
"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu satu minggu untuk membujuk putriku. Bila dalam waktu satu minggu Quinsy mau menerima permintaan maafmu dan bersedia untuk menikah denganmu maka, aku akan merestui hubungan kalian. Namun, bila dalam waktu satu minggu dia tidak memaafkanmu dan tidak setuju untuk menikah denganmu, maka kalian harus melepaskan Quinsy beserta anak yang ada di dalam kandungannya untuk di aborsi."
"Pah? Gimana mungkin Papah membiarkan dia begitu aja untuk menikahi Quinsy? Papah lupa gimana menderitanya Quinsy selama ini? Dia bahkan harus selalu konsultasi ke Dokter hanya untuk mengembalikan kepercayaan dirinya seperti dulu lagi."
"Tentu Papah ingat Mah, tapi bayi itu juga tidak berdosa. Dia juga Cucu kita, darah daging keluarga Karren La Vega. Tegakah Mamah untuk membunuh bayi yang bahkan belum melihat dunia ini?"
Nyonya Karren terdiam akan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Ya, suaminya benar, bayi itu tidak berdosa, dan bayi itu juga adalah Cucu ke dua mereka.
Tapi bagaimana dengan perasaan Quinsy? Akankah mereka mengorbankan perasaan dan kesehatan putri tunggal mereka hanya demi nyawa yang bahkan belum terbentuk?
Ucapan Tuan Karren membuat Glen dan kedua orang tuanya terperanjat. Sebegitu bencinyakah Quinsy padanya hingga ia tega menghilangkan nyawa bayi yang tidak berdosa itu?
Tidak, Glen tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia tidak akan membiarkan darah dagingnya di lenyaplah begitu saja. Glen akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Quinsy memaafkannya dan menerima pernikahan di antara keduanya, apa pun itu resikonya.
"Baiklah, saya setuju. Lalu bolehkah saya bertemu dengan Quinsy?"
"Dia ada di kamarnya."
"Tidak, jangan izinkan giat untuk bertemudengan Quinsy Pah, Mamah takut dia akan kembali histeris."
"Kita harus membiarkan mereka untuk menyelesaikan masalah mereka Mah. Biarkan Quinsy untuk mengambil keputusan. Ini juga menyangkut masa depannya sendiri."
Lagi-lagi Nyonya Karren terdiam atas ucapan suaminya. Ia kembali duduk dan membiarkan Glen menuju kamar Quinsy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Quinsy kembali mengalami serangan mual yang luar biasa, ia bahkan sampai menangis tesedu-sedu akibat rasa mual yang di alaminya.
Setelah merasa baikan, Quinsy kembali merebahkan dirinya ke atas ranjang besar miliknya. Gadis cantik itu meringkuk sembari menangis.
Ia menatap layar gawainya yang berisikan beberapa fotonya bersama sang almarhum kekasih. Betapa Quinsy kini amatlah merindukan pria tampan itu.
"Marfin, aku kangen. Bisa gak kamu ajak aku ikut sama kamu aja? Aku capek Marfin, aku gak kuat." Lirih Quinsy seraya memandangi fotonya bersama Marfin Javier.
__ADS_1
Tak terasa matanya pun mulai terpejam, gadis cantik itu akhirnya tertidur pulas. Kehamilannya yang tergolong masih sangat muda membuatnya begitu banyak menguras tenaga saat mual menghampirinya.
Mbo Sinah masuk ke kamar Quinsy dengan membawakan segelas susu dan roti untuk sarapan Nona mudanya itu. Namun, Mbok Sinah mendapati gadis itu yang tengah tertidur dalam posisi meringkuk.
Sebagai orang yang telah bekerja pada keluarga itu selama hampir empat puluh tahun lebih, Mbok Sinah tentu saja melihat sendiri pertumbuhan Quinsy sedari baru lahir hingga kini.
Wanita paruh baya itu pun turut merasakan betapa sakitnya hati Quinsy saat ini. Ditambah kehamilan yang tidak ia inginkan yang membuat gadis itu makin rapuh dan kembali kehilangan semangat hidupnya.
Akhirnya Mbok Sinah meletakkan susu dan roti itu di atas meja, kemudian keluar perlahan-lahan agar tidak membangunkan Quinsy.
Baru saja Quinsy terlelap ke dunia mimpinya, perutnya kembali bergejolak. Dengan segera ia berlari ke wastafel dan kembali mengeluarkan isi perutnya.
Namun, karena sejak pagi belum ada yang masuk ke dalam perutnya, jadi yang dia keluarkan hanyalah cairan bening.
"Hoek...hoek...! Huft..huft..! Huek...!"
Terasa ada sebuah lengan yang membantu dengan memijit tengkuk belakangnya. Quinsy mengira itu adalah sang Ibu, ia berbalik dan memeluk tubuh itu sembari terisak.
"Hiks..hiks..tolong Quinsy Mah, Quinsy ga mau kaya gini terus,"
Quinsy yang awalnya tidak menyadari akan siapa yang tengah memeluk tubhnya, mulai mengenali aroma parfum dari laki-laki itu.
'Parfum ini...ini bukan seperti Parfumnya Mamah, tapi milik...'
Quinsy lalu mendongak dan melihat wajah laki-laki yang memeluknya.
"Aaaaa..! Menjauh dariku! Pergi! Mamah...!" Teriak Quinsy histeris. Wajahnya langsung berubah pucat pasi saat melihat Glen yang ada di hadapannya.
"Sssst...sssst...! Maaf, maafkan aku! Aku mohon maafkan aku..." Ucap Glen Lirih seraya terus memeluk tubuh Quinsy yang terus meronta-ronta.
"Aaaaa.....! Mamah...! Tidak....! Mamah...!"
Kedua orang tua Quinsy dan orang tua Glen berlari menuju kamar Quinsy. Mereka mendapati tubuh Quinsy yang bergetar hebat dalam pelukan Glen.
__ADS_1
Tuan Hemsworth lalu bergegas menarik putranya agar menjauh dari Quinsy. Sedangkan Tuan Karren dan istrinya mencoba untuk menenangkan putri mereka.
"Quinsy, sayang, tenang nak. Ini Mamah, tenang ya..."
Quinsy terus saja memberontak seraya berteriak-teriak layaknya orang yang mengidap gangguan mental. Hal itu membuat siapa saja yang melihatnya menjadi sangat iba.
"Kau lihat apa yang sudah kau lakukan pada anak gadis orang? Kau telah merusak masa depannya, merenggut mahkotanya, bahkan kau juga membuatnya menjadi seperti ini! Ini kah cinta yang kau maksud?!" Ucap Tuan Hemsworth sambil mencengkeram kerah kemeja putranya.
Glen tidak dapat berkata-kata lagi, ia tidak menyangka bila Quinsynya kini menjadi deperti sekarang akibat perbuatannya.
Andai waktu dapat di ulang kembali, Glen lebih memilih tersiksa oleh obat perangsang sialan itu ketimbang melihat gadis yang di cintanya seperti ini.
Glen melepaskan cengkeraman Ayahnya dari kerah kemeja miliknya dan berlari memeluk tubuh Quinsy.
"Maafkan aku, maafkan aku, ku mohon berhentilah menyiksa dirimu. Pukulah aku jika itu bisa nembuatmu merasa lega."
"Aaaargh...! Kau laki-laki bajingan! Aku membencimu! Aku sangat membencimu! Aaaargh...!" Ucap Quinsy seraya memukul dan mencakar wajah Glen.
Tangan, leher dan wajah Glen kini telah berlumuran darah. Laki-laki itu tidak memperdulikan dirinya lagi.
Baginya, asalkan Quinsy dapat mengurangi sedikit saja rasa benci di dalam hatinya ia rela walau harus berdarah setiap hari hanya untuk mendapatkan maaf dari gadis yang amatvia cintai.
Kedua orang tua Quinsy bahkan menjadi tidak tega melihat kondisi Glen saat ini. Pria itu tetap diam saja walau tubuhnya sudah di penuhi dengan luka memar dan Cikarang akibat kuku runcing maling Quinsy.
"Quinsy," Nyonya Karren ingin menghentikan perbuatan putrinya yang melukai orang. Namun, di cegah oleh Nyonya Hemsworth yang menahan lengan sahabatnya itu seraya menggelengkan kepala.
Quinsy yang kelelahan dan kekurangan tenaga pun akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan Glen. Dengan sigap Glen mengangkat tubuh ringkih Quinsy dan membaringkannya ke atas tempat tidur.
BERSAMBUNG....
...CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA, BILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA, KARAKTER DAN SEBAGAINYA ITU HANYALAH KEBETULAN....
MOHON DUKUNGAN KALIAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE, KOMEN, DAN VOTE
__ADS_1
tolong jadikan favoritnya dan juga berikan bintang lima untuk ceritakan ini ya....
I LOVE YOU READER'S 😙😙