
"Quinsy, kira-kira apa yang dilakukan oleh orang dari keluarga Hemsworth itu di sini?"
Quinsy hanya menggerakkan bahu, ia sendiri juga bingung, mengapa Glen tiba-tiba datang ke Universitas itu.
Butuh waktu cukup lama untuk mereka siap tampil, karena ini permintaan dadakan dari orang yang penting di universitas itu maka mereka mencoba menampilkan yang terbaik.
Satu persatu para model muncul dan memamerkan gaun indah mereka. Quinsy yang mengenakan gaun berwarna coklat panjang dengan belahan samping sepanjang paha serta bagian atas yang terbuka, membuat dua buah gundukkan kenyal milik gadis itu sedikit menyembul keluar.
Inilah hal yang tidak di sukai oleh Glen, dia sudah menduga pakaian macam apa yang akan di kenakan oleh gadis cantik itu.
"Miss Alya, bisakah para model tidak mengenakan gaun yang begitu minim?"
"Hah? Maaf, tapi saya tidak mengerti akan maksud Tuan Hemsworth."
"Pakaian yang mereka kenakan terlalu terbuka."
Miss Alya mentap ke arah para model dan tidak mendapati hal aneh dari gaun mereka. Semua model memang diwajibkan memperagakan gaya sesuai dengan tema gaun yang akan mereka kenakan.
Pakaian yang terbuka dan mempertontonkan bentuk tubuh adalah resiko para model. Apalagi pakaian yang di kenakan oleh para modelnya saat ini adalah gaun bertemakan musim semi, jadi tentu saja sedikit terbuka agar terlihat ceria.
"Tapi mereka memang akan mengenakan gaun itu Tuan. Bila harus mengganti model gaun lain, akan butuh banyak waktu. Sedangkan mereka harus ikut kontes esok lusa." Tutur Miss Alya menjelaskan.
Mendengar penuturan dari Miss Alya, Glen mulai memutar otaknya. Ia benar-benar tidak ingin Quinsy mengenakan gaun itu dan memamerkan bentuk tubuhnya pada semua orang.
"Bagaimana bila saya yang mencarikan desainer terbaik dari tempat lain untuk menyediakan gaun bagi mereka."
"Ta...tapi, ini adalah kontes untuk para mahasiswa menunjukkan bakat dalam menjadi desainer gaun dan model berbakat, Tuan."
Glen sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan apapun lagi. Melihat hal itu Miss Alya mencoba mengejar Glen untuk menanyakan perihal siapa yang akan menjadi model ambassador perusahaannya kelak.
"Tuan! Tuan Hemsworth, bagaimana tentang model ambasador yang Tuan bicarakan tadi?"
Glen berhenti di depan lift dan menjawab "Akan saya pikirkan dulu" kemudian menghilang di balik pintu lift.
Miss Alya merasa kecewa, ia pikir akan mendapatkan sponsor tetap untuk para modelnya di kemudian hari. Sayangnya, hal itu harus di telannya kembali. Sebab Glen nampak tidak lagi berminat menjadikan salah satu modelnya untuk menjadi wajah baru bagi perusahaannya.
__ADS_1
Miss Alya kembali ke kelasnya dan menyuruh semua model mengganti pakaian.
Setelah usai berlatih, Quinsy dan Jessy pergi ke kantin bersama. Kedua gadis itu menghampiri dua sahabat mereka yang lain.
Emy dan Sonya yang telah lebih dulu berada di meja itu tengah menikmati makan siang mereka. Sedangkan Quinsy dan Jessy baru saja tiba dengan membawa nampak makanan di tangan masing-masing.
"Emy, kau akan menjadi penata rias kami besok lusa. Aku harap kau tidak membuat kami berdua kecewa." Quinsy berujar.
Kontes kali ini ujan hanya melibatkan para vakultas modelling saja, melainkan juga meliputi vakultas desainer dan tatarias.
"Percayalah dengan kemampuan yang kumiliki, kalian akan menjadi gadis tercantik di atas panggung."
"Aku harap begitu." Kini Jessy yang berbicara. Gadis itu memang agak pendiam, tapi dia juga memiliki sifat baik hati seperti yang lain.
"Bagaimana kalau hari ini kita kembali menikmati waktu kebersamaan kita di luar? Ku dengar di bioskop ada film baru, bagaimana jika kita menontonnya?"
Ajakan Sonya di setujui oleh ketiga sahabatnya, ke empat gadis itu pun pergi menuju bioskop di pusat kota. Kini mereka telah tiba di bioskop dan memesan empat kursi. Sonya bertugas membeli popcorn untuk mereka nikmati selama menonton nanti.
Film yang dipilih oleh mereka bertemakan horor. Quinsy sengaja meminta tema itu untuk memberi tantangan pada ketiga sahabatnya itu.
Siiapa yang berteriak lebih dulu, berarti itulah yang kalah. Dan bagi orang yang kalah harus mencium seorang pria di muka umum.
Andaikan Quinsy tidak memberikan tantangan pasti kini suasana bioskop sudah dipenuhi oleh teriakan mereka.
Hingga tibalah adegan di mana hantu itu tiba-tiba muncul dan menampakkan wajah seramnya tepat di depan kamera dan membuat Sonya berteriak kencang.
Emy, Quinsy dan Jessy tersenyum puas, akhirnya salah satu di antara mereka sudah ada yang menjadi korban. Saat film berakhir, ketiga sahabat Sonya itu langsung menagih janji gadis muda itu untuk mencium seorang pria di depan umum.
Emy bertugas mencari siapa kira-kira pria yang cocok untuk di jadikan target ciuman Sonya. Ia melihat seorang pria tampan yang mengenakan kaos putih dan bercelana jens pendek.
"Kau lihat pemuda itu? Dialah targetmu. Datangi dia dan cium sekarang juga."
Sonya melihat arah telunjuk Emy, di sana telah berdiri seorang pria yang memang terlihat tampan. Ia akhirnya menghampiri pria itu dan menepuk bahunya.
Pria itu menoleh dan mendapatkan satu kecupan hangat di pipi kanannya. Membuat pria itu mematung di tempat dan memegangi pipinya yang masih terasa hangat bekas bibir gadis tidak dikenal.
__ADS_1
Setelah mencium pria itu Jessy kemudian berbalik dan pergi meninggalkan pria tadi tanpa sepatah katapun. Emy, Jessy dan Quinsy tersenyum puas melihat keberanian yang dimiliki oleh Sonya.
"Wah... kau memang yang terbaik Sonya." Puji Emy sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Sonya.
"Ini hanyalah tantangan kecil."
"Benarkah? Tapi ku rasa tidak. Lihat pria itu datang kemari!" Ucap Jessy, Sonya membalikkan tubuhnya dan melihat pria itu yang benar-benar mendekat ke arah mereka.
"Hai Jessy, Quinsy! Apakah kalian juga ingin menonton?" Tanya pria itu ramah pada kedua gadis cantik sahabat Sonya.
'Dia mengenal Jessy dan Quinsy? Astaga, betapa memalukannya ini.' Batin Sonya, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berharap pria yang diciumunya tadi tidak mengenalinya.
"Oh, hai Billy! Tidak, kami baru saja selesai menonton sebuah film. Dan juga memenangkan sebuah taruhan besar." Ucap Quinsy sambil tersenyum nakal pada Sonya.
"Ya, bukankah tadi ada yang mengatakan bila tantangan itu adalah hal kecil? Lalu mengapa dia kini harus menjadi seekor Kura-kura?" Ucap Jessy menimpali.
Sonya melebarkan kedua bola matanya pada Jessy, ia sangat ingin menghilang dari tempat itu saat ini juga. Tapi apalah daya, ketiga sahabatnya itu justru tengah asik berbincang dengan pria yang baru saja diciumunya tadi.
"Oh ya Billy, perkenalkan ini dua sahabatku yang lain. Emy dan Sonya."
Emy tersenyum dan mengulurkan tangannya "Hai, aku Emy."
Sedangkan Sonya masih saja menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hingga Quinsy menarik salah satu tangannya dan menyodorkan pada Billy.
Mau tidak mau, Sonya tersenyum canggung dan menyebutkan namanya pada pria itu.
"Ha..hai, aku Sonya. Maaf soal barusan, aku kalah taruhan dan Emy menunjukmu sebagai target."
"Dia benar, maafkan kami. Aku menunjukkmu secara acak dan tidak mengira bila kau terbyata mengenal Jessy dan Quinsy."
"Tak apa, toh aku tidak dirugikan." Jawab Billy, "Kalau begitu aku akan masuk dulu, filemnya sebentar lagi akan dimulai.
Pria itu kemudian berlalu pergi bersama teman-temannya memasuki ruang bioskop.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
♡Makasih karena kalian udah mau mengikuti novel yang kubuat...🙏🙏
Jangan lupa like,vaforit dan komentarnya ya...😄♡