TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
MENYELAMATKAN QUINSY


__ADS_3

Quinsy selalu mengurung dirinya di dalam kamar, ia sangat enggan untuk bertemu dengan Glen. Gadis cantik itu amat membenci Glen, bahkan mendengar suara lelaki itu saja sudah membuat Quinsy muak.


Tok..tok...


Glen mengetuk pintu sebelum ia masuk ke dalam kamar yang mereka tempati. Ya, mereka memang tinggal dalam satu kamar selama Quinsy berada di pulau pribadi itu.


Namun baru kemarin malam Glen membuat kesalahan dengan merampas secara paksa mahkota berharga milik Quinsy.


"Sayang, ini sudah pukul delapan pagi, sarapan dulu ya?" Bujuk Glen pada Quinsy.


Namun, gadis itu tetap saja tak bergeming di tempatnya. Uang seakan telah kehilangan semangat hidupnya. Quinsy merasa sudah tidak memiliki alasan untuk melanjutkan hidupnya lagi.


"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sadar saat itu."


Quinsy kini terisak, ia benar-benar membenci pria di sampingnya itu. Ia merasa sangat kotor saat mengingat lagi peristiwa yang memilukan hari itu.


Glen pun merasa sangat menyesal atas apa yang sudah ia lakukan hingga membuat gadisnya selalu bersedih.


Tok..tok..


Pintu kembali di ketuk dari luar dan kemudian terdengar suara asisten kepercayaan Glen yang memberitahukan jadwal Glen pagi ini.


"Maaf Tuan, tapi kita harus segera berangkat untuk menemui investor dari Dubay."


Glen dengan berat hati bangkit dan meninggalkan Quinsy yang masih terisak senduri di kamar itu.


Glen hanya memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi Quinsy, takut-takut gadis itu akan melakukan sesuatu hal yang nekat.


"Awasi dia dan jangan sampai lengah lagi. Bawakan juga sarapan pagi untuknya nanti." Titah Glen pada tiga orang Bodyguard yang akan menjaga Quinsy.


Lelaki itu kemudian pergi bersama sang asisten menuju perusahaan menggunakan helikopter seperti biasanya.


Beberapa jam setelah kepergian Glen, sebuah helikopter dan beberapa speedboat mendekat ke pulau pribadi milik Glen.

__ADS_1


Dua orang pria tampan turun dari helikopter bersama beberapa Tentara bayaran untuk mengepung pulau itu.


Para penjaga yang di tempatkan Glen di pulau itu untuk menjaga Quinsy bahkan telah di habisi oleh orang-orang itu.


"Kamu cari Quinsy di lantai atas, aku akan menyisiri lantai satu." Ucap Miguel pada Morgan.


Keduanya berpisah dengan anak buah masing-masing mencari keberadaan Quinsy.


Morgan tiba di sebuah kamar sudut dengan pintu yang berornamen hitam. Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak pintu itu.


Betapa terkejutnya Morgan saat melihat keadaan sang Adik saat ini uang terlihat begitu memprihatinkan. Gadis muda yang selalu nampak ceria itu tengah duduk dengan deraian air mata tatapan yang kosong.


"Quinsy!" Morgan berlari memeluk tubuh sang Adik. Quinsy tak bergeming sedikitpun akan kehadiran sang Kakak kedua. Gadis itu tetap saja menatap ke luar jendela dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Hei, Quinsy. Ini Kakak, kita pulang ya?" Ucap Morgan dengan nada lembut seraya mengelus surat panjang sang Adik.


"Kak, aku sudah menemukan Quinsy." Ucap Morgan melalui walkie-talkie di tangannya.


"Bagus! Cepat bawa dia, kita harus segera pergi sebelum lelaki b*j*ng*n itu kembali dengan anak buah yang lebih banyak lagi."


Pria itu kemudian menggendong Quinsy menuju helikopter dan meninggalkan pulau itu. Miguel memeluk Adik bungsunya dengan penuh kerinduan dan rasa syukur. Namun Quinsy tidak merespon sedikit pun, gadis itu masih saja terdiam seperti sebuah manekin cantik.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Entahlah saat aku menemukan dia, Quinsy sudah seperti ini."


"Br*ng*s*k!! Sebenarnya apa yang sudah di lakukan b*j*ng*n itu pada Quinsy?! Kalau sampai dia berani macam-macam, aku akan menghabiskannya beserta seluruh keluarganya." Murka Miguel yang merasa sakit akan keadaan sang Adik saat ini.


Kedua Kakak beradik itu kemudian membawa Quinsy menuju sebuah rumah sakit besar.


Para Dokter wanita dan suster membawa Quinsy menuju ruang ICU untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Setelah beberapa saat, Dokter itu keluar dengan wajah sedih.


Ia tak tahu kronologi kejadian yang sesungguhnya, namun sebagai seorang Dokter dan juga sesama wanita ia dapat merasakan betapa pahitnya hal yang di lalui oleh gadis Malang itu hingga membuatnya menjadi depresi seperti sekarang.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Adik kami Dok?"


"Dia sepertinya telah mengalami pelecehan seksual dan depresi berat. Saya sarankan agar kalian membawanya menuju Dokter psikiater agar dapat membantunya kembali seperti semula lagi."


"Apa maksud Anda dengan mendapatkan pelecehan seksual? Apakah Adikku itu, dia...?" Miguel tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Sang Dokter hanya bisa mengangguk lemah, ia tidak dapat melakukan apapun lagi. Hanya sebuah dukungan moril dan saran untuk mengunjungi Dokter lain yang lebih tepat dalam menangani kasus Quinsy saat ini.


Miguel langsung terduduk lemas di tempatnya, sedangkan Morgan melampiaskan emosinya dengan menampar dinding hingga tangannya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


Para suster mencoba menahan Morgan agar tidak menyakiti dirinya sendiri. Namun, lelaki itu masih bersikeras untuk melakukannya.


Ia sangat merasa gagal sebagai seorang Kakak dalam menjaga dan melindungi Adiknya sendiri. Dengan pikiran yang kalut Morgan melangkah meninggalkan rumah sakit dan ingin memberi pelajaran pada pria bernama Glen Jhonsson Hemsworth yang telah membuat Adik kesayangannya menjadi seperti sekarang.


"Mau kemana? Jangan gegabah! Sekarang bukan saatnya untuk memberi perhitungan dengan b*j*ng*n itu. Quinsy membutuhkan kita sekarang!"


Morgan menghembuskan nafasnya kasar, ia mengangguk setuju akan apa yang di katakan oleh Miguel. Quinsy lebih penting saat ini ketimbang balas dendam.


"Sekarang kita harus bagaimana?"


"Kita bawa Quinsy kembali ke Indonesia supaya bisa jauh dari b*j*ng*n itu. Semakin lama dia di negara ini, semakin mudah b*j*ng*n itu untuk menemukan Quinsy kembali."


"Ok,kita bawa Quinsy pulang sekarang!"


Morgan dan Miguel membawa Quinsy kembali ke tanah air dengan penerbangan tercepat. Mereka harus segera menjauhkan sang Adik dari laki-laki biad*b seperti Glen itu.


Dengan menempuh waktu selama 22 jam, kini akhirnya mereka tiba di tanah air. Mobil yang menjemput kedatangan mereka pun telah di siapkan.


Morgan dan Miguel tidak membawa Quinsy kembali ke kediaman orang tua mereka, melainkan ke kampung halaman sang Ibunda di Cirebon.


Kedua Kakak beradik itu sengaja membawa Quinsy ke sana sebab selain udaranya yang sejuk dan dapat membantu dalam pemulihan kesehatan Quinsy, tempat itu juga sangat tidak mungkin di temukan oleh Glen.


Sebab, dengan kekuasaan yang di miliki oleh pria itu, dengan sangat mudah ia dapat menemukan tempat tinggal mereka yang ada di Jakarta dan membawa Quinsy kembali.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


MOHON DUKUNGAN DAN SARAN KALIAN SEMUANYA....


__ADS_2