TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
QUINSY YANG MENGHILANG.


__ADS_3

Glen mencumbui setiap inci dari tubuh gadis cantik itu, mulai dari leher dada hingga bagian paha pun tidak ia lewatkan. GLEN meninggalkan banyak bercak merah pada tubuh putih Quinsy.


Ia memang sengaja melakukannya agar gadis yang bersamanya saat ini bisa ia miliki seutuhnya. Quinsy menggeleng, tubuhnya bergetar hebat.


Quinsy saat ini benar-benar ketakutan. Ingin lari pun sudah tidak mungkin lagi, ia tidak tahu siapa yang dapat menolongnya saat ini. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanyalah menangis dan berharap agar Glen tidak melakukan hal yang jauh lebih gilang dari ini.


Mata Glen telah tertutup kabut cemburu, hingga ia tak perduli lagi akan tangis dan rengekan Quinsy yang memintanya untuk berhenti. Glen justru makin menggencarkan aksinya, ia juga merobek gaun yang di kenakan oleh Quinsy hingga tidak berbentuk lagi saat ini.


Gadis muda itu berteriak dan meronta sekuat tenaga, ia mencoba melawan kukungan tubuh kekar milik Glen dari atas tubuhnya. Melihat hal itu, Glen makin geram, ia makin melancarkan aksinya dengan melepaskan dua benda yang masih menempel pada tubuh molek Quinsy.


"Glen, plis stop! Aku mohon jangan lakukan ini..." Pinta Quinsy dengan sangat memelas. Wajah dan penampilannya sudah tidak berbentuk lagi saat ini.


Quinsy makin ketakutan saat Glen melepaskan segitiga pengaman mahkota kebanggaannya. Mata Glen semakin buta akibat rasa cemburu dan hasrat yang sudah melebur menjadi satu.


Rintihan, tangisan dan teriakan rasa sakit Quinsy seakan angin lalu di telinga Glen. Tubuhnya benar-benar lemas, akibat derai air mata yang tak berkesudahan membuat Quinsy kehilangan kesadarannya.


Gadis malang itu telah terkulai tak berdaya di bawah kukungan tubuh Glen yang sudah siap melontarkan rudalnya ke dalam sumur surgawi milik Quinsy.


Namun saat dia sudah siap untuk melakukan pertempuran, Glen menunduk dan melihat wajah Quinsy yang sudah pucat pasi. Ia pun tersadar akan apa yang sudah di lakukannya, kemudian bangkit dan menyelimuti tubuh Quinsy.


"Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kau resmi menjadi milikku."


Glen bangkit, lalu menuju kamar mandi. Di sana, ia melepaskan hasratnya dengan mandi air yang dingin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai acara fashion show di universitas mereka telah berakhir. Quinsy dan Jessy beserta teman-temannya yang lain telah membawa kebanggaan untuk universitas tempat mereka berkuliah.


Sudah beberapa hari sahabat mereka Quinsy menghilang tanpa kabar. Bahkan Morgan, Kakak ke dua Quinsy sendiri pun tidak mrngetahui di mana keberadaan sang Adik saat ini.


Ia telah mencarinya ke berbagai tempat, Morgan juga bahkan mendatangi kediaman Hemsworth untuk mencari sang Adik. Namun sayang, semuanya nihil, Morgan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Quinsy di sana.

__ADS_1


Morgan bahkan menghubungi Kakaknya yang ada di Indonesia. Kalau-kalau Quinsy telah kembali ke tanah air tanpa memberitahukan padanya terlebih dahulu.


Hal itu tentu saja membuat Miguel dan istrinya kebingungan. Pasalnya sang Adik bungsu tidak berada di Indonesia saat ini. Miguel pun memutuskan untuk terbang ke New York saat itu juga untuk ikut mencari keberadaan Quinsy.


Setibanya di New York, Miguel mendatangi kantor Morgan dan menanyai kronologi menghalanginya Quinsy.


"Aku juga tidak tau persis, tapi teman-temannya bilang setelah acara fashion show berakhir keturunan Hemsworth membawa Quinsy pergi dengan terburu-buru."


"Trus kamu udah cari ke tempat keluarga Hemsworth?"


"Udah, tapi di sana benar-benar clear. Gak ada tanda-tanda Quinsy pernah ada di tempat itu. Aku juga udah nyuruh anak buahku buat terus mengikuti pergerakan si brengs*k itu kemana pun dia pergi selama ini. Tapi hasilnya tetap aja nihil."


Miguel meremas rambutnya frustasi, ia tidak tahu harus berkata apa pada orang tuanya bila sampai mereka tahu berita mengenai Quinsy yang menghilang.


"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Kalau kita terus diam begini, Quinsy tidak akan segera di temukan."


"Aku juga tau, tapi untuk sementara ini kita hanya bisa menunggu kabar dari mana-mana yang ku sewa. Kalau kita bertindak sembarangan kitalah yang akan dirugikan dalam hal ini. Kau tau keluarga Hemsworth bukanlah keluarga yang busa di singgung oleh sembarang orang."


Bila mereka menyinggung keluarga itu saat ini, bukan hanya perusahaan mereka yang ada di New York sajalah yang akan di hancurkan oleh keluarga itu, melainkan juga yang ada di beberapa negara lain.


Sementara Emy, Sonya San Jessy berkumpul di Cafe milik Sonya seperti biasanya.


"Hei, kira-kira kemana Tuan Hemsworth itu akan membawa sahabat kita? Dari wajahnya tadi, aku rasa Quinsy akan berada dalam masalah besar." Tanya Jessy hawatir.


Ialah yang berada paling dekat dengan Quinsy saat itu, jadi sudah pasti Jessy dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah Glen yang nampak tidak bersahabat saat membawa Quinsy dari ruang lomba.


"Entahlah, aku harap dia baik-baik saja." Ucap Emy yang juga melihat langsung ekspresi wajah Glen saat membawa sahabatnya.


Suasana di antara ketiga gadis cantik itu sangat berbeda dari biasanya saat ini. Wajah-wajah yang selalu ceria, kini nampak begitu khawatir dan sedih. Bahkan makanan manis yang tersaji di hadapan ketiganya tak tersentuh sedikit pun.


Tiba-tiba Jessy mendapatkan telpon dari pihak Manjernya untuk segera menghadiri pemotretan di sebuah gedung baru.

__ADS_1


Mau tidak mau, Jessy harus pergi ke sana walau dengan pikiran yang masih tidak tenang karena khawatir pada keadaan Quinsy saat ini.


Pemotretan akhirnya selesai, Jessy kembali ke ruang make up dan ingin mengganti gaun yang dua kenakan dengan pakaian sehari-hari miliknya.


Namun, Manajer tempat itu menghampirinya dan bertanya tentang Quinsy. Rupanya sang Manajer juga ingin Quinsy menjadi wajah dari perusahaan mereka.


"Maaf Tuan, tapi Quinsy saat ini sedang tidak bisa di hubungi. Mungkin dia masih memiliki urusan dengan keluarganya."


"Ah, sayang sekali. Padahal kami sangat berminat agar gadis itu menjadi ambassador perusahaan ini."


"Nanti akan saya sampaikan padanya agar menghubungi Tuan bila ia telah menyelesaikan masalah dengan keluarganya."


"Baiklah, terimakasih Jessy."


Jessy tersenyum dan mengangguk pada sang Manajer yang berlalu meninggalkannya.


Jessy duduk di kursi dan menghadap ke arah cermin rias ruangan itu. Ia menengadahkan kepala seraya menatap kosong langit-langit ruangan tersebut.


'Quinsy dapatkah kau menghubungi kami? Apakah kau baik-baik saja sekarang?' Tanya Jessy dalam hati.


BERSAMBUNG...


☆☆Ok gais ini karya ku yang lainnya..😄


sory banget ya kalau namanya kaya ga kreatif atau ceritanya kurang menarik😔


tapi aku usahakan akan menyajikan alur yang menantang di kemudian hari...😉


Jangan lupa dukung karya aku dengan memberikan like ya...🙇


I LOVE YOU ALL READERS😘😘

__ADS_1


__ADS_2