TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
LUKA LAMA


__ADS_3

Tanpa terasa usia janin Quinsy kini telah menginjak usia enam bulan. Gadis cantik itu, kini telah tumbuh menjadi wanita yang elegan. Dengan perut besarnya, Quinsy berjalan-jalan di taman sendirian. Glen akhir-akhir ini sangat sibuk, ia harus bolak-balik Jakarta, New York untuk mengurus bisnis keluarga mereka. Tak jarang pria itu akan pulang di larut malam, bila telah menyelesaikan pekerjaannya di negara itu. Quinsy juga dapat melihat gurat kepenatan yang dirasakan oleh suaminya itu.


Ya, karena selama mereka telah menikah, sedikit banyak Quinsy telah terbiasa dengan kehadiran Glen. Jadi ia dapat melihat bagaimana pria itu yang tetap berusaha menemaninya walau sangat lelah. Hal itu tentu saja membuat Quinsy menjadi kasihan pada Glen. Akhirnya Quinsy mengambil keputusan untuk ikut kembali ke New York. Dan kebetulan malam ini Glen akan sampai di bandara internasional So3k4rno H4**4. Quinsy akan memberitahukan keinginannya itu pada Glen malam ini.


"Nona, Tuan meminta kita cepat pulang. Ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Nona." Ucap supir keluarga Karren dengan nafas tersengal akibat berlari dari perkiraan menuju tempat Quinsy berada saat ini.


Quinsy bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti sang supir menuju mobil mereka berada. Butuh waktu sekitar empat puluhan menit agar mereka dapat sampai di kediaman keluarga Karren. Dalam perjalanan itu, Quinsy melihat sebuah toko kue yang baru saja buka. Di sana, sudah ada Moi, adik dari almarhum kekasihnya Marvin Jafier. Quinsy meminta supirnya untuk berhenti sebentar, ia ingin menyapa gadis itu dulu.


Toko yang menjual beraneka ragam kue itu, ternyata milik keluarga Jafier. Quinsy melihat nama toko itu yang bertuliskan Q Jafier. Ia memasuki toko tersebut dan mendekat pada gadis remaja yang tengah sibuk melayani tamu.


"Hai Moi,"


Merasa namanya di panggil, gadis yang bernama Moi itu pun menoleh. Ia mendapati seorang wanita cantik berkerut besar tengah tersenyum manis di belakangnya. Senyum cerah gadis remaja itu seketika memudar. Tatapan ramahnya telah berganti dengan kebencian.


"Apa yang lo lakuin di sini?"


Quinsy merasa bingung atas sikap gadis muda itu, bukannya menjawab sapaan darinya, gadis itu justru balik bertanya dengan nada sarkas.


"Cepat pergi! Toko kami ga menerima pengkhianat kaya lo!" Hardik Moi, dengan lantang sambil mendorong tubuh Quinsy sekuat tenaga hingga membuat Quinsy hampir saja terjatuh andaikan tidak berpegangan pada meja.


"Moi, kamu kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa? Lo masih tanya kenapa?! Lo pikir aja sendiri!"


"Moi, Kakak ada salah? Kalo ia, Kakak minta maaf ya?" Pinta Quinsy dengan lemah lembut. Hubungan keduanya begitu baik dulu sewaktu almarhum Marvin masih hidup. Bahkan setelah kepergiannya pun, mereka masih saling berkomunikasi melalui ponsel. Namun entah mengapa, sikap Moi sangat jauh berubah.


"Lo ga usah so baik! Lo udah mengkhianati Kakak gue, trus lo masih berharap kami masih mau nerima lo kaya dulu? Mimpi!"


"Moi, aku ga pernah mengkhianati Marvin."


"Alah, bull **** tau ga? Mending sekarang lo pergi sebelum gue makin kasar."


Seorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki tempat itu, heran melihat banyaknya orang yang tengah berkerumun. Karena penasaran, ia pun mendekat ke sana dan melihat putrinya tengah berbicara kasar pada seseorang.


"Moi, kenapa kamu berbicara seperti itu pada tamu?" Dan ketika ia mendekat, wanita itu melihat gadis yang tengah mendapatkan perlakuan buruk dari putrinya adalah Quinsy pun menatap tajam pada Moi.


"Dia bukan Kakak ku! Dia pengkhianat!" Ucap gadis remaja itu dan berlari menjauh.


"Moi!" Panggil Nyonya Jafier yang melihat kepergian putri keduanya. Moi adalah anak yang paling dekat dengan almarhum Jafier. Karena Jafier dulu semasa hidup sering membawa Quinsy datang berkunjung di kediaman mereka, akhirnya keduanya pun akrab layaknya saudari sungguhan. Itulah mengapa Nyonya Jafier tidak mengerti mengapa putrinya bisa berkata kasar seperti tadi pada Quinsy.


"Kamu ga papa? Maafin Moi ya? Mungkin dia lagi PMS."


"Ia, ga papa kok Mah,"

__ADS_1


"Kamu apa kabar? Gimana sama bayi kalian?" Tanya Nyonya Jafier dengan mata yang berkaca-kaca. Ia dapat merasakan kehadiran putranya tiap kali berada di dekat Quinsy. Nyonya Jafier telah membayangkan bila janin yang ada di dalam perut Quinsy saat ini adalah keturunan dari almarhum Marvin. Itu pasti akan membuatnya merasa amat bahagia dan menikmati sisa hidupnya.


"Mereka sehat, dan sebentar lagi bakal menginjak enam bulan." Jelas Quinsy sambil mengusap lembut perut buncitnya.


"Maaf Nona, kita sudah harus kembali."


"Aku pulang dulu ya Mah, lain kali aku mampir ke sini lagi."


Nyonya Jafier tak dapat berkata-kata lagi, suaranya seakan terhalang sebuah batu besar yang menahannya untuk keluar. Wanita paruh bayar itu hanya mengangguk sekali dan membiarkan Quinsy berlalu pergi.


Di dalam mobil, Quinsy menangis tersedu-sedu. Ia kembali merindukan pria yang sudah mengisi relung hatinya selama bertahun-tahun itu. Nama Marvin Jafier telah terpatri di dasar hati Quinsy hingga sangat sulit untuk menghapusnya. Walau ia telah berusaha untuk membuka lembaran baru bersama Glen, namun hatinya masih saja mencintai Marfin.


Karena lelah, Quinsy pun tertidur di kursi penumpang, dan ketika mereka tiba seorang pria telah membawa tubuhnya kembali ke kamar mereka. Gadis itu tertidur cukup lama, hingga ia terbangun dan mendapati Glen telah berbaring di sisinya. Wajah tampan pria itu terlihat sangat jelas sedang kelelahan. Jambang-jambang yang tak terurus telah mulai bertumbuhan di wajah pria itu. Quinsy membelai lembut wajah suaminya, rasa sedih yang ia rasakan tadi perlahan menghilang dan berganti dengan ketenangan.


"Kau sudah puas memandangi wajah tampan suamimu ini?" Tanya Glen dengan suara serak khas bangun tidur.


BERSAMBUNG....


**Seru gak???


Kalau kurang seru, ayo kita seru seruan di episode selanjutnya...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya...**


__ADS_2