
"Apakah sebelumnya kau pernah mengalami hal yang sama dengan ini?" Tanya Glen saat mereka di dalam mobil menuju pulang.
"Ya pernah, sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Dulu juga ada beberapa preman yang hampir mencelakaiku. Tapi untungnya, aku bersama dengan..." Cerita Quinsy terhenti. Ia tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Di satu sisi ia tak enak hati menceritakan pria lain di hadapan suaminya, dan di sisi lain, Quinsy tak sanggup lagi mengingat almarhum kekasih yang amat ia cintai.
"Kenapa kau berhenti? Waktu itu kau bersama siapa?" Tanya Glen penasaran. Mengapa istrinya itu enggan meneruskan ceritanya, mungkinkah itu berhubungan dngan laki-laki lain?
"Dengan Marvin, almarhum kekasihku." Jawab Quinsy lirih.
Kini Glen tau mengapa Quinsy tidak melanjutkan ceritanya. Glen menepikan mobilnya, dan melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Perlahan pria itu membawa Quinsy ke dalam dekapan hangatnya. Sulit memang menghapus seseorang yang sudah sangat lama mendiami relung hati kita. Dan Glen tau jelas bagaimana rasanya itu. Sebab hingga kini, ia masih belum dapat melupakan almarhumah kekasihnya yang sudah meninggal lima tahun lalu.
"Tak apa. Aku tau perasaanmu. Kau tak perlu melupaknnya, kau hanya harus membuka hatimu untukku. Kita adalah sepasang suami istri sekarang. Dan aku harap, tidak ada lagi yang harus kita tutup satu sama lain."
Quinsy mendongak menatap wajah Glen, di sana telah terpampang mata teduh yang selalu membuat tenang relung hatinya. Mata yang mampu membuatnya merasakan debaran yang sama ketika ia bersama dengan almarhum Marvin.
Saat mereka tiba di kediaman Karren, Glen langsung membawa istrinya masuk ke kamar mereka dan menyuruh Quinsy untuk segera istirahat. Sementara dirinya pergi menemui Tuan Karren di ruang keluarga untuk membahas masalah orang-orang yang menyerang mereka di warung gorengan tadi.
Tok..tok..tok
"Maaf mengganggu waktumu Pa," Ucap Glen lalu melangkah masuk. Tuan Karren yang tadinya ingin meninggalkan ruang kerja kembali duduk di kursinya semula.
__ADS_1
"Ada apa Glen?"
"Aku dan Quinsy mengalami penyerangan sewaktu berbelanja cemilan di luar tadi."
Tuan Karren membelalakan kedua matanya, tangan tuanya bahkan mengepal kuat. Ia bangkit dan menghampiri Glen yang berdiri di hadapannya.
"Lalu apakah Quinsy terluka?"
"Dia baik-baik saja. Untungnya ada beberapa warga yang menyelamatkan kami dan juga Polisi yang berpatroli datang tepat waktu. Sehingga tidak ada hal buruk yang menimpa Quinsy." Jelas Glen dan membuat Tuan Karren bernafas lega.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau terluka?" Kini Tuan Karren menanyakan keadaan Glen dengan raut cemas.
"Kau tak perlu risau. Ini adalah tanggung jawabku sebagai orang tua kalian. Bisakah kau menceritakan kronologi kejadian tadi padaku?"
Glen menceritakan dari awal dirinya dan Quinsy tiba di tempat itu hingga mereka memutuskan untuk kembali, lalu penyerangan itupun terjadi begitu saja tanpa ada perkataan apapun layaknya pemerasan atau perampokan yang biasa terjadi. Tuan Karren mencerna satu per satu kalimat yang keluar dari mulut Glen. Pria tua itu akhirnya tau, bila hal ini pasti bukanlah pemalakan atau pun perampokan. Atau lebih tepatnya, kejadian ini lebih mengarah ke pembunuhan. Entah itu targetnya adalah Quinsy atau Glen sendiri, yang jelas Tuan Karren telah dapat menemukan siapa pelaku di balik semua ini. Hanya saja, ia masih memerlukan bukti agar dapat melakukan serangan balik pada orang tersebut.
"Baiklah! Aku sudah dapat menemukan siapa dia. Sebaiknya kau pergilah beristirahat, masalah ini akan kita bicarakan besok pagi."
Glen mengangguk dan berlalu pergi dari ruang kerja Tuan Karren. Ia memang amat memerlukan berbaring di ranjang empuk untuk merelaksasikan tulang-tulangnya yang terasa kaku. Dan yang paling ingin ia lakukan adalah, segera memeluk tubuh wangi sang istri.
__ADS_1
Setibanya di kamar mereka, Glen melihat Quinsy yang duduk sembari menatap ke luar jendela. Angin yang menerpa wajah gadis itu membuat rambut-rambutnya yang tidak terikat beterbangan. Dan itu menambah kesan seksi Quinsy dan mata Glen, hingga membuatnya ingin segera melahap leher jenjang itu yang seakan memanggil-manggil dirinya. Perlahan Glen berjalan mendekat, ia mengecup punggung Quinsy yang tidak tertutup piamanya.
"Ada apa, hem?"
"Aku akan merindukan suasana di sini saat kita kembali ke New York besok."
Glen membalikkan tubuh Quinsy untuk menghadap kepadanya. Ia memegang dagu gadis itu dan mengecup bibir mungil Quinsy singkat.
"Kau tahu kita tidak perlu kembali ke New York jika kau tak menginginkannya. Sebentar lagi pun perusahaan baru akan dibangun di negara ini."
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin melihatmu kelelahan setiap kali pulang dari luar negeri." Glen tersenyum dan memeluk erat tubuh Quinsy. "Terima kasih untuk pengertianmu I love you."
Quinsy hanya tersenyum manis untuk membalas ucapan pria itu. Glenn sangat sering mengucapkan kata-kata itu namun tak pernah sekalipun Quinsy membalasnya. Bukan Quinsy tidak ingin membuka hati untuk Glen namun, ia belum yakin akan perasaan yang ia rasakan. Bagi Quinsy, kata I love you bukan hanya di bibir belaka, melainkan juga harus berasal dari hati. Karena itu akan menjadi pondasi kokoh bagi rumah tangga mereka.
Begitu pula dengan Glenn, ia tidak ingin memaksakan kehendaknya agar Quinsy dapat membalas perasaannya. Ia ingin Quinsy mengucapkan kata I love you tulus dari hatinya, bukan karena paksaan, ataupun status yang mereka jalani. Melainkan memang benar-benar perasaan yang ia rasakan padanya.
"Masuklah! Angin di luar tidak baik untuk kesehatanmu. Besok siang kita harus berangkat. Bila kau sakit, perjalanan ini akan kembali tertunda." Ucap Glen seraya membawa Quinsy masuk dan menutup jendela.
BERSAMBUNG...
__ADS_1