TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
KEMBALI KULIAH PART 1


__ADS_3

"Aku akan mencari Dania di rumahnya."


"Apa?!" Nyonya Hemsworth menatap tak percaya pada putra tunggalnya itu. Ia tak menyangka, bila Glen masih saja memilih wanita lain di dalam hidupnya. Ia pikir, setelah Glen mendengar penjelasan tentang alasan Quinsy meninggalkannya akan membuat putranya itu tersadar.


Tuan Hemsworth tersenyum sinis dengan jawaban Glen, kini ia tau, rupanya putra kebanggaannya itu memang benar-benar lelaki yang bodoh. Tak mau menghadapi tingkah konyol putranya, Tuan Hemsworth bangkit dan ingin meninggalkan ruang keluarga. Namun pernyataan Glen selanjutnya membuat langkah Tuan Hemsworth terhenti.


"Aku kesanga untuk meminta bantuan darinya. Aku ingin, memintanya menjelaskan pada Quinsy tentang semua yang sudah terjadi. Aku ingin semua masalah ini segera berakhir."


"Semudah itu? Lalu, apakah kau sendiri sudah menjelaskan seharusnya saat ini pada Dania? Apa kau sudah mengatakan padanya bila kau kini telah beristri?"


"Untuk saat ini memang belum. Itulah mengapa aku ingin menemuinya. Aku ingin meluruskan semua kesalahpahaman ini."


"Itu baru putraku." Ucap Tuan Hemsworth dengan senyum bangga. Senyuman yang selalu ia berikan untuk putra tunggalnya itu.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Di pulau yang ditempati oleh Quinsy, Nyonya dan Tuan Karren tengah bermain bersama kedua cucu mereka. Kedua orang tua itu mendapati putrinya sesekali melamun. Berada di tempat yang begitu jauh dari keramaian, dan sangat sulit berkomunikasi dengan orang luar tentu tidaklah nyaman. Apalagi di usia Quinsy yang masih tergolong belida ini. Dia pasti amat merasa jenuh berada di tempat itu.


"Quinsy, apa kamu ga pengen pulang ke Indonesia aja? Mungkin di sana kamu bisa lebih nyaman?" Tanya Tuan Karren yang khawatir akan kesehatan mental sang putri.

__ADS_1


"Em, kalo boleh, aku mau kembali kuliah, Pah. Tapi aku akan berhenti ambil jurusan modeling. Aku akan fokus sama jurusan bisnis dan butik."


"Kamu mau kuliah di Indonesia?" Kini giliran Nyonya Karren yang bertanya, tapi di jawab gelengan oleh bQuinsy.


"Aku mau tetap kuliah di universitas ku yang dulu."


"Tapi sayang, apa kamu udah siap ketemu lagi sama Glen?"


"Aku ga mungkin selamanya sembunyi di sini kan, Mah? Aku juga harus Nyiapin masa depan buat Zella dan Zello. Aku harus jadi Ibu yang kuat buat mereka berdua." Penuturan dari putri bungsu mereka membuat hati Tuan dan Nyonya Karren kian membanggakan Quinsy. Gadis kecil mereka kini telah benar-benar tumbuh menjadi sosok yang dewasa. Quinsy bisa mengatasi trauma masa lalunya dan ingin terus bangkit. Hal itu tentu saja akan didukung sepenuhnya oleh mereka sebagai orang tua Quinsy.


"Ok. Kalo gitu kapan kamu mau mulai kuliah?"


"Papah bakal siapin heli buat antar kita keluar dari pulau ini."


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


"Jadi, Cafemu memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi?"


"Yah, kerusakan yang mereka lakukan tempo hari membuatku mengalami banyak kerugian. Aku terpaksa menjual cafe itu dan membuka bisnis baru lagi." Billy kagum akan kedewasaan yang Sonya miliki, meski usia mereka tak berbeda jauh, akan tetapi sikap mandiri Sonya begitu berbanding terbalik dengan dirinya.

__ADS_1


Billy adalah putra tunggal keturunan keluarga terkaya nomor tiga di New York. Ayah Ibunya meninggal sejak ia masih duduk di bangku menengah atas. Semenjak itulah, Billy tinggal bersama sang Nenek dan menjadi begitu lengket dengan wanita tua itu. Bagi Billy, Neneknya adalah orang yang begitu penting dalam hidupnya saat ini. Karena kehadiran sang Nenek pulalah, Billy dapat bangkit dari keterpurukannya.


Billy memang tidak pernah mau mengurusi urusan perusahaan yang berada di tangan kedua orang tuanya. Ia hanya berfokus pada mimpi dan keinginannya sendiri. Nenek Pharses di usia tuanya yang mengambil alih, hingga Billy siap untuk tanggung jawab itu.


"Jadi, kedepannya kau akan melakukan apa?"


"Aku dan Emy akan membuat sebuah cafe baru. Mungkin, ini agak sulit, tetapi aku yakin, dengan menu-menu baru yang akan kami ciptakan, akan ada banyak orang yang menyukai cafe kami."


"Ya aku pun yakin akan hal itu. Mengingat, cafe yang kamu dirikan sebelumnya tidak pernah sepi dari pengunjung."


"Kau terlalu memuji. Sebenarnya kebanyakan dari mereka datang karena, Jessy. Kau tau bukan, Jessy adalah seorang model yang sangat cantik. Pesona yang dia miliki aku manfaatkan untuk menjadi wajah dari cafeku dulu. Hahaha.." Ini kali pertama Billy melihat tawa riang dari Sonya. Tanpa Billy sadari, bibirnya ikut menyunggingkan sebuah senyuman.


'Ternyata gadis ini manis juga,' batin Billy bergumam.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak melakukannya lagi? Aku bersedia menjadi partner Jessy untuk menjadi wajah di cafe barumu."


"Kau yakin?" Billy mengangguk singkat. Sonya tersenyum senang akan hal baik itu. Bagaimana tidak, Jessy dan Billy adalah model muda berbakat yang sedang ramai digandrungi oleh kaum anak muda sebayanya. Dengan bantuan dari mereka, tentu saja cafe miliknya dan Emy itu akan menjadi sorotan publik. Dan tidak butuh waktu lama untuk menarik minat pelanggan.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2