
"Apa yang harus kita lakukan Pah? Kita tidak mungkin membiarkan bayi dari laki-laki br*ngs*k itu lahir dari rahim putri kita." Ucap Nyonya Karren dengan penuh kegusaran.
"Papah tau Mah, Tapi Mamah kan tau tindakan aborsi itu melanggar hukum. Apa lagi itu sangat berisiko untuk tubuh putri kita. Ingat, dia baru saja pulih dari rasa traumanya."
"Lalu, apakah kita harus membiarkan bayi itu lahir? Membiarkannya mencoret arang ke wajah kita? Membiarkannya menambah luka pada putri kesayangku lagi?" Kini Nyonya Karren sudah tidak mampu membendung air matanya, ia benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi.
Di satu sisi, ia tidak ingin membunuh bayi yang tidak berdosa itu. Biar bagaimana pun bayi itu tidak bersalah terlepas dari apa yang di lakukan oleh perbuatan ayahnya yang b*j*ng*n.
Tapi di sisi lain, sebagai seorang Ibu, Nyonya Karren tidak sanggup melihat putrinya yang selalu berteriak histeris kala mengetahui kehamilannya.
Apalagi kondisi mental Quinsy yang masih rapuh, ini akan makin berbahaya untuk Quinsy dan juga bayinya.
Tok..tok...
"Masuk!" Seorang wanita paruh bayar muncul dari balik pintu dengan tergopoh-gopoh.
"Permisi Tuan, ada tamu di bawah mencari Nona Quinsy." Ucap Mbo Sinah ART keluarga Karren.
"Siapa Mbo?" Tanya Nyonya Karren penasaran, sebab selama Quinsy ada di Indonesia, belum ada yang mengetahui kepulangannya selain orang-orang terdekat saja.
"Saya juga ndak kenal Nyonya, tapi kelihatannya mereka semua itu bule. badannya tinggi-tinggi semua, kulitnya juga putih, matanya biru kaya air laut." Terang Mbo Sinah dengan logat medok jawanya.
Tuan dan Nyonya Karren saling menatap sesaat, lalu mereka pun turun dan menemui tamu yang di maksud oleh ART mereka itu.
Benar apa yang di katakan oleh Mbo Sinah, tamu mereka ini sepertinya bukan berasal dari Indonesia. Bahkan Tuan Karren sampai terkejut mendapati tamu yang berkunjung ke rumahnya kali ini.
Bagaimana tidak, orang yang mengunjungi kediamannya adalah ayah dari laki-laki yang telah menghancurkan putri bungsunya. Dia bahkan juga membawa laki-laki itu bersamanya.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Tuan Karren degan nada dingin nan menusuk.
"Maaf bila kedatangan kami mungkin tidak di inginkan. Kami dapat memaklumi itu semua. Tapi mohon Tuan Karren dapat mendengarkan penjelasan kami."
__ADS_1
"Saya tidak ingin mendengar apapun dari kalian. Jadi sebelum saya kehabisan kesabaran, saya harap Tuan dan Nyonya Hemsworth dapat meninggalkan kediaman saya." Kini giliran Nyonya Karren yang berucap.
Ia benar-benar tidak ingin mendengar apapun dari keluarga yang sudah menghancurkan masa depan putrinya.
"Lia, kamu kah itu?" Tanya Nyonya Hemsworth penasaran. Ia seakan mengenali siapa wanita yang tidak menyambut kedatangan mereka.
"Lia, ini aku Dona." Jelas Nyonya Hemsworth seraya melangkah mendekat pada Nyonya Karren.
Nyonya Karren pun menatap lekat wajah wanita yang berdiri di sisinya itu. Ia memang terlihat familiar di matanya.
"Kita adalah sahabat waktu kuliah di London dulu, apakah kau sudah melupakanku?"
"Tidak, aku ingat dan tau jelas semua itu. Hanya saja, putramu telah menghancurkan semua kenangan di masa lalu kita. Jadi aku mohon, demi persahabatan yang pernah kita jalin, kalian segera meninggalkan tempat tinggalku."
"Tidak Lia, aku mohon dengarkan dulu penjelasan dari putraku. Ku mohon..." Pinta Nyonya Hemsworth seraya berlutut di hadapan Nyonya Karren.
Melihat istrinya yang merendahkan diri di hadapan orng lain membuat Tuan Hemsworth makin geram pada putranya.
"Mom..!" Ucap Glen yang tidak tega melihat sang Ibu yang meminta belas kasihan pada orang lain demi dirinya.
Walaupun Nyonya Karren amat membenci putra dari sahabatnya itu, tapi ia juga tidak tega melihat sahabatnya sampai harus berlutut seperti itu. Ia lalu memandang sang suami untuk meminta pendapat.
Tunggu Karren hanya mengangguk dan melangkah menuju sofa.
"Bangunlah Dona, kita bicarakan semua ini." Tuntun Nyonya Karren membawa sahabatnya ke sofa dan duduk di sisi sang suami.
Tuan Hemsworth dan istrinya kemudian duduk dan diikuti oleh Glen.
"Jelaskan!"
"Maaf sebelumnya. Mungkin Tuan dan Nyonya sangatlah membenci saya atas apa yang sudah saya lakukan terhadap putri kalian. Tapi itu semua di luar kendali saya."
__ADS_1
Tuan Karren tersenyum sinis mendengar penuturan dari keturunan Hemsworth itu.
"Di luar kendali? Parah maksudmu kau tidak sengaja melakukan hal itu?"
"Benar Tuan, saya waktu itu di jebak oleh rekan bisnis saya dengan memberikan obat Vardenafil pada minuman saya."
"Cih, lalu aku harus mempercayai ucapanmu begitu saja? Kalau memang benar begitu, lalu apa maksudmu dengan mengusung putriku di oalah pribadi milikmu?"
"Itu semua karena aku sangat mencintainya dan terlalu cemburu karena banyak laki-laki yang juga ingin mendapatkannya." Jelas Glen dengan tegas tanpa ada rasa malu pada nada suaranya.
"Cinta? Apakah cintamu itu membuat putriku bahagia? Tidak, kau hanyalah salah satu laki-laki yang terobsesi pada putriku. Bila memang kau mencintainya maka kau tidak akan pernah memisahkannya dari keluarga yang amat dia cintai."
"Saya pun tidak berniat untuk memisahkannya dengan keluarga. Saya bahkan berniat membawanya untuk bertemu dengan kalian dan langsung melamarnya. Tapi pria brengsek itu yangvterobsesi menghancurkan segalanya hingga saya kehilangan kendali pada diri saya sendiri." Glen terus berusaha agar kedua orang tua Quinsy mempercayai ucapannya.
"Ini adalah bukti tes darah yang saya ambil untuk di jadikan bukti. Dan ini adalah suara rekaman dari laki-laki yang sudah menjebak saya. Bila Tuan dan Nyonya Karren masih belum percaya, saya dapat meminta anak buah saya untuk pergi ke kantor polisi dan menelpon pria itu."
Tuan menatap lekat manik mata Glen dan tidak menemukan kebohongan di sana. Laki-laki berusia lima puluhan tahun lebih itu pun akhirnya mencoba untuk mempercayai ucapan keturunan keluarga Hemsworth itu.
Biar bagaimana pun juga bayi yang ada di kandungan putrinya tidak bersalah dan juga itu adalah keturunan keluarga Karren, darah daging putrinya sendiri dan pastinya akan sangat membutuhkan peran Ayah.
Ditambah lagi, Ayah dari calon Cucunya itu adalah keturunan Hemsworth yang memiliki kerajaan bisnis terbesar di dunia. Jadi mereka pasti tidak akan setuju untuk menggugurkan janin itu.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKSI DAN KARANGAN BELAKA!...
...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT DAN LAINNYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN BELAKA....
Mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan vote nya
jangan lupa jadikan favorit dan juga kasih bintang lima untuk cerita ini ya...
__ADS_1