TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
EMPAT JUTA DOLLAR


__ADS_3

"Aku mau, kau menyediakan tempat duduk khusus untukku di ajang winter fashion show contes nanti." Ucap Glen pada sekretarisnya.


"Baik Tuan, lalu bagaimana mengenai rapat dengan Mr. Smale dan timnya Tuan?"


"Minta mereka menemuiku di ruang rapat sekarang dan suruh kepala tim perancangan untuk ikut bersama dalam rapat kali ini."


"Baik Tuan!" Bred mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan Glen.


Sebenarnya tugas Bred adalah menjadi asisten pribadi sekaligus sekretaris dari Glen. Tapi semenjak ada Quinsy di perusahaan, bebannya sedikit lebih ringan. Apalagi Glen tidak pernah berulah bila gadis itu ada dan semuanya berjalan sesuai jadwal.


Tapi, baru dua hari gadis tidak berada di perusahaan, Glen membuat kacau seluruh agenda yang sudah ia susun. Dan membuatnya selalu berada dalam tekanan, sebab ia harus kembali mengatur jadwal temu dengan para klien juga dewan direksi untuk mengadakan rapat.


Usai berkumpul dengan teman-temannya, Quinsy akhirnya pulang dengan mobil pribadi miliknya. Hari ini Morgan mengizinkannya untuk memakai mobil sndiri karena supir pribadi keluarganya sedang sakit.


Karena salju yang begitu lebat turun malam ini, jalanan kota New York hampir semua yang tertutup oleh salju. Mobil Quinsy tiba-tiba saja mati, rupanya gadis itu lupa untuk mengisi bahan bakar mobilnya.


Gadis itu pun mencoba menghubungi Kakaknya Morgan agar segera menjemputnya. Namun sayang, berkali-kali Quinsy melakukan panggilan ke ponsel Kakaknya itu, tapi tetap saja tidak ada jawaban.


Hingga sebuah mobil lain berhenti di depan mobilnya. Awalnya Quinsy mengira itu adalah para penjahat yang mengincar mobil dan barang berharga lain. Tapi ternyata saat orang dari pemilik mobil itu turun dan menemui gadis itu, barulah Quinsy merasa lega.


"Mr. Arnold," ucap Quinsy bernafas lega, gadis itu membuka pintu mobil dan ikut keluar.


"Ada apa dengan mobilmu Quinsy?"


"Be..begini Sir, saya tadi lupa mengisi bahan bakar sebelum menggunakannya." Ucapnya sambil cengengesan pada Dosen tampan di hadapannya itu.


"Dasar ceroboh! Bagaimana bila kau tidak berjumpa denganku dan malah bertemu dengan orang jahat?"


Quinsy terdiam, gadis itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ayo, biar ku antar kamu pulang" ajak Mr. Arnold dan masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Quinsy yang duduk di kursi samping.


"Bagaimana dengan persiapan kontesmu? Apakah semua berjalan lancar?" Ucap Mr. Arnold memecahkan keheningan.


"Ya, semuanya telah di persiapkan dari jauh hari. Semoga saja kami dapat mengharumkan nama universitas dengan bakat yang kami miliki."


"Saya salut padamu, kau dapat membagi waktumu dengan sangat baik untuk dua mata kuliah yang berbeda. Bahkan kedua nilai-nilai tidak pernah kurang dari standar yang di tetapkan oleh pihak universitas. Semoga kau dapat terus mempertahankan itu."

__ADS_1


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin."


Mobil pun berhenti di halaman rumah keluarga Karren. Quinsy turun dari mobilnya dan tidak mendapati mobil sang Kakak di bagasi.


"Terimakasih Mr. Arnold atas tumpanganmu."


"Tak masalah." Jawab Mr. Arnold kemudian kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Quinsy.


"Kakak belum pulang? Tumben."


Quinsy masuk dan menuju kamarnya, ia ingin segera membersihkan diri dan langsung mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah seharian berjalan dengan menggunakan hells di atas panggung.


...----------------...


Sementara itu di sebuah kantor polisi, Morgan tengah menunggu kedatangan Pengacaranya. Dia tidak menyangka akan terjebak di tempat itu bersama seorang gadis muda yang tengah mabuk berat.


Banyak pasang mata yang menatapnya jijik, heran dan banyak lagi. Ingin rasanya ia mencungkil bola mata orang-orang yang sedang menatapnya itu. Tapi saat dia menoleh ke sisi kiri, Morgan mendapati wajah gadis yang bersamanya terlihat biasa saja.


"Bisa ceritakan hal yang sebenarnya?" Tanya sang Pengacara pada Morgan, pria itu pun menceritakan kronologi kejadian hingga membuat mereka berakhir di tempat ini.


Flash Back On...


Saat gadis itu telah memasuki mobilnya, ponsel dalam tas berbunyi tanda panggilan masuk.


"Ya,"


"Jessy, cepatlah kemari! Ayah dan Ibu bertengkar lagi, sedangkan Hans mencoba bunuh diri."


Itu adalah Mona yang menelponnya, dari suaranya, sepertinya gadis muda itu sangat panik saat ini.


"Ok, kau tenanglah. Aku akan pulang segera!"


Jessy kemudian melajukan mobilnya dan menuju ke rumah utama. Pertengkaran di antara kedua orang tuanya bukanlah hal yang mengejutkan bagi Jessy.


Tapi alasannya kembali ke sana adalah Mona yang mengatakan bila Adik keduanya saat ini mencoba bunuh diri. Karena pikirannya yang tengah kalut, gadis itu membawa mobilnya dengan sangat laju. Hingga tanpa terasa ia telah tiba di gedung tempat tinggal kedua orang tua dan Adik-adiknya. Tempat yang dulu pernah menjadi tujuannya saat pulang dan pernah ia sebut sebagai rumah.


Jessy turun dari mobil dan bergegas masuk, ia mendapati suasana rumah yang sangat berantakan. Namun, Jessy seakan tak melihat hal itu, dia langsung naik ke lantai dua.

__ADS_1


Kedua orang tuanya dan sang Adik bungsu telah berdiri di depan pintu kamar Hans. Berulang kali mereka mencoba mengetuk pintu itu, namun tak ada jawaban. Hingga sang Ayah terpaksa mendobrak paksa pintu itu.


Jessy melihat tubuh sang Adik lelakinya sudah bersimpuh di atas lantai, pria muda itu nampak tengah depresi berat. Ibu mereka berlari dan memeluk tubuh putranya, ia membawa tubuh ringkih putranya ke dalam dekapan hangat seorang Ibu.


Sebagai seorang Kakak tertua, Jessy merasa sangat sedih atas apa yang keadaan sang Adik saat ini. Hans memanglah orang yang sangat di manja sedari kecil oleh kedua orang tuanya. Jadi, tak heran mengapa ia saat ini begitu depresi akan keadaan yang kedua orang tua mereka lakukan.


Hans yang di liputi emosi mendorong tubuh Ibunya hingga tersungkur ke lantai. Dan saat sang Ibu ingin kembali mendekat pada pria muda itu, Jessy lebih dulu mencegahnya.


"Tinggalkan kami, biar Hans aku yang urus."


"Tapi,.." belum sempat sang Ibu meneruskan ucapannya, Jessy sudah mengeluarkan suara lantang "Aku bilang pergi!"


"Jessy! Sopan sedikit pada Ibumu!" Bentak sang Ayah yang tidak terima istrinya di Bentak oleh putri kandungnya sendiri.


"Sopan? Apakah ada yang mengajarkan padaku hal itu? Apakah ada di antara kalian yang memberikan contoh bagaimana bersikap sopan?!"


Kedua orang tuanya terdiam mendengar pertanyaan dari putri sulung mereka. Memanglah sudah bertahun-tahun mereka selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka. Hingga Jessy dan Adik-adiknya tumbuh tanpa bimbingan mereka.


Melihat kedua orang tuanya yang tidak bisa berkata lagi, Jessy lalu mendekati Hans dan memeluk tubuh Adik keduanya itu.


"Tinggalkan kami berdua!" Saat kedua orang tuanya pergi Jessy lalu memegangi pipi sang Adik.


"Lihat aku, ceritakan apa yang terjadi? Ini bukanlah kali pertama mereka bertengkar di depan kita."


Hans awalnya tidak ingin menceritakan masalah yang menimpanya, tapi Jessy terus memaksa dan akhirnya ia mulai buka mulut.


"Aku..aku, memiliki hutang banyak pada teman-temanku. Dan mereka ingin menerima pembayarannya besok. Tapi Mom dan Dad tidak mendengarkanku, mereka malah saling menyalahkan."


"Berapa hutangmu?"


"Em...empat juta Dollar." Jawabnya dengan ragu, Jessy langsung membelalakan mata saat mendengar uang yang di habiskan oleh Adiknya bisa sebanyak itu.


BERSAMBUNG....


β™‘Thank's For readers yang udah mau ikutin novel aku...😊


Aku do'akan semoga kalian selalu bahagia selamanya...πŸ˜„

__ADS_1


Tolong bantu aku dengan like, vaforit dan komen ya...πŸ™‡


I love you all...πŸ˜‰πŸ˜‰β™‘


__ADS_2