
Siang ini akhirnya Glen dan Quinsy akan kembali ke kota New York. tuan dan nyonya Karren mengantar kepergian mereka di bandara. Bahkan Miguel beserta anak dan istrinya turut menghantarkan kepergian Glen dan Quinsy.
"Hati-hati di jalan ya sayang, ingat kabari Mamah kalau kamu sudah sampai."
"Ya mah," saat Glen dan Quinsy akan memasuki pesawat, Miguel tiba-tiba menghampiri Glen.
"Kau tahu aku masih tidak menyukaimu. Aku akan tetap mengawasi setiap pergerakanmu. Bila suatu saat aku menemukan kau menyakiti Adikku, maka saat itu juga aku akan membawanya pergi sejauh mungkin darimu."
"Percayalah saat itu tidak akan mungkin tiba." ucap Glen dengan percaya dirinya dan berlalu pergi bersama Quinsy memasuki pesawat.
Di dalam pesawat pribadi milik keluarga Karren, Glen membawa Quinsy menuju sebuah ruangan yang amat nyaman. Di sana sudah tersedia kursi khusus untuk ibu hamil yang empuk, beserta banyaknya cemilan yang tersedia di dalam lemari pendingin. Semua itu disediakan oleh kedua orang tua Quinsy. Mereka sadar, bila perjalanan yang akan Glen dan Quinsy tempuh tidaklah sebentar. Jadi mereka takut Quinsy akan merasa lapar dan makanan di pesawat tidak sesuai dengan keinginannya yang beragam. Oleh sebab itu, Tuan dan Ynonya Karren berinisiatif membuat sebuah ruangan khusus bagi Quinsy lengkap dengan cemilan-cemilan kesukaan putri mereka itu.
"Wah... Apakah kau yang mendesain tempat ini? Ini sangat luar biasa! Bahkan sepertinya lebih nyaman dari pada kamar di rumah."
"Tidak, ini semua Mama dan Papa lah yang melakukan. Aku pun baru tahu dari Pramugari barusan."
"Pramugari? Pramugari yang mana? Kapan kau berbincang dengan Pramugari?" Tanya Quinsy penuh selidik. Ia dari tadi berdiri dekat dengan suaminya itu, dan tidak menyadari Glen ada berbicara dengan Pramugari yang di maksud.
"Barusan. Kau terlalu terpana saat masuk dalam pesawat, jadi kau tidak menyadari ketika aku berbicara dengan Pramugari."
__ADS_1
"Oh begitukah?" Gumam Quinsy dengan tatapan tak percaya. Ia menatap Glen dengan tatapan yang tidak biasa.
"Apakah kau cemburu?" Goda Glen, ia tidak tahan melihat tingkah lucu istrinya yang baru kali ini menampakkan sisi cemburunya yang begitu ketara.
"Tidak!" Kilah Quinsy dengan wajah memerah. "Ayolah, jujur saja bila memang kau cemburu. Owh... aku tidak percaya, akhirnya kau memiliki rasa untukku." Ucap Glen dengan mata berbinar. Namun, Quinsy tetap berusaha mengelak walau tingkahnya tidak dapat membohongi kenyataan.
"Jangan terlalu percaya diri Tuan Hemsworth. Aku tidak cemburu, aku hanya bertanya."
"Benarkah? Aku jadi kecewa. Padahal, aku sangat berharap kau bisa cemburu." Glen berucap sembari memasang wajah sedihnya.
"Kau terlalu kekanak-kanakan." Quinsy segera berbalik meninggalkan Glen dengan wajah merah tomatnya dan duduk di kursi khusus ibu hamil. Dengan senyum senang, Glen mengikuti Quinsy di belakang.
"Apakah kau tidak lelah? Perjalanan dari rumah ke bandara memakan waktu lumayan lama."
Glen bangkit dan melihat isi lemari pendingin itu, ternyata di sana sudah lengkap dengan banyak aneka macam cemilan juga buah-buahan yang disukai oleh Quinsy.
"Ada anggur apel mangga kedodong dan jeruk tau mau yang mana?
"Tolong kupaskan mangganya untukku, dan juga bahwa beberapa jeruk kemari." Glen menuruti keinginan istrinya. Ia mengupaskan dua buah mangga matang dan meletakkannya ke atas piring tak lupa juga, tiga buah jeruk yang sudah ia kupas pula. Glen menyodorkan piring berisikan irisan buah mangga matang kepada Quinsy.
__ADS_1
"Apakah ada yang lain Tuan Putri?"
Quinsy tersipu mendengar pertanyaan Glen yang menyebutnya sebagai Tuan putri. Suaminya itu sangat sering memanggilnya dengan sebutan-sebutan semacam tadi. Dan anehnya, hal itu selalu mampu membuat hati Quinsy senang bukan main.
"Tidak, untuk saat ini sudah cukup. Aku hanya ingin menikmati buah-buahan ini sambil membaca majalah."
"Ok, aku akan duduk di sini bila kau memerlukan hal lain."
Glen dengan laptop di hadapannya, duduk di kursi yang tidak jauh dari Quinsy. Sesekali ia melirik kepada istrinya yang nampak asik menikmati buah mangga itu. Hingga beberapa saat kemudian, Quinsy telah tertidur pulas. Glen mengangkat tubuh Quinsy menuju ranjang besar. Dengan lembut ia membaringkan tubuh Quinsy, tak lupa juga memberikan kecupan lembut di kening gadis itu.
"Terimakasih sudah bertahan denganku selama ini." Bisik Glen pelan kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Di gedung mewah nan megah, tengah sibuk mempersiapkan sebuah acara yang amat sakral dari dua buah keluarga ternama. Semua dekorasi yang mempercantik ruangan gedung tersebut, telah dipersiapkan sejak jauh hari. kini, hanya tinggal menunggu hari baik itu tiba, maka orang-orang yang sibuk sekarang akan segera beristirahat.
Emy, beserta Ibu dan calon Ibu mertuanya tengah melakukan fitting baju pengantin yang akan ia kenakan minggu depan. Gaun yang ia coba adalah hasil karya milik sahabatnya, Quinsy. Gaun itu berwarna putih, dengan renda-renda berbalut emas murni dan corak batik di sekelilingnya.
"Wow! Kau tampak sangat cantik putriku." Puji Ibu Emy, ketika melihat putri bungsunya dengan balutan gaun pengantin yang amat cantik. Gaun itu terlihat simple, namun juga mewah. Menambahkan pancaran sisi elegan yang dimiliki oleh Emy.
__ADS_1
"Ya. Dia seperti bidadari yang memang dipasangkan untuk putraku Arnold."
BERSAMBUNG....