TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
MENCICIPI


__ADS_3

Tepat pukul 01.00 dini hari, Quinsy terbangun dari tidurnya. Seperti biasa, gadis jelita itu akan mencari cemilan malam. Ia melihat kesisi ranjangnya yang kosong. Quinsy bertanya-tanya dalam hati, dimanakah keberadaan suaminya saat ini. Hingga kakinya melangkah menuju luar bilik kamarnya dan melihat Glen yang sedang duduk sembari menikmati sebatang rokok di tangannya.


"Kau lapar? Aku akan meminta para Pramugari untuk menyiapkan sesuatu." Ucap Glen ketika melihat Quinsy berjalan ke arahnya. Ia tau, ini memang sudah jam Quinsy bangun dan mencari cemilan malam. Untungnya, segala macam bahan telah dipersiapkan oleh mertuanya. Bahkan mereka juga telah mengikut sertakan seorang Koki ternama, khusus untuk membuat masakan yang diinginkan Quinsy.


"Ya, aku ingin spageti manis. Tapi,-"


"Ada apa?"


"Em, bisakah kau yang membuatkannya untukku?" Pinta Quinsy dengan nada pelan. Ia teringat ketika dulu bekerja menjadi asisten Glen, dan pria itu membuatkan sepiring makanan untuknya. Quinsy merasa merindukan makanan yang dibuat oleh suaminya itu.


Glen tersenyum lebar mendengar permintaan istrinya. Selama masa kehamilan Quinsy, baru kali ini gadis itu meminta sesuatu makanan yang wajar. Biasanya Quinsy akan menyebutkan nama-nama makanan yang terdengar aneh. Dan tak jarang juga terasa aneh di lidah Glen ketika Quinsy memaksa agar ia ikut mencicipi makanan itu.


"Tentu, dengan satu sarat." Ucap Glen dengan wajah serius.


"Apa?"


"Kau harus menemaniku untuk membuatnya."


Melihat raut serius suaminya, Quinsy pikir Glen akan mengajukan syarat yang berat. Ternyata ia hanya meminta Quinsy untuk menemaninya selama berada di dapur. Tak butuh waktu lama bagi Quinsy untuk menyetujui persyaratan dari Glen. Gadis itu langsung mengangguk dan mengikuti langkah Glen menuju dapur.


Semua bahan makanan telah tersedia di dapur pesawat. Dengan lincah tangan Glen mulai meracik semua bumbu dan memasukannya ke dalam penggorengan. Mata Quinsy tak berkedip memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Glen. Lagi-lagi ia terpesona oleh ketampanan yang dimiliki Glen. Alis, mata, hidung, bibir, seta rahang tegas yang pria itu miliki, benar-benar tersusun sempurna. Bahkan terbayang kilasan-kilasan manis kala bibir itu tengah m3ncumbu1 dirinya. Membuat pipi putih Quinsy merona seketika. Hingga tanpa Quinsy sadari, bila spageti yang ia minta telah tersaji dihadapannya.

__ADS_1


"Cobalah!"


Ucapan Glen menyadarkan Quinsy dari lamunannya. Dengan tergagap Quinsy meraih sesuap spageti dan memasukannya ke dalam mulut.


"Bagaimana?"


"Em, ini enak. Rasanya tak berubah, masih sama seperti dulu."


"Benarkah? Aku ingin mencicipinya juga."


Glen mendekatkan wajahnya pada Quinsy, dan menujulurkan lidah ke sudut bibir istrinya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Quinsy dengan memegangi ujung bibirnya yang masih basah akibat lidah Glen. "Mencicipi." Jawab Glen dengan santai.


"Hal konyol apa yang kau ucapkan?" Quinsy kembali bertanya dengan wajah tersipu manis. Ingin rasanya Glen menerkam Quinsy saat itu juga, tapi ia sadar kondisi Quinsy saat ini belum memungkinkan untuk mereka melakukan hubungan badan. Glen hanya dapat mengurungkan niatnya dan kembali bersabar. Toh istrinya itu telah rela memberikan dirinya kemarin malam. Jadi, ia hanya harus menunggu beberapa hari lagi saja, agar kondisi Quinsy lebih baik dan mereka bisa kembali mengarungi badai asmara bersama.


šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®šŸ’®


Sementara Quinsy dan Glen yang tengah memupuk kebersamaan mereka di dalam pesawat, Miguel dan Maya malah sedang sibuk menenangkan putri kecilnya mereka yang kembali rewel. Balita yang memang sedang memasuki masa tumbuh kembangnya itu, telah seharian menyita waktu kedua orang tuanya.


"Cup...cup..cup..., sayang. Udah dong, jangan nangis terus, Mamah kan juga ga ngerti harus gimana lagi. Minum obat, udah. Mimik susu, juga udah. Kamu nangisin apalagi sih, sayang?"

__ADS_1


"Sini ikut Papah ya..? Anak Papah mau bobo sama Papah ya?" Tanya Miguel dan mengambil alih putrinya dari tangan Maya.


"Ah, pundakku pegel banget, seharian Laura bener-bener rewel." Keluh Maya setelah Miguel mengambil putri mereka dari dekapannya.


"Apa kata Dokter? Semuanya baik-baik aja. Mungkin dia cuman cari perhatian kita. Kan selama ini, kita selalu sibuk sama pekerjaan, jadi jarang bisa nemenin dia main."


Miguel setuju akan ucapan istrinya, ia pun menyadari dengan kesibukan kesibukan yang setiap hari mereka lalui, pasti akan membuat Laura kekurangan perhatian. Apa lagi putri mereka kini telah banyak mengerti dan juga sudah mulai aktif. Jadi dia pasti memerlukan banyak perhatian dari mereka selaku orang tuanya.


"Gimana kalau minggu depan kita cuti? Kita jalan-jalan ke puncak. Kebetulan kan kita udah lama ga kesana?" Tawar Miguel mengajak istrinya berlibur.


"Aku belum bisa, minggu depan ada perasaan busana di kota J. Makanya akhir-akhir ini aku sibuk banget, soalnya waktunya udah mepet banget sih." Sesal Maya. Ia juga setuju akan tawaran dari sang suami. Tapi apa boleh buat, profesinya sebagai seorang desainer ternama menuntut dirinya untuk menjadi profesional. Maya hanya dapat menyisihkan sedikit waktunya dalam mengurus Laura dan menjadi seorang istri untuk Miguel. Unthngnya, suaminya itu adalah seorang yang pengertian. Miguel, memahami betul bagaimana kesibukan Maya dalam menjalani setiap rutinitas kesehariannya yang sebagai seorang desainer, sekaligus ibu rumah tangga.


BERSAMBUNG....


...CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA!!!...


...BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, TEMPAT, KARAKTER DAN SEBAGAINYA, ITU HANYALAH KETIDAK SENGAJAAN AUTHOR....


^^^mohon dukungan kalian dengan memberikan like, komen dan juga^^^


^^^votenya ya...^^^

__ADS_1


^^^Dukungan kalian sangat berarti bagi Author, dan untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan karyaku, aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian...^^^


Iā™”U READER'S...šŸ˜™šŸ˜™.


__ADS_2