TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
JESSY CEMBURU


__ADS_3

"Oh, selamat siang Nona Fanny."


"Maaf sudah membuatmu menunggu. Aku agak kesulitan menemukan tempat ini."


"Tak apa. Perkenalkan ini adalah-" Belum sempat Morgan memperkenalkan Jessy pada wanita bernama Fanny itu, ia sudah lebih dulu memotong ucapan Morgan. Ia menjulurkan tangan pada Jessy dan disambut oleh gadis itu.


"Model ambassador perusahaan Anda bukan? Saya sempat melihatnya waktu itu. Perkenalkan, nama saya Fanny. Lain waktu, saya mungkin juga akan meminta Anda menjadi model prodak baru kami."


Jessy hanya tersenyum kikuk atas permintaan dari wanita dihadapannya. Dirinya merasa seperti terabaikan di tempat itu, tetapi Jessy tetap enggan untuk pergi.


"Aku permisi ke toilet sebentar." Pinta Jessy dan bangkit dari tempat duduknya.


Ketika di toilet, Jessy mengirim pesan pada Morgan. Ia kembali bertanya tentang acara pemotretan besok siang. Dan rupanya permintaan Jessy ditolak oleh Morgan begitu saja. Jessy mencoba menahan rasa kecewanya, ia kembali lagi tempat dimana Morgan dan wanita tadi duduk. Keduanya terlihat begitu akrab dan saling tertawa bersama. Perasaan Jessy kini menjadi makin kacau, terpaksa ia duduk meski dengan raut masam.


"Baiklah Tuan Morgan, selamat berjumpa lagi besok siang di hotel X." Fanny bangkit dan menyalami Morgan lalu pergi meninggalkan pasangan yang tak saling berbicara itu. Dan tak lama setelah kepergian wanita tadi, Jessy juga meninggalkan Morgan tanpa mengucapkan apapun.

__ADS_1


Morgan mencoba menyusul kekasihnya itu, karena tak biasanya Jessy seperti saat ini. Tetapi gadis muda itu sudah lebih dulu menaiki mobilnya. Berulang kali Morgan berusaha menghubungi Jessy, namun selalu saja tidak dihiraukan oleh gadis itu. Bahkan Morgan sampai mengunjungi apartemen milik Jessy, sayangnya model cantik itu belum juga kembali. Hingga akhirnya Morgan pulang dengan perasaan yang masih kebingungan.


FLASH BACK OFF…


Dan disinilah Morgan berada, ia mendatangi kafe baru milik sahabat Adiknya. Berharap, ia akan bisa mendapatkan penjelasan dari Jessy tentang sikapnya kemarin.


"Kau kemari? Bukankah tadi kau bilang kau masih sibuk?"


Pertanyaan dari Jessy kali ini membuat Morgan makin kebingungan. Morgan hanya terdiam dan tak dapat berkata lagi. Ia bingung harus menjawab apa, bukankah kemarin hubungan mereka masih baik-baik saja? Tetapi entah mengapa setelah makan siang bersama, kekasihnya itu seperti sedang marah besar kepadanya.


Keterdiaman Morgan justru membuat Jessy makin geram. Ia bangkit dan ingin meninggalkan pria yang tidak memberikan pembelaan apapun itu. Sikap Morgan yang seolah membenarkan tuduhan Jessy, membuat gadis muda itu kian salah paham.


"Bicarakanlah baik-baik. Kami ada di luar," bisik Emy sebelum meninggalkan sahabatnya itu.


"Apakah kau sedang cemburu?"

__ADS_1


"Tidak!" Pertanyaan to the point dari Morgan segera di sangkal oleh Jessy. Dan Morgan yakin, kekasihnya itu memanglah tengah cemburu kepadanya.


"Benarkah? Lalu, bisakah kau jelaskan sikapmu saat ini?"


"Aku hanya masih harus melakukan pemotretan dan tidak ada waktu untuk menemanimu di sini. Intinya, aku sibuk!" Jessy sengaja menekankan kata sibuk untuk menyindir Morgan. Wajah kesal Jessy saat ini justru membuat Morgan menjadi gemas. Ia berjalan mendekat, dan memeluk tubuh ramping Jessy dari belakang.


"Tapi, aku sangat merindukanmu. Apakah kau tega membiarkan pria tampanmu ini tersiksa karena rasa rindu?" Mendengar rayuan Morgan, Jessy masih belum bereaksi. Hingga membuat pria tampan itu harus mengeluarkan jurus rayuan maut lain.


"Maafkanlah kekasihmu ini. Aku tidak bermaksud menolak keinginan darimu, tapi aku harus menangani masalah penting yang tidak bisa diwakilkan pada siapapun."


"Masalah penting? Maksudmu wanita bernama Fanny kemarin?" Jessy menghempaskan lengan Morgan dengan kasar.


"Apa? Jadi ini tentang wanita kemarin? Hei, tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Dan aku tidak membicarakan tentangnya. Aku harus menangani masalah anak perusahaan yang hampir kolep karena salah satu orang kepercayaan Papa melakukan korupsi yang bernilai ratusan miliar." Setelah mendengar penjelasan panjang kali lebar dari Morgan, Jessy mulai tenang. Belum lagi pria itu terus mengeluarkan rayuan-rayuan maut yang membuat hati Jessy kian luluh.


Di luar, Billy merasa gelisah, ia mengkhawatirkan keadaan Jessy di dalam sana. Billy takut, emosinya saat ini dapat membuatnya terluka. Tetapi, semua itu tak sesuai dengan yang ia duga. Jessy dan Morgan keluar bersamaan, bahkan keduanya nampak baik-baik saja. Hati Billy sedikit memanas melihat itu, ia pikir akan ada kemungkinan untuknya mendapatkan Jessy. Sayang sekali, itu hanyalah tinggal angan, sebab keduanya justru semakin mesra setelah masalah tadi.

__ADS_1


"Wah, ternyata ada yang sudah berbaikan? Kalau begitu kita harus merayakan semua ini." Sonya memberikan dua gelas koktail pada Jessy dan Morgan. Ia juga memberikan segelas lagi untuk Emy, Billy dan segelas untuk dirinya sendiri. Semuanya bersama-sama menikmati koktail yang Sonya sajikan. Perpaduan antara sedikit alkohol dan juga perisa buah dengan takaran yang pas, membuat minuman itu terasa menyegarkan.


BERSAMBUNG…


__ADS_2