
Pagi-pagi sekali Quinsy telah rewel memaksa untuk ikut pergi ke perusahaan bersama Glenn. Ia mengatakan, bila dirinya merasa bosan karena ditinggal sendirian di rumah yang begitu megah. Meskipun di sana sudah memiliki banyak pembantu, akan tetapi rasanya sangat berbeda ketika Glen berada di rumah dan sedang di luaran.
Sebenarnya Glen merasa ragu membawa Quinsy ke perusahaan. Bukan karena apa, tapi Glen takut ia tidak dapat menahan diri bila terus berdekatan dengan istrinya itu. Namun, Glen juga tidak dapat menolak permintaan Quinsy. Akhirnya, ia mengalah dan membawa Quinsy menuju perusahaan menggunakan mobil khusus milik Quinsy. Mobil itu didesain sedemikian rupa, agar Quinsy nyaman saat dalam perjalanan kemanapun.
Setibanya Glen dan Quinsy di perusahaan, pria tampan itu telah di sambut dengan tumpukan jadwal meeting. Jadi, mau tidak mau Glen meninggalkan Quinsy di ruangan istirahat yang terdapat dalam kantornya. Ruangan itu memang sudah tersedia sejak dulu. Sebab, Glen adalah tipe orang yang gila dalam bekerja. Tak jarang ia akan menginap di perusahaan karena baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat sudah tengah malam atau bahkan dini hari.
Setelah berjam-jam lamanya Quinsy menunggu Glen, rasa jenuh mulai menghinggapi hati gadis jelita itu. Tersirat sebuah ide jahil dalam benak Quinsy. Ia bangkit dari atas ranjang dan menuju ke sebuah lemari. Di sana, telah berjejer rapi beberapa pakaian miliknya dan juga milik Glen. Quinsy lalu mengambil kemeja milik suaminya yang langsung ia kenakan. Setelah itu, Quinsy pun menghubungi Glen yang ia tau kini tengah sibuk dengan para kliennya dari luar negri.
Tapi, sesibuk apapun Glen, ia akan tetap menomor satukan istrinya. Tanpa menunggu waktu lama, setelah melihat nama Quinsy di atas layar ponselnya, Glen langsung menjawab panggilan Vidio itu. Semula tidak ada yang ganjil dalam panggilan yang Quinsy lakukan. Hingga, saat proses meeting tengah mencapai tahap penting, Quinsy memulai kenakalannya. Quinsy menjauhkan layar ponselnya, hingga menampakkan seluruh tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja milik Glen dengan beberapa kancing bagian atas yang sengaja ia biarkan terbuka.
Sebagai pria normal, bagaimana mungkin Glen tidak tergoda. Apalagi wanita itu adalah istrinya sendiri. Konsentrasi Glen makin buyar, saat dengan nakalnya Quinsy memainkan rambutnya dan bersikap genit.
'Argh...! Sayang, kau sangat nakal. Tunggu aku sebentar, aku akan memberikan hukuman atas kenakalanmu kali ini.' Batin Glen sembari bangkit meninggalkan ruang meeting.
__ADS_1
Puas melihat wajah penuh gairah milik suaminya, Quinsy pun tertawa lepas. Gadis jelita itu pun ingin segera mengganti pakaiannya sebelum Glen tiba. Tapi sayang, niatnya yang hanya ingin menggoda Glen justru membuat dirinya sendiri berada dalam masalah. Tanpa sempat mengenakan kembali pakaiannya, Glen sudah lebih dulu tiba. Pemandangan indah yang Quincy suguhkan sungguh menggugah selera k3j4nt4nan Glen.
"Ah..!" Erang Quinsy ketika merasakan sebuah tangan meremas buah d*d* miliknya dari belakang. "Kau gadis kecil nakal. Aku ingin tau, hukuman apa yang cocok untuk kenalakan mu kali ini?" Bisik Glen dengan suara yang terdengar parau akibat menahan hasrat.
"A..aku tidak mengerti yang kau ucapkan. Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku hanya merasa bosan lalu menghubungimu." Kilah Quincy. Ia tau, bila Glen pasti tidak akan melepaskannya kali ini.
"Benarkah? Lalu, apakah kau tau resiko karena menghubungiku ketika aku sedang meeting. Karena kenakalanmu, aku harus melepaskan kerjasama dengan perusahaan DWR. Jadi, kau harus membayar ganti rugi untuk itu padaku, Nyonya Hemsworth."
Tanpa dapat menolak lagi, Glen langsung melahap b1b1r ranum Quinsy. K3cup4n, lum4t4n, dan d3c4p4n terdengar keluar dari adu mulut keduanya. Satu per satu pakaian Glen telah berjatuhan ke lantai. Dengan sekali angkat, ia membawa tubuh Quinsy menuju atas ranjang dan memulai pergulatan panas mereka.
Setengah jam berlalu dengan penuh gairah, akhirnya kedua pasangan itu telah mencapai puncak k3nikm4t4n bersama. Dengan tubuh penuh peluh, Glen bangkit dan pergi menuju kamar mandi. Sementara Quinsy, ibu hamil itu harus mengisi tenaganya dulu di atas ranjang besar mereka.
Usai mengenakan kembali pakaian baru dari dalam lemari, Glen mendekat ke arah istrinya yang sudah tertidur pulas. Dengan memberikan kecupan lembut di atas kening Quinsy, Glen pergi meninggalkan ruang istirahat dan kembali bekerja dengan penuh semangat.
__ADS_1
Tok...tok...
Setelah suara ketukan di pintu, munculah Leon Dengan membawa berkas di tangannya.
"Permisi Tuan, ini adalah dokumen perjanjian kita dengan perusahaan DWR yang menunggu tanda tangan dari Anda." Leon menyerahkan dokumen itu pada Glen dan melanjutkan kembali ucapannya.
"Bagaimana dengan proyek kita di kota T, Tuan? Apakah kita masih harus melanjutkannya?"
"Ya. Siapkan persipan untukku dan istriku, sore ini kita akan berangkat ke sana."
"Baik, Tuan."
BERSAMBUNG....
__ADS_1