
"Kamu sangat senang atas keputusan yang kau ambil ini, Quinsy. Tapi apakah kau yakin dengan resikonya? Kau akan-," Pertanyaan Emy tergantung. Ia tahu untuk mengucapkan nama Glen takut kalau-kalau sahabatnya itu akan kembali trauma.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku tau segala resiko yang akan terjadi. Dan aku juga telah siap dengan semuanya."
"Baiklah. Kau pun tidak seorang diri. Kau masih memiliki kami. Aku tidak akan membiarkan pria si4l4n itu untuk mengganggu kau dan kedua keponakanku."
"Ya, kali ini akan kupastikan dia menyesal karena telah mengecewakanmu." Sambung Jessy setelah ucapan Sonya.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Arnold, adalah salah satu pria yang merasa bahagia melihat kembalinya Quinsy diantara banyaknya pria yang menambahkannya. Ia merasa masih memiliki kesempatan untuk dapat memiliki bunga kampus nan cantik jelita itu. Dengan penuh semangat, Arnold datang pagi-pagi sekali untuk menghadiri pertemuan kali ini. Dirinya laksana kumbang liar yang telah lama mencari keberadaan bunga mawar.
"Selamat datang kembali Quinsy. Saya senang akhirnya kau dapat melanjutkan lagi kuliahmu yang sempat tertunda. Bagaimana dengan bagimu?" Arnold meminta Quinsy untuk datang ke ruangannya. Ia berniat untuk memberikan tugas tambahan, mengingat gadis itu telah lama tidak mengikuti mata kuliahnya.
"Terimakasih atas perhatian dari Mr. Arnold. Mereka baik-baik saja."
"Jadi, apakah kau ingin langsung memulai mata kuliah tambahan bersamaku?"
__ADS_1
"Tentu, tapi saya harap Anda dapat datang di kediaman keluarga saya. Karena seperti yang Anda tau, saya kini telah menjadi seorang ibu dari dua bayi kembar."
"Bukan masalah. Kau kirimkan saja alamat rumahmu ke ponselku."
Dibalik pintu ruangan Arnold, ada seorang tandus manis yang tengah mendengarkan pembicaraan mereka. Bukan maksud dari gadis itu untuk menguping. Ia tidak sengaja datang ke sana sebab harus membicarakan sesuatu dengan pria di dalam sana.
Percakapan kedua orang di dalam ruangan itu membuat hatinya sedikit tersulut api cemburu. Tetapi ia berusaha untuk tidak terus menerus berpikiran buruk. Biar bagaimanapun, Quinsy adalah sahabat baiknya. Ia yakin, Quinsy tidak akan menyakiti hatinya dan merebut Arnold dari tangannya.
Ya, gadis yang berdiri di depan pintu adalah Emy, tunangan dari Arnold. Quinsy memang belum tau tentang hubungan mereka yang sudah resmi. Dan Eny pun tau, bagaimana perasaan tunangannya itu pada sahabatnya. Yang Emy khawatirkan sebenarnya bukanlah tentang perasaan Quinsy, melainkan perasaan Arnold yang bisa saja semakin bertunas. Bahkan kemungkinan besar, Tidak akan ada tempat untuknya di hati Arnold.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
"Maaf atas permintaan Nenekku yang kekanak-kanakan."
"Tak apa, aku tau dia sangat menyayangimu. Kau beruntung memiliki Nyonya Parhses sebagai Nenekmu. Aku sedikit iri,"
"Ya, Nenek adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini. Bagiku, dia adalah orang yang terpenting dalam hidupku. Itulah mengapa, aku selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya meski terkadang itu aneh-aneh." Keduanya tertawa setelah Billy berkata demikian.
__ADS_1
Nyonya Parhses meminta Billy dan Sonya untuk menemuinya di sebuah butik ternama. Ketika dia remaja itu masuk ke dalam butik, mereka disambut oleh para pelayan yang langsung membawa mereka menuju tempat Nyonya Parhses berada. wanita paruh baya itu nampak tengah asik memilih baju-baju di sana.
"Hai, Nek." Sonya mendekat dengan senyum manis di wajahnya.
"Oh, sayangku, kalian akhirnya tiba. Kejarlah, aku ingin menunjukkan sesuatu untuk kalian berdua."
Billy dan Sonya saling pandang sesaat sebelum mengikuti langkah Nyonya Parhses. Mereka tiba di meja yang dekat dengan jendela lebar. Dari sudut itu, mereka dapat melihat pemandangan indah kota New York. Nyonya Parhses menggandeng lengan Sonya untuk duduk di sisinya.
"Kalian tau mengapa Nenek membawa kalian untuk datang ke tempat ini?" Sonya dan Billy yang memang belum tau alasan mengapa Nyonya Parhses mengajak kemari pun menggeleng bersamaan.
"Kalian lihatlah ini." Nyonya Parhses menyodorkan sebuah hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Hasil tersebut menunjukkan bila dirinya sedang mengalami penyakit yang cukup kronis. Ekspresi terkejut dari Sonya dan Billy tak dapat mereka sembunyikan. Bagaimana tidak, selama ini Nyonya Parhses terlihat baik-baik saja. Meskipun usianya sudah tak muda lagi, tapi Nyonya Parhses tidak pernah mengeluh sakit apapun pada Billy ataupun orang lain.
"Seperti yang kalian lihat. Usiaku sudah tidak muda lagi. Ditambah sebuah penyakit yang terus menggerogoti kesehatanku. Aku mungkin tidak akan bisa lama lagi berada di dunia ini." Ucapan parah dari Nyonya Parhses membuat Sonya dan Billy menjadi sedih. Billy menggenggam tangan keriput sang Nenek.
"Tapi, Nek. Bukankah selama ini kau baik-baik saja? Bagaimana mungkin kau bisa sakit separah ini?"
"Benar. Bahkan sakit yang Nenek alami ini, tidak dapat menjadi alasan Nenek berkata demikian. Nenek adalah orang yang kuat. Nenek pasti bisa sembuh, kami akan selalu mendukung Nenek." Sambung Sonya. Gadis muda itu ikut merasakan perasaan tidak rela ketika Nyonya Parhses mengucapkan keputusasaan dari bibirnya. Keakraban yang mereka jalin beberapa waktu ini, tentu membuat perasaan Sonya menghangat kala dekat dengan wanita tua di hadapannya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG…