
Miguel menyusul Tuan Karren ke ruang kerjanya, ia ingin protes akan sikap sang Papah yang dinilai terlalu egois. Menurut Miguel, Tuan Karen tidak seharusnya memaksa Quinsy untuk ikut Glen kembali ke New York. Sebab dia takut Adik bungsunya akan menderita di tangan keluarga Hemsworth.
"Pah Kenapa sih harus maksa Quinsy? Dia juga punya ham hak atas keputusan mengenai hidupnya."
"Papah tau kamu sangat menyayangi Adik kamu, tapi Quinsy sekarang adalah seorang istri. Dan dia memiliki kewajiban untuk ikut kemanapun suaminya pergi. Coba kau lihat Maya, dia rela meninggalkan kampung halamannya, kota kelahirannya, bahkan karir dalam pekerjaannya. Demi apa? Demi kamu suaminya. Lalu Apa alasanmu menahan Quinsy di sini?"
Pertanyaan Tuan Karren membuat Miguel terdiam, ia sadar yang diucapkan Ayahnya adalah benar. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Quinsy ikut bersama orang yang telah menyakitinya. Biarlah sang ayah berpikir bahwa dirinya adalah orang yang egois. Yang pasti, Miguel akan selalu melindungi Quinsy, adik bungsunya. Saat Miguel akan pergi meninggalkan ruang kerja sang Ayah, Tuan Karen kembali berucap.
"Keluarga Hemsworth adalah keluarga yang baik. Papah tahu itu, meskipun Papah baru mengenal mereka namun, dapat Papa rasakan ketulusan hati Glen dalam mencintai Adikmu. Papah harap kamu juga bisa membuka mata hati kamu, agar dapat melihat manakah itu cinta dan manakah itu obsesi."
Miguel tak menghiraukan ucapan Ayahnya, ia keluar ruangan dan menuju kamar sang Adik. Ketika Miguel ingin mengetuk pintu kamar Quinsy, ia mendengar percakapan antara adiknya dan Glen.
"Kau tak perlu risau mengenai perusahaan, Daddy akan sanggup menghandlenya hingga kau mau ikut aku kembali ke New York. Sekalipun kau tak ingin kembali, maka sesuai dengan ucapanku tadi aku akan memindahkan pusat perusahaan ke Indonesia. Waktu bukanlah masalah bagiku, karena kau lebih berharga dari segalanya."
"Tapi saudaraku tadi mengatakan bahwa membangun sebuah perusahaan baru memerlukan waktu bertahun-tahun. Dan kau pun harus mencari kepercayaan dari beberapa perusahaan di sini kembali dari awal."
__ADS_1
"Itu semua sepadan. Asalkan aku bisa terus bersama kalian." Ucap Glen sembari mengelus perut sang istri. Quinsy tersipu mendengar ucapan manisGlen. Dulu sewaktu mereka baru saling mengenal, Glen nampak begitu acuh dan terkesan angkuh. Bahkan sukses membuat Quinsy hampir gila karena menuruti keinginan pria bule itu. Namun baru Quinsy sadari sekarang, bila Glen adalah pria yang sangat baik dan lembut. Ia tak pernah menolak keinginan Quinsy, bahkan bila itu adalah hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun.
'Cih! Jangan harap hanya dengan kata-katamu seperti itu dapat meluluhkan hati kami. Akan aku buktikan, bila kamu tidak pernah serius dengan hubungan kalian.' Gumam Miguel dalam hati. Ia kemudian berlalu meninggalkan kamar Quinsy.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Seluruh anggota keluarga Karren berkumpul di bandara untuk mengantarkan kepergian Morgan dan tiga sahabat Quinsy. Quinsy mengucapkan salam perpisahan pada tiga sahabatnya itu. Drama perpisahan antara para gadis pun dimulai.
"Sayang, segeralah kembali ke New York agar kita dapat berkumpul bersama." tutur Emy.
"Jangan lupa menghubungiku bila kalian telah tiba di New York." Ucap Quinsy yang tidak ingin merespon permintaan sahabatnya.
"Aku pun akan sangat merindukan kalian." Jawab Quinsy dengan memeluk ketiga sahabatnya tak kalah erat.
"Sering-seringlah berkunjung ke Indonesia. Pintu rumah keluarga Karren akan selalu terbuka untuk kalian." Ucap Nyonya Karren lembut pada ketiga sahabat Quinsy.
__ADS_1
" Terima kasih atas kebaikan dari kalian Nyonya Karren. Kami akan selalu mengingat kebaikan Anda sekeluarga." Ucap Jessy.
Sedangkan di sudut para kaum lelaki, tengah berbincang serius. Morgan memang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan acuh akan lingkungan sekitar. Namun kali ini, demi sang Adik bungsu, Morgan ikut abngkat bicara guna menasehati Glen, yang kini telah menjadi Adik iparnya.
"Aku percayakan Quinsy padamu. Aku yakin, kau dapat membahagiakan Quinsy. Adikku itu, adalah gadis yang amat berharga bagi keluarga kami. Jadi kumohon, jangan pernah sia-siakan dia. Karena kami tak segan-segan mengambilnya darimu."
"Kau bisa mempercayakannya padaku. Aku akan melindungi Quinsy dengan segenap jiwa dan ragaku." Tutur Glen dengan penuh keyakinan. Morgan menepuk pundak kekar pria itu, lalu melangkah pergi menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke New York.
Tuan dan Nyonya Karren sebenarnya juga harus pergi ke luar negri beberapa hari ke depan untuk urusan bisnis. Jadi mereka tinggal menunggu keberangkatan jadwal pesawat mereka di Cafe sekitaran bandara.
Sementara Glen mengantarkan Quinsy kembali ke rumah sebab gadis itu mengaku lelah dan ingin beristirahat. Ya, semenjak kehamilannya, Quinsy sangat mudah lelah dan juga sensitif. Glen bahkan harus ekstra sabar dalam menghadapi tingkah istrinya itu yang sering berubah-ubah. Tak jarang Glen di buat pusing akan permintaan Quinsy uang bermacam-macam dan tidak pandang waktu. Seperti tempo hari, Quinsy terjaga hingga tengah malam hanya untuk menunggu Glen datang membawakan makanan khas Italia dari sebuah restoran yang cukup jauh. Untungnya restoran itu masih buka hingga ia dapat mendapatkan pesanan Quinsy saat itu juga.
BERSAMBUNG....
**Seru gak???
__ADS_1
Kalau kurang seru, ayo kita seru seruan di episode selanjutnya...
Jangan lupa like dan komennya ya...**