TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
PENERUS KELUARGA HARAPAN


__ADS_3

Genap setahun sudah usia baby Zella dan Zello, kini keduanya telah pandai berlarian di seluruh rumah. Pagi-pagi sekali, kedua balita itu mendatangi kamar sang ibu. Mulut kecil mereka hanya dapat mengucapkan beberapa kalimat yang dapat di mengerti. Sisanya, hanya mereka dan Tuhan sajalah yang mengetahui arti dan maksud dari ucapan kedua balita mungil itu.


"Mommy, Mommy, Mommy...!"


Quinsy membuka mata dengan malasnya, tubuhnya masih terasa begitu lelah setelah membuat sketsa gaun yang akan ia ikut sertakan dalam lomba peragaan busana tahun ini.


"Pagi, sayang. Kalian sudah wangi sekali, sini cium Mommy." Quinsy merentangkan kedua tangannya, kedua balita itu pun mendekat dan bermanja pada sang ibu. Baby sitter yang bertugas menjaga bayi kembar itu datang menghampiri.


"Maaf Nyonya saya tadi sedang membuatkan susu untuk mereka. Saya tidak tahu bila mereka akan kemari."


"Tak apa, mungkin mereka sangat merindukanku. Biarkan mereka di sini dulu, kau bisa meletakkan susu itu di atas meja."


"Baiklah, Nyonya" Baby sitter itu meninggalkan Zella dan Zello di kamar sang ibu. Memang biasanya Quinsy akan bangun pagi dan langsung menuju kampus. Bahkan tak jarang gadis itu tidak memiliki waktu untuk bermain bersama kedua buah hatinya. Mumpung pekerjaannya telah beres dan juga dia tidak memiliki jadwal kuliah, Quinsy memutuskan untuk bermain bersama kedua anaknya.


"Ok, apakah kalian lapar?" Quinsy menyodorkan dua botol berisi susu untuk anak-anaknya. Kedua bayi itu dengan patuh berbaring di sisi sang ibu. Setelah menghabiskan susu dalam botol, Zella dan Zello kembali berlarian. Quinsy menemani keduanya berlari kesana-kemari dengan gembira.

__ADS_1


"Wah, wah...! Pagi-pagi sekali sudah seru banget, sini, ikut Om jalan-jalan."


"Kemana Kak?"


"Aku mau ajak mereka ke taman kota. Kasian mereka kalo di rumah terus. Sekalian aku mau ajak,-" Ucapan Morgan menggantung. Ia merasa menjadi seorang pedofil karena berpacaran dengan sahabat Adiknya sendiri.


"Jessy?" Kakak ga usah malu lagi, aku malah seneng Kakak bisa dapat pacar sebaik Jessy. Dan menurut aku, Jessy itu sangat spesial. Dia cewek yang mandiri dengan pemikiran yang dewasa. Aku bener-bener salut sama dia."


Morgan tersenyum sambil menggelengkan kepala, meski semua yang Quinsy ucapkan mengenai kekasihnya itu adalah sebuah kebenaran, tetapi ingatannya perihal masalah kemarin seakan bertolak belakang. Ia teringat lagi akan wajah cemburu kekasihnya yang menurut Morgan sangat menggemaskan.


"Hei. Akhir-akhir ini aku melihatmu selalu bersama dengan wanita kafe itu. Apakah kalian memiliki suatu hubungan?" Teman karib Billy yang menanam rasa pada Sonya bertanya penasaran. Sebab ia khawatir, Billy dapat lebih dulu mendapatkan gadis incarannya itu.


"Jangan konyol. Mana mungkin ada hubungan di antara kami, bukankah kau pun tau siapa yang aku sukai selama ini?"


"Ya, aku tau. Tapi hubungan kalian seakan tidak biasa." Ucap Bobby penuh selidik.

__ADS_1


"Lagi pula, tidak ada salahnya kau memiliki hubungan dengan gadis kafe itu. Menurutku dia cukup cantik dan manis." Kini Patrick membaur dalam perbincangan kedua sahabatnya. Patrick adalah pemuda yang santai dan terkesan dewasa ketimbang kedua sahabatnya yang lain.


"Aku tidak setujui bila kau memiliki hubungan dengannya. Dia itu tipeku. Kau tidak ingin merusak hubungan diantara kita bukan?" Kini Bobby menegaskan keinginannya. Ia tak mau berbelit-belit, sikapnya yang memang terus terang dan suka ceplas-ceplos membuatnya terkadang rugi sendiri. Sebab, ia sering kali menyinggung seseorang akibat ucapannya. Bahkan ia juga tak jarang berada dalam masalah akibat terlalu terus terang pada orang lain mengenai kekurangan yang orang itu miliki.


"Astaga, Bob! Kau ini terlalu berlebihan. Kau tenang saja, aku tidak mungkin menghianati persahabatan kita hanya demi seorang gadis saja."


"Baiklah, aku percaya padamu."


Perbincangan diantara ketiga pemuda itu berhenti, mereka kembali fokus pada mata kuliah yang tengah mereka geluti. Sebagai penerus salah satu perusahaan terbesar di negara itu, semestinya Billy mengambil jurusan bisnis atau segalanya yang berbau akan masa depannya di perusahaan. Tetapi nyatanya Billy justru lebih tertarik dengan dunia permodelan juga seni. Baginya, seni dan modeling adalah tempat dia dapat mengekspresikan perasaan yang ia miliki.


Dalam dunia model yang banyak mengandung intrik persaingan antar sesama model, masih tidak lebih kejam dibandingkan dengan dunia bisnis. Billy pun tau, salah satu alasan kematian dari kedua orang tuanya disebabkan oleh persaingan bisnis. Itulah mengapa, Billy merasa tidak ingin terjun ke dunia yang kejam itu. Ia ingin menjalani kehidupan yang membuatnya bisa berekspresi semaunya. Bahkan, Neneknya, Nyonya Parhses sendiri tidak pernah melarang Billy untuk memiliki pemikiran semacam itu. Nyonya Parhses juga mendukung semua keputusan yang Billy ambil.


Meski Nyonya Parhses sebenarnya ingin sekali cucunya itu dapat meneruskan bisnis keluarga, tetapi ia juga menyadari, bila ada sebuah trauma besar yang masih menghantui cucu lelakinya. Jadi, Nyonya Parhses hanya bisa menanti sebuah keajaiban yang membuat Billy, siap mengambil tanggung jawabnya sebagai penerus keluarga.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2