
Quinsy berbaring di atas lengan suaminya, kini gadis muda itu telah benar-benar menjadi seorang istri. Glen, terus saja mengecupi pucuk kepala istrinya itu. Terbesit rasa bangga dalam hati Glen, karena telah mampu melunakan hati Quinsy, hingga gadis yang ia incar hampir setahun ini, akhirnya menyerahkan diri secara suka rela padanya.
"Apakah kau tidak lapar? Kita bersihkan diri dulu, baru turun dan ikut Papa Mama untuk makan malam bersama." Ajak Glen lembut.
"Kakiku terasa lemas. A..aku," Glen tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos Quinsy. Membuat pipi gadis manis itu makin merona.
"Oke, aku akan membantumu ke kamar mandi. Kita akan mandi bersama."
"Ma..mandi bersama?" Beo Quinsy gugup. Dapat ia bayangkan kejadian apa yang akan terjadi bila sampai mereka mandi bersama.
"Ya, kenapa? Bukan kita pernah melakukannya?"
"Em, ya, kau benar. Tapi itu akan sangat memalukan."Tutur Quinsy sambil menundukkan pandangannya.
"Apa yang harus dimalukan? Bukankah kita ini suami, istri?"
"Kau memang benar. Tapi, aku tetap saja malu." Glen mendekat dan mencium singkat bibir istrinya. Ia menjadi gemas melihat tingkah Quinsy saat ini. Ingin rasanya Glen kembali menerkam Quinsy dan membuatnya kembali mengerang seperti tadi. Sayangnya, kondisi Quinsy yang tengah hamil besar, membuat Glen harus lebih bersabar agar tidak membahayakan Quinsy dan calon bayi mereka.
"Kau harus membiasakan dirimu dengan ini, kita akan sering melakukannya." Tutur Glen dan mengangkat tubuh Quinsy menuju kamar mandi. Untungnya apa yang ditakutkan oleh Quinsy tidak terjadi. Mereka benar-benar hanya mandi dan membersihkan diri saja.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
sementara di lantai bawah, Tuan dan Nyonya Karren telah duduk di meja makan. Keduanya menikmati makan malam itu, sembari sesekali berbincang mengenai ketiga putra-putri mereka.
__ADS_1
"Di manaQuinsy?" Tanya Nyonya Karren yang tidak menemukan putri dan menantunya di meja makan malam ini.
"Ah, aku rasa dia masih tidur. Dia tadi baru pulang dari jalan-jalan, dan tertidur di mobil. Untung ada Glen yang membawanya kembali ke kamar mereka." Jelas Tuan Karren pada istrinya.
Ya, siang tadi Nyonya Karren sedang berada di rumah Miguel karena cucu pertamanya sedang rewel. Sedangkan Maya harus segera menyelesaikan pekerjaannya di butik. Jadi, Nyonya Karren memutuskan untuk menjaga sang cucu dan membawa bocah balita itu kembali ke kediaman Karren. Itulah mengapa nyonya Karren tidak mengetahui kejadian di mana Glen membawa Quinsy yang tertidur kembali ke kamar mereka sore tadi.
"Bagaimana dengan Laura? Dia udah tidur?"
"Belum, tadi masih main sama baby susternya.
Tuan Karren manggut-manggut mendengar jawaban istrinya. Keduanya terdiam sejenak hingga Glen dan Quinsy pun bergabung di meja makan itu.
"Pah, Mah, Quinsy besok akan ikut Glen kembali ke New York."
"Wah bagus! Kasian suami kamu kalo harus terus bolak-balik Jakarta-New York."
"Quinsy yakin kok, Mah."
"Kamu udah konsultasi ke dokter? Takutnya kamu masih belum boleh melakukan penerbangan."
"Belum Pah, mungkin besok aku dan Glen akan ke Dokter kandungan sekalian buat cek keadaan si twins."
"Ok. Bagaimana urusanmu di New York? Apakah ada kendala besar?"
__ADS_1
"Tidak, semuanya berjalan lancar. Hanya memang beberapa hal yang mengharuskan ku untuk turun tangan langsung."
Usai makan malam bersama, Glen menemani Quinsy mencari beberapa cemilan malam di luar. Ini adalah kebiasaan baru gadis itu. Di antara jam 10 - 01 malam, Quinsy akan merasa lapar dan bangun untuk mencari cemilan. Mereka menuju sebuah tempat yang berisikan banyak anak muda sedang menikmati angin malam sembari menajajal makanan yang di jual ditempat itu.
Glen dan Quinsy menepikan mobil mereka di pinggir jalan, lalu masuk ke tempat penjual gorengan. Keduanya membeli beberapa gorengan juga juga khas Indonesia. Banyak pemuda yang seusia Quinsy menetap kagum pada gadis cantik itu sembari berbisik-bisik.
"Eh, liat! Cewe itu cantik banget. Tapi kok kayanya udah mlendung ya?"
"Ya elah! Kalo udah mlendung berarti udah kawin. Emang lo ga liat tuh bule yang di sampingnya? Mungkin dia lakinya kali,"
"Ah, sial banget. Padahal tuh cewe tipe gue banget,"
Meskipun Glen tidak mengerti akan pembicaraan para pemuda itu, namun dari tatapan mereka pada istrinya, Glen dapat menangkap ketertarikan mereka pada Quinsy. Perlahan-lahan ia mulai mendekap mesra pinggang Quinsy. Awalnya Quinsy sempat kaget akan perlakuan Glen, tapi pria itu tersenyum manis padanya, membuat Quinsy membiarkan saja perlakuan pria itu.
Usai membeli gorengan keduanya ingin kembali ke parkiran dan segera pulang. Tapi, beberapa orang preman menghampiri Glen dan Quinsy sembari membawa senjata tajam dan balok panjang. Tanpa ada kata lagi, prema-preman itu langsung menyerang Glen, bahkan salah satunya hampir saja melukai Quinsy. Untung saja Glen dapat menahan serangan preman itu dan membuatnya terpental jauh.
"Aaaaa...! Tolong...! Tolong...! Ada perampokan..!" Teriak Quinsy ketakutan. Gadis itu sampai menangis melihat suaminya yang harus menghadapi lima orang preman bertubuh kekar dengan senjata di masing-masing tangan mereka. Tapi karena teriaknya yang begitu nyaring, orang-orang yang berada di warung penjual gorengan tadi langsung berhamburan menolong Glen. Juga kebetulan Polisi yang sedang patroli melewati tempat itu tiba, hingga membuat para preman tadi langsung lari kocar-kacir.
"Kamu ga papa? Ada yang luka?" Tanya Glen khawatir. Ia menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki istrinya, takut bila ada yang terluka. Quinsy memeluk tubuh suaminya erat, dapat Glen rasakan ketakutan pada gadis itu.
"Tenanglah. Semuanya baik-baik saja."
"Aku benar-benar takut Glen, aku takut kamu terluka."
__ADS_1
"Ia aku tau, maaf sudah membuatmu takut. Tapi aku baik-baik saja, sekarang sebaiknya kita segera kembali, Papa dan Mama pasti khawatir." Ajak Glen membawa Quinsy masuk ke mobil mereka. Ia ingin lekas sampai ke kediaman keluarga Karren dan menceritakan semua itu pada kedua orang tua Quinsy. Andai saja hal ini terjadi di negaranya, Glen tentu tidak akan melibatkan mertuanya dan membereskan masalah itu sendiri. Namun sayangnya, ini adalah negara yang asing baginya dan ia tidak memiliki kekuasaan di negara ini.
BERSAMBUNG....