
Sebelum sarapan pagi dimulai, Tuan Karren dan Glen berbincang di ruang kerja. Tuan Karren menyerahkan sebuah map yang berisikan tentang informasi dari sebuah keluarga.
"Mereka adalah orang-orang dari keluarga Viktor. Satu-satunya saingan bisnis keluarga kami. Dulu mereka pernah merencanakan hal yang serupa saat Quinsy masih SMA. Mereka berencana untuk menculik Quinsy dengan bekerja sama pada geng mafia di Itali dan meminta sertifikat aliansi perjanjian dengan perusahaan dari Cina sebagai barang pertukaran. Aku menemukan bukti bila dalang itu semua adalah mereka, kemudian menghancurkan sebagian bisnisnya. Hingga mereka pun harus pergi dari Indonesia. Hingga beberapa waktu lalu aku mendengar bila mereka kembali lagi kemari. Aku pikir semuanya akan tetap baik-baik saja, aku tidak mengira mereka akan melakukan hal yang sama kembali."
"Keluarga Viktor? Bukankah mereka adalah keluarga yang memiliki perusahaan properti yang sedang mengguncang pasar luar negri?"
"Kau mengenal mereka?"
"Ya, mereka telah berulang kali mengajukan kerja sama dengan perusahaan kami. Dan kemungkinan saat ini, mereka juga telah bekerja sama dengan salah satu perusahaan kami. Sebab, Tuan Viktor telah mengajukan sebuah kontrak kerja sama yang cukup menguntungkan. Itulah mengapa saya membiarkannya bekerja sama dengan anak perusahaan milik Daddy di New York." Tutur Glen menjelaskan.
Tok...tok...tok
"Sudah waktunya sarapan. Lekaslah turun," Ucap Nyonya Karren mengingatkan suami dan menantu lelakinya.
"Ok, biar ini semua Papa yang urus. Kau cukup menjaga Quinsy selama dia bersamamu di New York nanti."
"Pasti Pa,"
Kemudian ketiga orang itupun melangkah menuju meja makan yang di sana sudah ada Quinsy.
"Apakah semuanya sudah kamu siapkan?"
"Ya Mah, semuanya sudah beres, jam 01.00 siang nanti Pesawat akan take off." Kedua orang tua Quinsy sama-sama menganggukkan kepala dan melanjutkan sarapan mereka. Tak ada lagi percakapan di sana, ke empat orang itu tengah menikmati makanan mereka masing-masing.
__ADS_1
Usai sarapan bersama, Tuan Karren dan istrinya kembali menuju kamar mereka. Sedangkan Glen juga Quinsy, memilih untuk berjalan-jalan di taman belakang.
Usia kandungan Quinsy yang sudah menginjak 6 bulan memang terlihat lebih besar dari usia kandungan pada wanita hamil umumnya. Itu semua dikarenakan Quinsy saat ini tengah mengandung dua bayi sekaligus. Tak jarang gadis itu akan mendesis kesakitan saat duo twins tengah beraksi seperti saat ini. Quinsy tiba-tiba saja mengaduh kesakitan membuat Glen panik bukan main.
"...Ah!"
"Kau kenapa? Apakah ada yang terluka?"
"Tidak, hanya saja mereka sepertinya sedang melakukan pergerakan yang bersamaan." Jelas Quinsy sembari mengelus lembut perut buncitnya. Glen berjongkok dan menempelkan telinganya pada perut Quinsy seraya berkata lembut.
"Hey, bisakah kalian lebih tenang? Tunggu saat kalian telah terlahir kedunia ini, kita akan sering bermain bersama. Tapi untuk sekarang, Daddy ingin kalian tidak membuat Mommy kesulitan, ok?"
Quinsy tertawa kecil mendengar perintah Glen yang seakan tengah mengajak bocah berusia lima tahun berbicara. Padahal bayi mereka saja masih belum terlahir. Dan ajaibnya, duo twins itu seakan mengerti akan ucapan Ayah mereka. Pergerakan diantara dua bayi tersebut tak lagi berlebihan, bahkan bisa dikatakan keduanya telah benar-benar tenang.
Di sebuah gedung pencakar langit, Jessy yang tengah melakukan pemotretan untuk sebuah pameran berlian nampak tengah beristirahat. Ia dan asistennya duduk di sudut kanan tempat pemotretan itu sembari membahas mengenai berlian yang ia kenakan saat ini.
"Kau tau Jessy, aku dengar-dengar dari beberapa kru di sini, berlian yang kau kenakan ini adalah satu-satunya berlian yang diciptakan oleh perusahaan DGC. Dan aku juga dengar dari mereka, berlian ini bernilai 667.877.750,$$!"
"Lalu?" Tanya Jessy singkat.
"Lalu? Kau tau berapa banyak model dan orang ternama yang ingin mencoba mengenakan berlian ini?"
"Ya, ya...aku rasa semakin cepat menyelesaikan pemotretan ini, maka akan semakin baik pula untukku. Aku ingin segera pulang dan belajar. Minggu ini aku harus menghadapi ujian."
__ADS_1
Jessy bangkit dari tempat duduknya kemudian menuju tempat pemotretan. Gadis cantik itu kembali berpose cantik di depan kamera. Pesona dan aura yang ditampilkan oleh Jessy memang benar-benar cocok dengan berlian yang ia kenakan saat ini.
Usai melakukan pemotretan, seperti yang Jessy katakan tadi, ia langsung bergegas kembali menuju villa miliknya. Tapi sebelum itu, ia ingin berhenti di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-harinya. Karena kebetulan, asisten rumah tangga yang biasanya mengurusi kediamannya harus kembali ke kampung halaman karena anaknya akan menikah. Jadi untuk sementara waktu, Jessy akan menghandle semuanya sendirian. Satu per satu bahan-bahan kebutuhan dapur telah Ia masukkan ke dalam troli. Ketika ia ingin mengambil sebungkus roti, tiba-tiba seorang bocah kecil menghampirinya.
"Mommy..!" Seru anak itu sembari memeluk kaki jenjang Jessy. Jessy yang tidak mengenali anak itu pun mencari-cari keberadaan orang tua si anak, sambil menoleh ke sana kemari.
"Hey litle boy, di mana orang tuamu?"
"Dedi ada di sana. Kami sedang membeli buah, aku tadi melihat Mommy di sini lalu menghampirimu." Jessi seakan familiar akan raut wajah anak ini. Ia mencoba mengingat-ingat dimanakah pernah bertemu dengannya. a
'Ah! Bukankah ini anak yang pernah bertemu denganku di kapal pesiar waktu itu?' Saat Jessy tengah bertanya-tanya sendirian dalam hati, seorang pria tampan menghampiri mereka.
"Rupanya kau di sini? Aku telah mencarimu ke sana kemari. Sudah berapa kali ku katakan, jangan berlarian! Itu bisa berbahaya bagi orang lain dan juga dirimu."
"Ya, Daddy. Tapi aku melihat Mommy. Aku rindu Mommy." Ucap anak itu dengan wajah sedihnya. Jessie yang merasa kasihan pada anak itu pun berjongkok dan memberikan sebuah pelukan padanya.
"Sekarang kau telah melihatku. Lain kali, kau tidak boleh pergi sembarangan lagi dari Ayahmu. Itu bisa berbahaya. Apakah kau mengerti?"
"Yes, Mommy!"
"Anak pintar!" Puji Jessy sambil mentoel hidung mancung bocah laki-laki kecil itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1