TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
DUA NETRA BERTEMU


__ADS_3

Glen menikmati kebersamaan yang singkat sebelum orang tua dari bayi datang menjemput. Mungkin karena terlalu merindukan Quinsy dan bayi-bayi mereka, Glen jadi berhalusinasi bila bayi dalam gendongannya adalah putra yang Quinsy lahirkan.


"Maaf Tuan, ada seorang wanita yang mengaku ibu dari bayi ini sudah datang."


"Biarkan dia masuk."


Quinsy melangkah ke dalam, mata cantiknya terbelalak saat netra coklat miliknya bertemu dengan netra biru milik Glen. Jantung keduanya berdetak seirama dengan debaran yang masih sama seperti saat mereka pertama kali memadu kasih. Quinsy perlahan memundurkan langkahnya, ia ingin pergi dari tempat itu. Tetapi Glen sudah lebih dulu menahan lengan gadis itu, dengan sekali tarikan, Quinsy kembali menghadap ke arahnya.


"Maaf," hanya itulah kata yang mampu keluar dari bibir Glen mewakili ribuan kata yang ingin diucapkannya.


Quinsy masih berdiri terpaku, otaknya seakan beku, ia tidak tau harus bagaimana. Pikirannya mengatakan untuk segera pergi, akan tetapi hati dan tubuhnya memaksa tetap tinggal.


Pelukan erat yang penuh dengan rasa sesal, rindu, juga emosi dapat Quinsy rasakan dari Glen. Satu per satu ingatannya tentang rasa sakit yang ia rasa setahun terakhir menyadarkan Quinsy dan mendorong tubuh Glen. Tatapan gadis itu dipenuhi dengan kekecewaan, ia berjalan ke arah bayinya dan menggendong Zello pergi.


"Sayang, ku mohon, beri aku satu kesempatan lagi. Aku ingin menjelaskan semuanya." Glen kembali menahan kepergian Quinsy, ia tidak ingin kembali terpisah dari orang-orang terkasih.


"Maaf, Tuan. Saya tidak mengenali Anda. Saya datang kemari hanya untuk menjemput putra saya. Terimakasih karena sudah menjaganya. Dan maaf karena sudah merepotkan Tuan." Ucapan Quinsy yang bernada dingin membuat hati Glen semakin sakit. Bagaimana mungkin gadis manis yang ia cintai bisa berkata sedingin ini. Bahkan, tatapan mata yang biasanya hangat kini, berubah menjadi ribuan pisau yang menghunus ke ulu hati.


"Sayang, aku tau kau kecewa. Aku tau, akulah yang bersalah. Tetapi aku mohon, demi putra kita, berikan aku kesempatan."


"Daddy," Penyebutan yang begitu fasih dari mulut kecil bayinya, membuat hati Quinsy tak lagi teguh. Perlahan air matanya meluncur turun, dengan cepat ia menghapus air mata yang tidak sopan itu. Quinsy tidak ingin Glen mengetahui kelemahannya, jadi tanpa menghiraukan ucapan Glen, ia berlalu begitu saja.

__ADS_1


Setelah Quinsy berhasil membuka pintu, Glen ingin kembali menahannya, tetapi Morgan sudah lebih dulu memberikan bogem mentah yang membuat tubuh Glen tersungkur. Karyawan Glen yang melihat itu datang dan membantu Glen untuk berdiri.


"Jauhi Adikku, atau aku akan pastikan, kau akan kehilangan nyawamu!"


"Tuan, apakah kau baik-baik saja? Perlukah aku memanggil dokter?"


Glen mengangkat sebelah tangannya dan menatap kepergian Quinsy bersama putra mereka. Meskipun Glen masih belum bisa mendapatkan maaf dari gadis itu, tetapi ia sudah cukup lega, sebab setidaknya ia tau, bila Quinsy dan bayinya berada di kota ini. Dan Glen pun merasa bangga, sebab ia sudah menjadi seorang ayah dari bayi kecil nan tampan.


"Kamu ga papa kan?" Morgan bertanya pada Quinsy saat mereka telah berada di dalam mobil. Ia melihat ekspresi Quinsy yang begitu terkejut, tak hentinya ia menciumi kening putra kecilnya yang terus menggumamkan kata ayah.


"Maafin Kakak. Seharusnya Kakak ga bawa mereka keluar, jadi hal kaya gini ga bakal terjadi." Sesal Morgan dan hanya di balas senyum lembut oleh Quinsy.


"Ga papa, Kak. Mungkin, ini udah takdir. Toh Quinsy juga udah mempersiapkan hati tentang hari ini. Walau, semuanya ga semudah yang Quinsy bayangin."


Gedung mewah tempat perlombaan acara bakat para desainer muda yang Quinsy ikuti, penuh dengan orang-orang yang juga turut serta. Acara yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi ini sedang sibuk-sibuknya. Peserta yang mengikuti lomba memastikan gaun-gaun mereka telah siap tampil. Begitu juga dengan tim yang Quinsy miliki, mereka sedang sibuk memeriksa segalanya hingga tiba-tiba saja Quinsy meninggalkan tempat itu.


FLASH BACK ON...


Quinsy sedang serius mempersiapkan gaun yang akan dikenakan oleh model saat kontes nanti. Tangan-tangan mulusnya telah penuh dengan plaster, tanda bila ia benar-benar menekuni pekerjaannya. Quinsy tidak perduli dengan luka-luka yang ia dapati. Baginya, asalkan bisa menang kali ini, butik miliknya akan dapat terkenal di kalangan yang lebih luas. Dan tentu saja hal itu akan mengundang banyak investor yang pasti menguntungkan baginya.


"Nona, semua persiapan telah selesai. Hanya tinggal satu gaun lagi yang masih butuh sedikit dirombak. Sebab, ada beberapa titik yang kurang sempurna."

__ADS_1


"Baiklah, kalian lakukanlah. Dan ingat, harus tetap hati-hati saat pengerjaan. Pentas kali ini sangat penting bagi butik kita."


"Baik, Nona."


Seorang pemuda tampan menghampiri Quinsy, dengan seikat bunga di tangannya, pria itu mulai menyapa.


"Selamat siang. Perkenalkan saya Henry, saya adalah salah satu peserta di tempat ini."


Quinsy tersenyum ke arah pria bernama Henry tersebut, dengan ramah ia menyalaminya.


"Hai, senang berkenalan denganmu. Saya Quinsy,"


"Tidakkah kau keberatan makan siang bersama?" Henry menyodorkan seikat bunga pada Quinsy. Quinsy ingin meraih bunga itu sebelum ponsel di sakunya berdering.


"Maaf, saya harus menerima panggilan." Henry mengangguk dan membiarkan Quinsy sedikit menjauh darinya.


"Ia, Kak?"


"Quinsy, Zello hilang."


Satu kalimat yang Morgan ucapkan telah mampu membuat hati Quinsy luruh. Ia tak berpikir panjang berlari meninggalkan gedung tempatnya sekarang. Setelah mendapatkan taksi, Quinsy menuju taman tempat kedua putra putrinya berada.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2