
Prang..!
Suara guci yang pecah setelah Glen tidak sengaja menabraknya. Glen pulang dengan keadaan babak belur dan juga tubuh yang berbau alkohol. Hampir setiap hari, Glen akan selalu pulang seperti itu. Kondisi Glen yang seperti ini, tentu membuat kedua orang tuanya menjadi merasa bersalah.
"Glen, kenapa kau selalu seperti ini, sayang? Mommy mohon berhentilah Glen. Kau bisa merusak dirimu sendiri bila terus begini." Ucap Nyonya Hemsworth yang kebetulan baru saja tiba setelah kembali dari perjalanan bisnisnya. Wanita cantik itu, membantu putra satu-satunya untuk menaiki tangga dan menuju kamarnya di lantai dua.
"Glen, berhentilah menyiksa dirimu seperti ini. Mommy akan terus membantumu untuk menemukan keberadaan Quinsy."
"Quinsy membenciku Mom. Kenapa dia meninggalkanku dan pergi bersama buah cinta kami?" Racau Glen, dan terus mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri. Tuan Hemsworth yang melihat tingkah putranya itu berjalan mendekat.
"Sadarlah Glen. Apakah dengan kau melakukan ini semua Quinsy akan kembali kepadamu? Justru bila ia melihatku seperti ini, Quinsy akan semakin membencimu."
"Dia sudah membenciku, Dad. Dia sudah sangat membenciku."
"Dan itu semua karena kebodohanmu! Andai saja kau bisa bersikap layaknya seorang pria sejati, Quinsy tidak mungkin pergi meninggalkanmu." Glen menatap wajah sang Ayah dalam. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Ayahnya itu.
"Apa maksud ucapanmu, Dad? Apakah kalian mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya dariku?"
__ADS_1
Ruang dan Nyonya Hemsworth saling pandang. Karena terlalu emosi bercampur sedih, Tuan Hemsworth sampai tidak dapat lagi mengontrol ucapannya.
"Quinsy meninggalkanmu setelah dia tau kau ingin membawa Dania kembali. Dia mendengar semua pembicaraan kalian saat berada di kota T."
Bagaikan terjatuh dari tempat tinggi, Glen mendengar ucapan Ayahnya. Sekarang dia tau mengapa Quinsy sampai pergi meninggalkannya tanpa sebab. Barulah Glen ingat pertanyaan terakhir sang istri sebelum dia menghilang.
"Aaaargh...!! Aku memang bodoh. Seharusnya aku menyadari itu. Kau bodoh Glen! Kau pria bodoh! Aaaargh...!"
Emosi Glen bercampur dengan kesedihan, dia amat membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga hati wanita yang ia cintai. Glen terus menghantamkan kepalanya ke dinding. Tuan dan Nyonya Hemsworth bahkan tidak bisa menahan tubuh putranya yang terus meronta dan menyakiti diri sendiri.
"Dad, lakukan sesuatu. Bila terus seperti ini, putra kita akan mati."
"Apa yang harus kita lakukan, Dad? Apakah kita akan terus membiarkan Glen terjebak dalam perasaan bersalah?"
Tuan Hemsworth terdiam, ia sebenarnya juga amat menyayangi putranya itu. Tetapi ia pun tidak tega, bila harus melihat Quinsy kembali tersakiti akibat ulah putra mereka.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
__ADS_1
Saat Tuan dan Nyonya Hemsworth tidak berada di pulau, kedua orang tua Quinsy lah yang menemani putri bungsu mereka dalam merawat bayi kembarnya. Meski Quinsy tidak pernah membicarakan masalahnya dan Glen, tetapi sebagai seorang Ibu, Nyonya Karren tentu tahu bila putrinya itu sedang merindukan suaminya.
Memang dalam masa seperti ini, kehadiran sang suami akan meringankan sedikit beban bagi para istri. Meskipun anggota keluarga tidak pernah membiarkan Quinsy sendirian, tetapi kasih sayang dan cinta yang mereka berikan tetaplah berbeda.
"Sayang, apa ga sebaiknya kamu temuin Glen? Dia juga berhak tau tentang kelahiran anak kalian."
Quinsy berhenti sejenak untuk membuatkan sebotol susu untuk putri kecilnya. Akibat melakukan persalinan dini, Quinsy tidak dapat memproduksi air susu dengan baik. Ditambah lagi, ia memiliki dua orang bayi yang membutuhkan asupan nutrisi. Jadi, mereka menambahkan susu formula untuk membantu tumbuh kembang putra dan putri Quinsy.
"Aku, masih belum siap, Mah. Aku sudah cukup nyaman dengan keadaan yang sekarang."
Nyonya Karren, hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tidak dapat memaksakan kehendak putrinya. Nyonya Karren, tetap harus menjadi penengah di antara keduanya, meski ia pun tau bila Glen telah menyakiti hati putri tercintanya. Hanya saja Nyonya Karren yakin, bilas Glen pasti memiliki alasannya tersendiri. Dan masalah di antara mereka, hanyalah kesalahpahaman saja.
"Kamu pergi mandi aja. Biar Mamah yang buat ini buat Azella."
Quinsy mengangguk kemudian meninggalkan dapur dan menuju kamar mandi. Di sana, ia menatap wajahnya dan merenungkan apa yang ibunya barusan katakan.
Tetapi bayangan saat Glen mengakui wanita lain sebagai kekasihnya, juga sikap perhatian Glen pada wanita itu, membuat hati Quinsy kembali teriris. Biar bagaimanapun, Quinsy hanyalah wanita biasa yang tidak akan pernah sanggup untuk berbagi kasih dengan wanita lain. Meskipun dia tau, bila wanita itu adalah orang yang Glen sebenarnya cintai, tetapi cinta yang telah bersemi, amatlah sulit untuk dicabut kembali. Dan kini, akar-akar cinta itu, telah menancap jauh ke dalam lubuk hati Quinsy dan mencengkram kuat di sana.
__ADS_1
BERSAMBUNG…