lagi-lagi Morgan membantu mereka dari kejauhan. Pria tampan itu susah lebih dulu menghubungi para penjaga perumahan untuk membiarkan tiga gadis asing memasuki kawasan tersebut sekaligus juga mengantarkan mereka menuju kediaman Karren La Vega berada.
Hingga akhirnya Jessy, Emg dan juga Sinyal telah tiba di depan pintu gerbang rumah Quinsy yang memiliki bangunan jauh lebih luas dari perumahan yang berada di sekitar sana. Seorang pria paruh bayar dengan tubuh tegap menghampiri taksi mereka dan mulai bertanya.
"Ada keperluan apa?"
Jessy yang sudah belajar sedikit bahasa Indonesia dari Morgan pun menjawab "Kami teman Quinsy dari New York dan ingin bertemu dengannya."
"Baiklah tunggu sebentar!" Pria itu kembali masuk dan berlari menuju rumah besar tersebut.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN AUTHOR....
^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^
^^^votenya ya...^^^
^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^
Iā”U READER'S...šš.
__ADS_1