TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
DADDY...?


__ADS_3

Di sebuah taman yang begitu indah, Morgan, Jessy dan baby sitter membawa dua bayi kembar yang menyita banyak perhatian dari pengunjung lain. Wajah imut dari kedua bayi itu menjadi pusat perhatian. Belum lagi tingkah riang dari keduanya yang nampak begitu menggemaskan, membuat para pengunjung lain menjadi iri, ingin memiliki bayi kembar seperti Zella dan Zello.


"Mereka terlihat sangat bahagia,"


"Ini kali pertama mereka keluar dari lingkungan tempat tinggal kami. Kesibukan yang ibu mereka jalani membuatnya tidak dapat membawa duo twins itu bersenang-senang meski hanya ke tempat seperti ini." Jelas Morgan pada kekasihnya.


"Bayi yang malang. Mereka tidak harus menjalani kehidupan yang tersembunyi andai saja Ayah mereka bukanlah pria br3ngs3k itu."


"Tuan, Baby Zello menghilang. Kami sudah mencarinya di manapun."


Morgan dan Jessy melotot ke arah sang baby sitter yang bertugas menjaga Zello. Keluarga Karren sengaja menyewa dua baby sitter untuk menjaga Azella dan Azello, melihat dari betapa aktifnya dua bayi itu saat ini.


"Kau bagaimana menjalankan tugasmu? Bagaimana mungkin bayi sekecil itu bisa menghilang begitu saja?" Jessy dengan panik berlari mencari keberadaan Zello. Begitu juga dengan Morgan yang sudah lebih dulu pergi, tanpa mengucapkan kata apapun. Sedangkan sang baby sitter tadi, hanya bisa meminta maaf dan kembali mencari keberadaan Tuan kecilnya.


"Zello..! Zello..! Datanglah pada Om, sayang..! Zello..!"

__ADS_1


Morgan yang panik, mencoba menghubungi Quinsy untuk memberitahukan menghilangnya Azello. Ia yang sudah tak dapat berpikir panjang hanya bisa meminta bantuan pada Quinsy. Berharap dengan datangnya adiknya itu, dapat menemukan keberadaan Azello.


"Kakak..!" Quinsy tiba dengan nafas yang terengah-engah. Wajah cantiknya basah oleh keringat yang mengucur deras, setelah berlarian ke seluruh taman. Ia yang mendengar kabar menghilangnya Azello tanpa berpikir panjang langsung bergegas datang.


"Maaf, aku ga bisa jagain Zello."


"Sekarang bukan saatnya buat saling menyalahkan. Mendingan kita terus cari dia. Aku yakin Zello ga mungkin jauh dari sini."


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


"Ada apa ini?"


"Ada bayi Tuan. Kelihatannya bayi ini terpisah dari orang tuanya." Jelas para pegawai sambil menunjukkan bayi itu pada Glen. Bayi mungil itu memiliki warna mata yang sama dengannya. Tapi Glen tidak banyak berpikir, ia hanya merasa bila itu hanyalah kebetulan. Sebab ada banyak orang lain yang memiliki netra sama dengan dirinya.


"Orang tua bodoh mana yang membiarkan bayinya berkeliaran sembarangan. Cepat urus bayi ini. Aku tidak mau pekerjaan kita tertunda hanya karena seorang balita." Glen berpaling dan ingin pergi sebelum kata ajaib keluar dari mulut mungil.

__ADS_1


"Daddy...?" Orang-orang di sana saling tercengang mendengar panggilan itu pada atasan mereka.


Langkah Glen terhenti, seketika ia teringat akan bayi yang berada dalam kandungan Quinsy. Mungkin saat ini, buah hati mereka juga akan sebesar bayi ini. Dengan tatapan kosong Glen melihat kembali balita itu.


"Daddy, Daddy, Daddy...!" Balita itu terus mengoceh dan memanggilnya dengan sebutan ayah. Hati Glen, seakan tergerak dan ingin meraih jemari mungil di hadapannya.


Tatapan semua orang tertuju pada dua pria berbeda usia yang seperti tengah saling mengenali satu sama lain. Balita itu melangkah mendekat ke arah Glen sembari mengangkat kedua tangannya dengan memamerkan dua giginya yang baru saja tumbuh. Dan tanpa sadar, Glen membawa balita itu ke dalam gendongannya. Seakan merasa aman, balita itu langsung memeluk leher Glen dan mencium pipi tirusnya.


"Kau memanggilku apa?" Glen ingin kembali mendengar ucapan dari mulut mungil balita digendongannya.


"Maaf Tuan, bayi ini sepertinya baru saja belajar bicara. Jadi dia tidak tau apa maksud dari ucapannya." Mandor di pembangunan itu segera memberikan penjelasan. Ia takut, Glen akan merasa tidak nyaman atasa racauan balita dalam gendongannya itu. Namun Glen sama sekali tidak merespon ucapan dari mandor itu. Ia masih menantikan kata yang akan keluar dari balita itu.


"Daddy..? Daddy...!" Lagi-lagi kata itu mampu membuat hati Glen bergetar. Ia memeluk balita itu dan ingin membawanya pergi.


"Tunggu...!" Seorang wanita berseragam suster berlari ke arah mereka. Dengan nafas terengah, ia menjelaskan perihal bayi dalam gendongan Glen saat ini. Tapi Glen masih belum yakin akan cerita wanita itu, jadi dia memintanya untuk memanggil orang tua dari sang bayi agar datang dan menemuinya. Akhirnya, baby sitter itu menghubungi Quinsy, dan memintanya untuk datang agar Glen bisa mempercayai ucapannya dan menyerahkan baby Zello.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2