TARUHAN BERHADIAH CINTA

TARUHAN BERHADIAH CINTA
RENCANA QUINSY


__ADS_3

Tak terasa seminggu sudah lamanya Quinsy berada di sebuah pulau pribadi milik Glen. Di sana, ia sama sekali tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. Quinsy hanya bisa menonton acara di televisi atau berjalan-jalan di sekitar pantai.


Harus Quinsy akui, tempat itu memanglah sangat indah. Tapi, apalah arti keindahan itu, bila ia tidak dapat menghubungi orang-orang yang dia cintai di luar pulau.


Glen menggunakan sebuah helikopter untuk keluar masuk pulau itu. Begitu juga dengan orang-orang yang akan mengantarkan bahan makanan pada mereka.


Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri, bahkan untuk sekedar memberikan informasi pada keluarganya pun Quinsy tidak diperbolehkan.


Selama satu minggu Quinsy berada di pulau pribadi milik Glen, selama itu pula lenyapnya senyum indah dari wajah gadis cantik itu. Bahkan tubuh Quinsy kini berangsur-angsur kian mengecil. Begitu pula dengan kondisi kesehatannya yang kian menurun.


Para penjaga yang di perintahkan oleh Glen untuk menemani Quinsy di sana pun menjadi panik. Mereka memberitahukan kondisi Quinsy saat ini pada Glen.


Mendengar hal itu, Glen yang sedang melakukan rapat dengan para stafnya pun langsung menghentikan rapat dan bergegas kembali ke pulau bersama dengan seorang Dokter wanita muda.


Beberapa jam kemudian, sebuah helikopter mendarat di tepi pantai dan turunlah tiga orang dari dalam helikopter tersebut.


Para pelayan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Glen dan dua orang lainnya.


"Di mana dia sekarang?"


"Nyonya ada di dalam kamarnya Tuan, dia seharian ini tidak makan sama sekali."


Glen berlari menuju kamar Quinsy, di sana sudah berbaring tubuh si gadis yang di cintainya. Perlahan Glen menangkap telapak tangan Quinsy dan menciuminya dengan penuh kelembutan.


"Periksa dia!"


Sang Dokter wanita itu pun mulai mengecek kondisi tubuh Quinsy saat ini.


"Dia demam tinggi dan kekurangan gizi, tubuhnya sangat lemah. Ini bisa membahayakan kondisinya bila terus dibiarkan."


"Siapa yang bertugas menjaga Quinsy hari ini?"


Tiga orang pelayan wanita muda melangkah maju dengan tertunduk. Ketiga wanita itu tau apa yang akan Tuan mereka lakukan pada mereka.


"Ka..kami Tuan!"


"Keluar, dan minta Joseph untuk memberi hukuman pada kalian!"


Ketiga wanita itu kemudian membungkuk dan berlalu pergi. Glen kembali menatap wajah Quinsy yang semakin tirus saja setiap harinya.


"Lakukan yang terbaik! Aku mau dia kembali sembuh."

__ADS_1


Dokter wanita itu segera mengeluarkan cairan infus dan memasangkannya pada pergelangan tangan Quinsy. Ia juga menyuntikkan sebuah vitamin agar merangsang nafsu makan gadis si muda.


Setelah selesai memasangkan infus, Dokter wanita itu lalu undur diri dan meninggalkan Glen bersama Quinsy. Dapat dia lihat, betapa Glen sangatlah mengkhawatirkan kondisi gadis cantik itu.


"Kak Morgan, Quinsy kangen..." gumam Quinsy di tengah tinggi suhu tubuhnya.


"Lekaslah sembuh! Maaf aku yang sudah membuatmu menderita."


Glen tak melepaskan genggaman tangannya pada Quinsy, ia terus menjaga gadis itu sepanjang hari. Hingga mata hitam legam nan cantik milik Quinsy perlahan terbuka. Glen tersenyum dan memeluk erat tubuh Quinsy.


"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah kau lapar? Aku akan meminta para maid untuk membawakannya kemari."


Quinsy hanya bisa menggeleng lemah, gadis muda itu telah kehilangan semangat hidupnya.


"Katakan apa yang kau inginkan, selain keluar dari pulau ini dan menghubungi orang luar maka, akan aku kabulkan."


Quinsy terdiam sesaat, ia berpikir pilihan apa yang harus di ambilnya agar dapat keluar dari pulau itu tanpa membuat Glen curiga. Hingga ia mendapatkan sebuah ide, Quinsy mengangkat wajahnya dan menatap mata Glen.


"Bolehkah aku melihat Kakakku? Dari jauh saja, aku janji tidak akan melarikan diri."


Glen nampak mempertimbangkan permintaan Quinsy. Permintaan gadis itu terlalu beresiko, tapi Glen juga tidak tega membiarkan mata cantik gadis itu kembali bersedih.


Quinsy tersenyum dan mengangguk, wajah berseri itulah yang selalu dirindukan oleh Glen.


"Kalau begitu lekaslah makan agar kondisimu juga lekas membaik. Kita akan segera melihat keadaan Kakakmu di kota."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Morgan dan Miguel, Kakak-kakak dari Quinsy saat ini tengah melakukan usaha pencarian terhadap sang Adik bungsu. Setiap sudut kota telah mereka telusuri. Mulai dari hotel, tempat hiburan, bahkan seluruh bandara juga telah mereka koreksi, takut-takut sang Adik meninggalkan kota New York secara diam-diam.


"Bagaimana bila sampai minggu depan kita tidak dapat menemukan Quinsy? Papah baru saja melakukan transplantasi jantung, bila ia mendapat kabar buruk seperti ini, bukankah akan mempengaruhi kesehatannya?" Tanya Morgan dengan penuh kegusaran.


Miguel yang duduk di sisinya juga menjadi ikut gusar. Entah harus bagaimana lagi cara agar dapat menemukan sang Adik, bahkan detektif bayaran nomor satu yang mereka sewa pun belum juga mendapatkan hasil.


Tiba-tiba ponsel di saku Miguel berdering, itu adalah panggilan dari istrinya Maya.


"Ya, sayang,"


"Gimana? Udah ada perkembangan tentang keadaan Quinsy?"


"Belum, sampai sekarang, keberadaan Quinsy masih belum menemukan titik terang."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Maya menjadi makin gusar, ia pun menyampaikan kabar mengejutkan untuk sang suami.


"Ya Tuhan, Papah dan Mamah akan ke New York beberapa hari lagi. Mereka bilang mau kasih kejutan buat Quinsy."


"Apa? Ok, makasih untuk infonya. Gimana princess kecil kita? Dia gak rewel kan?"


"Dia emang agak rewel beberapa malam ini, mungkin kangen sama Papanya."


"Maafin aku ya sayang, aku masih belum bisa pulang saat ini." Terdengar nada penyesalan dari bibir Miguel. Ini kali pertama, ia berjauhan dari anak dan istrinya.


"Gak papa sayang, Quinsy saat ini jauh lebih penting. Dia juga Adikku sekarang, jadi kamu harus berusaha buat nemuin dia."


Miguel tersenyum senang mendengar ucapan sang istri. Maya memanglah wanita yang berhati baik, dia gadis yang mandiri dan pengertian. Itulah mengapa Miguel amat mencintainya.


"Ok, kalo gitu aku tutup dulu. I love you sayang."


"Love you too.."


Panggilan di akhiri, Miguel memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


"Kata Maya, beberapa hari lagi Papah dan Mamah mau datang, mereka mau kasih kejutan buat Quinsy."


Morgan yang semula acuh akan pembicaraan yang di lakukan Kakaknya dan istri, kini menatap tak percaya setelah mendengar ucapan lelaki itu.


"Apa?! Astaga..!" Desis Morgan dan spontan berdiri. Ia bahkan ikut memijat kepalanya yang terasa pening seketika.


"Kita harus memperluas wilayah pencarian pada Quinsy. Pokoknya sebelum Mamah dan Papah tiba di sini, Quinsy sudah harus ditemukan."


"Aku juga berharap begitu, tapi bagaimana? Semua usaha yang kita lakukan belum juga membuahkan hasil. Intinya, kita juga harus menyediakan rencana cadangan, bila sampai saat Mamah dan Papah sudah ada di sini dan Quinsy belum juga ketemu."


BERSAMBUNG....


☆☆☆halo readers...


tekan like dan jadikan favorit ya...


jangan lupa kunjungi novelku yang lain juga ya...


dijamin ga kalah seru deh!


judulnya cold hearted a girl,what's wrong with my bos dan istri masa depanku☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2