TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
LEDEKAN ORANG TUA


__ADS_3

Pagi hari Quinsy telah terbangun dan tidak mendapati Glen di sisinya. Gadis itu melihat sekeliling namun tak kunjung jua menemukan pria itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dan ketika Quinsy telah kembali, Glen telah berada di kamar itu lagi sambil tersenyum padanya.


"Pagi, sayang... Apa kau lapar? Lepaslah kenakan bajumu dan ikut aku."


"Kemana?"


"Tentu saja kerestoran, apakah kau mempunyai rencana lain?" Tanya Glen seraya membawa Quinsy ke dalam dekapannya. Wangi yang menguar dari tubuh Quinsy membuat jantung Glen memompa darah dua kali lebih cepat. Sebagai seorang pria dewasa yang normal, k3jantanannya seketika bangkit. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke b1b1r Quinsy dan ingin meraup benda kenyal itu. Quinsy yang seakan terhipnotis perlakuan lembut Glen hampir saja ikut dalam suasana itu. Namun sebuah dering ponsel segera menyadarkannya dan bergegas ke ruang ganti sambil memegangi handuknya yang hampir saja melorot.


"Sial!" Umpat Glen dan meraih ponselnya dari dalam saku celana. Ternyata itu adalah panggilan dari temannya di New York.


"Awas saja bila tidak ada yang penting. Akan ku pastikan kau menyesal karena telah nenelponku Jimmy." Ucap Glen dengan nada dingin saat telah menjawab panggilan telpon tersebut. Membuat seseorang di seberang sana merasakan merinding sekujur tubuh.


"Hei,hei,hei... Maaf bila aku mengganggumu, ada hal yang harus ku beritahukan dan ini sangat penting."


"Katakan!"


"Ini semua tentang Feronicha,"


Glen melihat ke arah kamar mandi, Quinsy sepertinya akan cukup lama di sana. Ia melangkah menuju balkon untuk berbicara lebih leluasa.


"Apa maksudmu?"


"Anak buahku menemukan rekaman CCTV pada sebah taman, dua hari sebelum kematian Feronicha."


Glen terdiam di tempatnya, hingga kini pria itu belum bisa merelakan kepergian sang kekasih yang misterius. Pa tim sar tidak menemukan jasadnya dalam mobil, yang ada di saan hanyalah barang-barang milik Feronicha. Hingga kini Glen masih beranggapan bila wanita itu masih lah hidup di suatu tempat.

__ADS_1


"Kirimkan video itu padaku."


"Ok, tapi Glen, bagaimana dengan istrimu? Apakah kau tetap akan-"


"Itu bukan urusanmu." Glen mengakhiri panggilan secara sepihak. Pertanyaan Jimmy memang mengusik relung hatinya. Bagaimana bila Feronicha benar-benar masih hidup? Dan bagaimana bila Feronicha tiba-tiba kembali suatu hari nanti? Glen masih sangat mencintai gadis itu. Tapi ia juga tidak bisa hidup tanpa Quinsy, apa lagi gadis itu tengah mengandung buah hatinya saat ini.


Pintu kamar mandi terbuka, muncullah Quinsy yang telah mengenakan pakaian ganti dengan tetesan air yang mengalir dari ujung rambutnya. Gadis itu mencari hair dryer di laci untuk mengeringkan rambutnya.


'Apa yang harus ku lakukan bila Feronicha benar-benar kembali? Setelah bertahun-tahun aku mencarinya, mengapa baru sekarang aku menemukan titik terang atas kematiannya?' Pertanyaan demi pertanyaan muncul satu per satu di benak Glen. Ia masih belum bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu.


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Emy, Jessy, dan Sonya telah mengemasi barang-barang mereka ke dalam koper. Hari ini ketiga gadis muda itu akan kembali terbang ke negara tempat tinggal mereka. Walau mereka masih betah untuk berlama-lama tinggal di Indonesia, namun universitas akan kembali aktif. Begitu juga dengan kesibukan yang masing-masing mereka.


Usai mengemasi barang-barang, Emy, Jessy, dan Sonya turun ke lantai satu untuk sarapan bersama dengan Nyonya dan Tuan Karren. Dan benar saja, di meja itu sudah ada kedua pemilik rumah beserta salah satu putra mereka, Morgan.


"Duduklah!"


Mata Morgan menatap wajah sang kekasih yang nampak sangat cantik pagi ini. Ia bahkan tidak berkedip menatap Jessy hingga gadis itu telah duduk di kursinya.


"Ekhem..!"


Dehem Tuan Karren yang menyadarkan Morgan dari lamunannya dan kembali menikmati sarapan. Nyonya Karren amat senang melihat putra keduanya akhirnya bisa membuka hati oalah seorang gadis. Apa lagi gadis itu adalah sahabat baik sangat putri bungsu yang sudah sangat mereka ketahui bagaimana perangainya sehari-hari.


Emy dan Sonya menyenggol lengan Jessy pelan yang kebetulan duduk di tengah mereka, sebagai ejekan. Wajah Jessy langsung tersipu, ia sedikit menundukkan kepala untuk menghindari kontak mata dengan Morgan.

__ADS_1


"Apakah kalian yakin akan kembali hari ini? Mengapa tidak lebih lama lagi?"


"Kamu masih harus berkuliah, dan juga mengurus beberapa bisnis kecil kami di sana."


"Ah ya, Quinsy pernah menceritakan hal itu pada kami sebelumnya. Kami sangat bangga pada kalian semua, di usia yang begitu muda, kalian telah dapat berbisnis di kota besar."


"Terimakasih atas pujiannya Nyonya," Ucap Sonya mewakili kedua sahabatnya.


Tak ada lagi pembicaraan, yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring. Hingga sarapan telah berakhir, Tuan Karren kembali membuka perbincangan.


"Lalu kapan kalian akan menyusul Quinsy ke pelaminan?" Pertanyaan Tuan Karren membuat Morgan dan Jessy tersedak liur mereka sendiri. Jessy menggigit bibir bawahnya, tak berani bersuara sedikitpun. Sedangkan Morgan, ia seakan memberikan tatapan tak percaya pada sang Ayah.


"Apa? Bukankah ini pertanyaan wajar dari seorang Ayah seperti ku?"


"Pah, tapi ga secepat itu juga, kami baru aja dekat."


"Terus nunggu kapan lagi? Ga usah lama-lama, masa kamu kalah sama Adek bungsu kamu yang udah mau punya dua anak?"


"Udah lah Pah, Morgan bener. Mereka masih harus saling beradaptasi. Sayang, jangan lupa kasih tau Mamah kalo kamu udah siap ya?"


"Mah..." Morgan tak menyangka akan mendapatkan ceceran ledekan dari kedua orang tuanya. Ia yang biasa terlihat kalem, saat ini bahkan tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Bersambung...


♡Makasih karena kalian udah mau mengikuti novel yang kubuat...🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa like,vaforit dan komentarnya ya...😄♡


__ADS_2