
"Bagaimana bila aku memaksa?" Glen makin mendekatkan wajahnya pada Quinsy. Bahkan sangking dekatnya, Quinsy dapat merasakan hembusan nafas dari pria itu.
Degh, degh!
Detak jantung Quinsy meningkat cepat, tubuhnya menjadi kaku dan otaknya pun membeku. Quinsy hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka.
Glen yang melihat mata Quinsy sudah terpejam tersenyum kecil. Ia memang ingin menikmati kembali manis madu istrinya itu. Hanya saja Glen tau Quinsy saat ini pasti sudah sangat lelah. Jadi ia akan melepaskan Quinsy malam ini agar dapat beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pertempuran yang sebenarnya besok.
"Apa yang ada dalam otak kecilmu itu, hem? Apakah kau sudah siap untuk kita malam ini?"
Mendengar pertanyaan Glen, bola mata Quinsy langsung terbelalak. Ia melihat pria itu telah tersenyum ke arahnya, wajah Quinsy memerah seketika.
'Dasar bego. Lo mikir apa sih Sy? Lagian nih otak juga, kenapa mikirnya jadi sejauh itu sih!' Gerutu Quinsy pada dirinya sendiri.
"Aku mana ada berpikiran seperti itu. Kau, kau jangan salah paham. Aku hanya, hanya-" Quinsy tidak tau harus beralasan apa lagi, otaknya saat ini tidak bisa di ajak kerja sama.
"Hahahaha...ya, ya...aku tau. Sudah lah airnya akan segera dingin dan itu tidak baik untuk kandunganmu. Ayo kita lekas membersihkan diri."
Akhirnya mereka benar-benar hanya mandi dan kembali ke kamar bersama. Glen tidak melakukan hal lain lagi padanya malam itu. Namun, bukannya senang Quinsy malah merasa agak jengkel saat melihat Glen telah lebih dulu tertidur pulas dengan dengkuran halus.
'Dia tidur? Ih nyebelin banget sih! Masa malam pertama dia malah tidur! Eh, kok gue malah kesel? Dasar Quinsy bego! Lo harusnya seneng dong, ah tau ah!'
Dengan perasaan yang bercampur aduk Quinsy ikut menyusul Glen ke alam mimpi. Mungkin karena terlalu lelah, jadi dia tidak memerlukan waktu lama untuk merajut mimpi-mimpi manisnya.
__ADS_1
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Sementara di gedung tempat Glen dan Quinsy melangsungkan pernikahan tadi, para tamu saat ini tengah menikmati waktu dansa mereka. Setiap langkah kaki mengikuti alunan musik yang merdu. Langkah demi langkah para pasangan dansa menghiasi ruangan tersebut.
"Bolehkah aku?" Pinta Morgan pada seorang gadis cantik yang mengenakan gaun berwarna navy yang selaras dengannya. Dengan malu-malu, gadis itu menyambut uluran tangan Morgan. Sorak sorai dari para sahabat dan kerabat Morgan membuat wajah Jessy kian bersemu merah.
"Pah, itu anak kita? Mamah ga lagi mimpi kan?" Tanya Nyonya Karren yang melihat putra keduanya menggandeng seorang gadis ke lantai dansa.
Bukan apa-apa, hanya saja Morgan itu memiliki sifat yang berbeda jauh dari kedua saudara saudarinya. Ia lebih cenderung pendiam dan tertutup, bahkan sebagai seorang Ibu, tak pernah sekalipun Nyonya Karren mendengar putranya itu berpacaran semenjak masih remaja, hingga kini usianya telah mencapai 30 tahun. Jadi wajar saja jika ia sedikit tak percaya akan yang dilihatnya saat ini.
"Ia Mah, itu anak kesayangan kamu."
"Akhirnya Tuhan menjawab do'a Mamah, kayanya kita bakal nimang cucu agak banyakan nih tahun ini Pah,"
"Ih Papah kok ngomongnya gitu? Doain anak itu mbo yo yang bener gitu loh..."
Dansa yang dilakukan oleh Morgan dan Jessy begitu indah. Semua orang dapat melihat betapa serasinya pasangan itu. Tak terkecuali Emy dan juga Sonya, kedua sahabat Jessy itu bahkan tidak percaya bila si acuh akhirnya bisa dekat dengan seorang pria. Apa lagi pria itu adalah Kakak dari salah satu sahabat mereka.
"Bukankah mereka terlihat sangat cocok? Ah, andaikan Arnold ada di sini, dia juga pasti akan mengajakku untuk berdansa." Tutur Emy sembari membayangkan tunangannya ada di tempat itu dan berdansa bersamanya. Maka ia akan menjadi wanita yang berbahagia seperti Jessy.
"Sejak kapan mereka jadi sedekat ini?"
"Entahlah, tapi itu sangat bagus. Setidaknya sekali seumur hidup aku melihat Jessy benar-benar dekat dengan pria dan bukan di tempat pemotretan. Aku hampir mengira dia itu..." Emy tak menyelesaikan ucapannya, namun Sonya sudah tau arah pembicaraan sahabatnya itu. Ia pun mengangguki ucapan Emy yang menggantung karena memiliki pemikiran yang sama.
__ADS_1
Selain kedua gadis remaja sahabat Quinsy yang tengah menggunjingkan teman mereka, di sudut lain juga ada sepasang suami istri yang tak kalah heboh ketika melihat Morgan berinisiatif mengajak seorang gadis untuk melakukan dansa dengannya.
"Sayang lihat! Akhirnya Morgan menemukan pasangannya. Mereka kelihatan cocok kan?"
"Pantesan dia selalu nolak cewek-cewek yang aku sodorkan. Ternyata dia suka yang masih bau kencur? Dasar maniak!" Umpat Miguel dari kejauhan.
Sudah begitu banyak gadis yang ia coba jodohkan untuk sang Adik. Sebab, selama Morgan telah menginjak usia pacaran, ia tak pernah sekalipun dekat dengan seorang gadis. Maka karena itu, sebagai seorang Kakak ia takut bila Adiknya memiliki kelainan seksual. Jadi ia berusaha mencarikan gadis untuk menjadi pasangan Morgan. Mulai dari seorang putri Perdana Menteri, anak pejabat, anak rekan bisnisnya, artis bahkan para model-model terkenal pun telah Miguel coba perkenalkan. Namun sedikitpun tak pernah Morgan tanggapi. Paling ia hanya kan membahas mengenai bisnis atau hal lain yang membuat para gadis menjadi jenuh dan akhirnya pergi meninggalkannya.
Entah pesona apa yang dimiliki Jessy, hingga mampu membuat seorang pria dingin sepertinya amat tertarik dan membuka pintu hati. Yang pasti, bukan hanya pesona Jessy saja yang membuat Morgan jatuh hati. Melainkan sebaliknya juga berlaku pada Jessy, pesona tersendiri yang terdapat pada diri Morgan, diam-diam telah berhasil mencuri hatinya dan membuat gadis itu jatuh cinta.
Akankah dua orang yang memiliki sifat dingin dan pendiam itu dapat mempertahankan hubungan mereka? Atau malah berakhir di tengah jalan karena kurangnya komunikasi di antara keduanya? Ya, semoga saja ini akan menjadi kisah bahagia antara dua kutub Utara yang saling jatuh cinta.
BERSAMBUNG....
♡Gimana guys...seru gak?
Nantikan episode selanjutnya ya...
jangan lupa kunjungi karyaku yang lain tinggal tag nama aku di kolom pencarian.
salam sayang dari
^^^NAZUA MUGHOZA♡^^^
__ADS_1