TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
TUMBAL PROYEK


__ADS_3

Siang ini jalanan kota New York begitu padat, kemacetan terjadi di mana-mana. Taksi yang Quinsy naiki tak luput dari kemacetan, beruntung mereka sudah tidak terlalu jauh dari taman. Jadi, Quinsy membayar ongkos taksi dan berlari menuju taman itu. Sesampainya di sana, ia melihat Jessy bersama seorang perawat yang bertugas menjaga Zello.


"Di mana Zello?"


"Maaf, Nyonya. Saya bersalah. Saya lalai dalam menjaga Tuan kecil."


Quinsy memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, Jessy menepuk pundak Quinsy dan memberi semangat.


"Ini juga salahku dan Morgan. Kami yang membawa mereka kemari. Semestinya kami juga ikut mengawasi, tetapi kami justru-"


"Sudahlah. Kita sekarang harus segera menemukan Zello, dimana Zella?"


"Dia bersama dengan baby sitternya, aku sudah memintanya untuk membawa Zella kembali lebih dulu."


"Baguslah, sekarang kita hanya harus berfokus mencari Zello."


Jessy mengangguk, mereka lalu melanjutkan pencarian. Quinsy berlari berkeliling taman dan meneriakan nama putranya. Hingga ia bertemu dengan sang Kakak, dengan nafas tersengal ia kembali menanyakan pertanyaan yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama pula. Tanpa putus asa, Quinsy kembali berlarian dan memanggil nama Zello.


Baby sitter yang bertugas menjaga Zello juga terus berusaha, ia bertanya pada orang-orang yang datang ke taman itu. Meski ia selalu mendapati gelengan, suster itu tidak menyerah. Hingga tanpa sengaja ia menabrak seorang yang baru saja keluar dari tempat kontruksi.


"Maaf, apakah kau melihat bayi ini?" Ucap suster itu menunjukkan foto Zello. Ia mencoba kembali bertanya, dan untungnya kali ini ia mendapat jawaban yang menggembirakan.

__ADS_1


"Wah, ini bayi yang berada di dalam sana."


"Sungguh?"


"Ya. Aku melihatnya barusan. Dia sedang menjadi tontonan sebab tidak ada yang tau siapa orang tuanya. Itu mereka sedang melihatnya." Tunjuk pria itu pada sekerumunan para pekerja lain.


Baby sitter itu kemudian berlari menuju kerumunan itu, ia melihat baby Zello berada dalam gendongan seorang pria tampan yang akan membawanya pergi. Dengan nafas terengah, ia menghentikan pria itu.


"Tunggu...! Dia adalah Putra dari majikanku. Kami kehilangan dia beberapa saat yang lalu. Bisakah kau kembalikan dia padaku?"


Glen menatap tak percaya pada ucapan wanita di hadapannya. Jadi, untuk memastikan kebenaran dari ucapan wanita itu, Glen meminta orang tua bayi dalam gendongannya untuk datang langsung. Akhirnya suster itu menghubungi Quinsy dan memintanya untuk segera datang.


"Permisi, saya adalah ibu dari bayi barusan. Bisakah saya menjemputnya?"


Mandor yang berjaga melihat ke arah Quinsy dengan tatapan curiga. Ia tak percaya bila gadis cantik dihadapannya adalah ibu balita tadi. Tetapi, melihat raut cemas Quinsy, ia tetap membawanya menuju ruangan Glen.


Morgan yang juga datang bersama Quinsy menunggu di depan pintu. Ia yang merasa lega membiarkan Quinsy sendiri masuk dan mengambil putranya. Tapi, Ia mendapati raut sedih sang adik setelah dari ruangan itu. Tak lama, pria yang selama ini tidak ingin mereka temui berada tepat dihadapannya. Tanpa terasa, sebuah pukulan keras ia layangkan ke arah pria itu.


FLAS BACK OFF...


"Di mana Nyonya Quinsy saat ini?"

__ADS_1


"Entah. Aku tadi melihatnya pergi dengan terburu-buru dan tidak mengatakan apapun."


"Aneh, tidak biasanya ia seperti ini. Baiklah, setelah selesai dengan semua pekerjaan kalian, segeralah pulang. Kita harus menghemat energi hingga hari H nanti."


Para pegawai Quinsy sepenuh hati menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Dan setelah memastikan semuanya beres, merekapun meninggalkan gedung itu. Tetapi mereka tidak mengetahui, bila ada seseorang yang masih berada di sana. Orang itu membawa sebuah gunting dan merusak gaun-gaun yang akan dipamerkan besok lusa.


Wajahnya tersenyum puas setelah selesai melancarkan aksinya. Dengan satai, orang itu meninggalkan gedung sembari bersiul.


"Aku yakin, kau akan gugur sebelum tampil. Jangan silahkan aku yang kejam, salahkan dirimu sendiri yang terlalu berbakat. Hahaha...!"


Tanpa ada rasa bersalah, orang itu melajukan mobilnya dan meninggalkan gedung. Bahkan, ia juga menikmati keberhasilannya dengan menyewa beberapa gadis untuk menemaninya minum.


"Setelah kemenangan berada di tanganku, kalian pasti akan ku bawa berlibur. Apapun yang kailan inginkan, akan aku berikan."


"Benarkah itu? Apakah kau akan memberikan untukku berlian besar?" Ucap gadis penghibur yang disewanya dengan nada manja juga menggoda.


"Tentu. Dan kalian pasti akan mendapatkan masing-masing."


"Kau memang yang terbaik, Tuan Henry."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2